Aloooo
SatriaSekar is backk!! Hehehe
Terimakasih yang sudah mampir dan tap love, semoga suka dan betah nemenin kisah SatriaSekar sampai akhir yaaww.. lop lop sekebon deh xixixixi
HAPPY READING..!!!
“Kau cantik saat tidur”. Seru Satria saat melihat wanita didepannya ini mulai sadar dari tidur panjangnya.
“AAAAAAAAA!!!!”. Teriak Sekar ketika membuka mata dan langsung melihat Satria sudah berada didepannya menopang dagu sedang memperhatikan dirinya saat tidur.
Satria yang mendengar teriakan Sekar hanya menutup telinganya menggunakan jari telunjuknya.
“Ck! Kau berisik sekali”. Ujar Satria santai.
Sekar terbangun dari tidurnya dan langsung duduk menarik bedcover melindungi dirinya sendiri. Menatap tajam kearah Satria yang masih setia berbaring disampingnya. Bahkan sekarang pria itu melipat Kedua tangannya dibawah kepala tanpa rasa berdosa.
“KAU! NGAPAIN DISINI!”. Bentak Sekar melihat tingkah santai Satria.
“Ini rumahku kalau kau lupa”. Jawab Satria santai tetap memejamkan matanya.
“Kalau gitu pulangkan aku dari sini!”.
“Berarti kau menyetujui syarat yang aku berikan?”. Tanya Satria.
“Syarat yang mana? Kau tidak memberiku syarat apapun!”.
“Menikah denganku. Itu syaratnya kalau kau mau keluar dari sini. Tapi kau menolak kesempatan itu, Ck! Sayang sekali”. Jawab Satria.
Sekar yang mendengarkan penuturan Satria segera memukul pria itu menggunakan bantal yang ia gunakan untuk tidur, namun belum sampai bantal itu menyentuh wajah Satria, pria itu sudah menangkisnya lebih dulu.
“Jadi bagaimana, tertarik?”. Tanya Satria lagi menaik turunkan alisnya menggoda Sekar. Taukah Sekar bahwa menggoda wanita itu menjadi kesenangan tersendiri bagi Satria.
“Dalam mimpimu!”. Ketus Sekar sambil turun dari tempat tidur menjauh dari Satria. Dia takut kalau Satria akan melakukan hal-hal aneh lainnya, seperti ciuman yang kemarin mungkin. Pikir Sekar.
“Didalam mimpiku kita menikah, hidup bahagia, dan kau selalu ketagihan untuk ku sentuh, lalu mempunyai anak 10 dan bersama hingga tua.. huuu menarik sekali, bagaimana? Masih tidak ingin?”.
“Kau akan mendapatkan hal yang lebih nikmat lagi daripada ciuman yang kemarin”. Lanjut Satria berbisik sambil mengerlingkan matanya kepada Sekar.
“Selain sinting, dan gila kau juga pria m***m!!”. Sentak Sekar yang langsung meninggalkan Satria. Wanita itu memilih pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya. Tidak lupa ia mengunci pintu kamar mandi bahkan wanita itu sampai menahan pintu tersebut menggunakan kursi yang ada didalam kamar mandi.
Satria tertawa melihat reaksi Sekar. “APA KAU MAU AKU MENEMANI MU MANDI SAYANG?”. Teriak Satria disela tawanya didepan pintu kamar mandi. Dan hal itu didengar oleh Sekar yang berada didalamnya.
Buughhh!!
“ENYAHLAH KAUU SATRIAA!!”. Teriak Sekar sambil melempar botol shampoo kearah pintu dan hal itu berhasil membuat Satria kembali tertawa.
Suara pintu kamar mandi terbuka, Sekar telah selesai dengan ritual mandinya. Wanita itu masih mengenakan bathrobe dan handuk dikepala untuk menutupi rambut basahnya.
“Kau sudah selesai? Cepat kemari, sarapan sudah datang”. Seru Satria tanpa melihat kearah Sekar, pria itu masih sibuk dengan ponsel genggamnya. Karena tak ada jawaban Satria mengalihkan pandangannya pada Sekar.
“Waw! Kau menggodaku?”. Goda Satria menaik turunkan alisnya dan memainkan lidahnya diatas bibir.
“Ck! Otakmu itu isinya m***m semua ya! Pergilah dulu aku ingin berganti pakaian!”. Seru Sekar. Sialnya dia lupa untuk membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi. Toh Sekar juga tidak tau akan jadi begini karena pria itu tiba-tiba datang dan sudah ikut berbaring dengannya.
“Ada wardrobe sayang”. Jawab Satria menunjuk ruang wardrobe dengan dagunya.
“Aku nggak mau. Nanti kau mengintip! Cepatlah keluar!”. Sekar menarik lengan Satria, memaksa pria itu untuk pergi dari kamar karena dia ingin segera berganti pakaian dan memakan sarapannya. Berhadapan sama Satria membuatnya kehilangan banyak energi dan harus segera diisi kembali.
“Dan lagi, berhenti memanggilku sayang!”. Sentak Sekar sambil membanting daun pintu.
Daarrr!!
Pria itu mengerutkan wajahnya geram karena Sekar lagi-lagi berani bersikap kurang ajar kepadanya.
Satria menurut. Pria itu mengalah dan keluar dari kamar tidur Sekar. Padahal Satria sudah sangat lapar, karena dia sama sekali belum menyantap apapun dari tadi malam hingga sekarang. Sudah 10 menit berlalu tapi tak ada pergerakan dari dalam kamar.
Tok tok tok..
“Sekar sudah siap belum? Perutku sudah minta diisi!”. Panggil Satria dari luar kamar.
Tak ada jawaban.
Tok tok tok...
“Aku buka pintunya yaa!”. Lagi teriak Satria sambil membuka pintu kamar.
”Wahhh kau benar-benar perempuan..”. Seru Satria sambil menunjuk-nunjukan jarinya kearah Sekar.
Sedang Sekar hanya mengendikkan bahunya santai. Wanita itu sudah menyantap sarapan paginya dengan tenang. Ia sengaja tidak memberitahu Satria kalau kegiatannya berganti pakaian sudah selesai dari 10menit yang lalu. Biarkan saja Satria pikir cuman dia yang bisa seenaknya. Pikir Sekar.
Satria langsung mendudukkan bokongnya di kursi yang ada didepan Sekar, langsung menyantap sarapan paginya yang tertunda. Lebih baik makan terlebih dahulu, mengomeli Sekar nanti saja. Satria juga butuh tenaga untuk terus menggoda Sekar.
“Aku ingin jalan-jalan, menghirup udara segar! Terkurung disini lama-lama aku bisa mati kebosanan”. Seru Sekar ditengah kegiatannya mengunyah makanan.
Satria hanya memandangi Sekar, belum memberi respon terhadap pernyataan wanita didepannya ini.
“Lagi pula sayang sekali punya pemandangan bagus tapi tidak bisa dinikmatin. Hutan belakang rumahmu juga sepertinya seru”. Lanjut Sekar masih berusaha merayu Satria agar membawanya keluar.
“Ini villa bukan rumah, dan dibelakang itu bukan hutan tapi memang sengaja ditanami beberapa pohon besar biar rindang”. Jelas Satria yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Sekar.
“Baiklah. Selesai sarapan kita bisa jalan-jalan sebentar, cuaca pagi ini juga masih segar”. Seru Satria akhirnya yang menyetujui permintaan Sekar, kasihan juga wanita ini sudah seminggu lebih terkurung tanpa melihat dunia luar.
“Yes!”. Seru Sekar girang.
Satria hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sekar seperti seorang anak kecil yang diberi permen coklat satu keranjang.
**
satria benar-benar menepati janjinya membawa Sekar berkeliling halaman villa. Pemandangan yang sangat asri, ditambah suasana pagi ini tidak terlalu panas.
“Ini villa keluargamu?”. Tanya Sekar saat mereka sudah sama-sama berada dihalaman.
Satria menghampiri Sekar yang berada didepannya meraih tangan wanita itu untuk dia genggam. Sekar kaget dengan tindakkan Satria yang tiba-tiba. Sekar juga tidak menepiskan tangannya, toh kalau dia menolak Satria tetap akan memaksanya jadi sama saja.
”Tidak, villa pribadiku. Kedua orang tuaku tidak tahu menau tentang villa ini”. Jawab Satria.
Sekar memutar bola matanya malas. “Pantas saja kau bisa menyembunyikanku disini”. Seru Sekar.
“Apa kau juga menyimpan wanita-wanitamu yang lain disini?”. Tanya Sekar lagi. Entah kenapa Sekar sedikit penasaran tentang itu.
Satria menghentikan langkahnya sontak hal itu juga membuat Sekar melakukan hal yang sama. Sekar menatap kearah Satria yang tiba-tiba berhenti, sedang pria itu menatap Sekar dalam. Satria raih rambut Sekar yang sedikit menutupi wajahnya akibat terkena hembusan angin dan menyalipkannya di belakang telinga wanita itu.
“Kau yan pertama”. Ucap Satria mentapa lurus kemata Sekar.
Jika saja Satria adalah pria yang waras mungkin saat ini Sekar benar-benar bisa jatuh cinta pada pria didepannya ini. Karena saat ini jantung Sekar berdetak lebih kencang dari biasanya. Apalagi setelah pria ini berhasil mencuri ciuman pertamanya. Sikap Sekar yang terkesan ketus sebenarnya bentuk perlindungan dirinya agar tak jatuh dalam jeratan CEO sinting ini.
Satria menangkup pipi Sekar dengan tangan kanannya saat pria itu sudah mendekatkan wajahnya dan ingin kembali mencium bibir penuh Sekar. Tiba-tiba saja ditahan oleh wanita itu.
“Eehh! Aku habis makan jengkol, mulutku bauk!”. Seru Sekar berbohong sambil mendorong d**a Satria dan meninggalkan Satria dalam lamunannya.
“Sejak kapan chef di villaku memasak menu jengkol?”. Bisik Satria pada dirinya sendiri. Tak lama Satria menyusul langkah Sekar yang tak begitu jauh didepannya.
“Berarti kalau wangi aku boleh menciumnya lagi?”. Tanya Satria.
Sekar membalikkan badannya dan menatap kearah Satria saat mendengar penuturan pria itu.
“Dasar wong gendeng!”. Ucap Sekar yang mungkin tidak akan didengar oleh Satria.
Sudah 30menit mereka berjalan menelusuri halaman belakang yang dibuat seola-olah hutan padahal tidak benar-benar hutan. Terdapat beberapa jejeran pohon pinus yang semakin membuat puas mata memandang, hamparan hijau dan pohon-pohon seperti ini jarang bisa ditemui di pusat kota. Dan sedari tadi mereka pergi, perjalanan mereka tidak hanya ada mereka berdua saja. Ada 3 bodyguard yang berjarak 5meter dari Satria Dan Sekar berada yang senantiasa mengikuti kemana mereka melangkah.
“Sialan banget! Kenapa musti ada bodyguardnya sih. Udah susah payah dapetin kesempatan ada diluar! Gimana yaa. Aaaaa oke!”. Batin Sekar.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Sekar meminta untuk di ajak jalan-jalan keluar. Sekar ingin mengambil kesempatan ini untuk kabur dan melarikan diri dari Satria.
“Aku kebelet pipis”. Rengek Sekar dengan menunjukkan eye puppynya demi aktingnya yang sempurna.
“Kita terlalu jauh dari villa, masih bisa ditahan?”. Tanya Satria yang sudah melihat Sekar seperti cacing kepanasan.
“Sudah tidak! Aku pipis disebalik pohon besar itu saja! Pipisnya sudah diujung!”. Jawab Sekar menambah aktingnya dengan menyilangkan kaki pertanda darurat.
Satria mengerutkan alisnya, pria itu sama sekali tidak curiga dengan tingkah Sekar.
“Ya sudah, segeralah. Jangan terlalu jauh”. kata Satria memberi izin.
Sekar bergegas lari menuju salah satu pohon besar yang ada disana. Dia tidak benar-benar ingin buang air kecil, ini adalah serangkaian rencananya untuk mecoba kabur dari Satria.
“Uwaah jantung gue deg degan mampus, udah nggak keliatan deh kayanya”. Seru Sekar sesaat setelah sampai dibalik pohon besar.
“Hah huh hah huh yaallah ayah ibuk doain Sekar. Apa sendalnya gue copot aja ya biar nggak ada suara langkah kakinya.. Bismillah”. Ucap Sekar pada dirinya sendiri sambil melepas sandal yang ia gunakan. Sekar melihat kearah sebalik pohon sebelum benar-benar pergi dan terlihat Satria sedang asyik dengan gawainya dan 3orang bodyguard yang menemani pria itu.
Setelah memastikkan keadaan aman. Sekar mulai melangkahkan kakinya perlahan dan mulai berlari kecil, sesekali Sekar melihat kebelakang memastikkan bahwa dia sedang tidak diikuti dan tak ada yang mengetahui pelariannya ini.
Satria mulai tersadar bahwa Sekar belum juga kembali datang menghampirinya setelah pamit ingin buang air kecil.
“Ini sudah 5menit. Masak pipis doang 5menit”.
“SEKAR..”. Teriak Satria menghadap pohon besar yang tadi ditunjuk oleh Sekar.
Tak ada jawaban. Satria melihat kearah ketiga bodyguardnya dan ketiga pria berbadan besar itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Sialan!”.
“Cepat kalian cari!!”. Sentak Satria saat sadar dirinya sudah ditipu oleh wanita bertubuh kecil itu.
“Nona Sekar tidak ada disini bos, hanya sendalnya saja yang tertinggal”. Ucap Agung salah satu bodyguardnya yang telah sampai disebalik pohon besar itu.
“Cari sampai dapat! Dia nggak akan bisa lari jauh dari sini!!”. Perintah Satria sambil menghubungi seseorang dari ponselnya.
“Cegah wanita itu jika kau melihatnya. Dia berusaha kabur!”. Perintah Satria pada orang yang berada disebalik panggilan ponselnya.
“Kau ingin kabur rupanya. Kita liat sejauh mana kau bisa kabur dariku!”. Seru Satria dengan nafas memburu rahangnya yang tegas semakin mengetat, tangannya yang sudah mengepal kuat semakin memperlihatkan jalinan urat dan otot yang sempurna.
“Hah hah gueeh udah dimana yahh, bukannya berhasil kabur malah nyasar lagi!”. Seru Sekar yang ngos-ngosan akibat berlari tiada henti.
Pucuk dicinta ulam pun tiba seperti itulah Sekar ketika melihat gerbang yang tak terlalu besar yang terletak tak jauh berada didepannya. Sekar semakin mempercepat larinya. Saat sudah akan sampai di gerbang tersebut Sekar di kagetkan dengan kehadiran 2 pria. Dia yang awalnya tidak berpikir bahwa mereka merupakan salah satu anak buahnya Satria, Sekar dengan keadaan ngos-ngosan meminta tolong kepada 2 pria tersebut.
“Pakh! Tolongin, tolongin saya, sayah diculikhh”. Seru Sekar terbungkuk-bungkuk mencoba menetralkan nafasnya yang masih terengah-engah.
Dua pria tersebut yang tadi sudah diberitahu oleh bosnya bahwa wanita yang selama ini ada di villa berusaha kabur hanya memandangi Sekar. Mereka saling tatap seolah sedang berbicara lewat tatapan mata dan menganggukan kepala.
“Baik nona, nona bisa ikut bersama kami”.