18. Ingin bebas? Menikah denganku!

1427 Kata
Hola holaaa Gimanaa masih betahkan nunggui SatriaSekar? Betahh dongggg xixixi. Sekali lagi aku ingatkan emang alur ceritanya terkesan lambat yaa ges yakk, tapii aku jaminn makin seruwww jadi kalian temenin terus kisah SatriaSekar sampai akhir. Jgn lupa tap ♥️ nya. Tilimikici xixixi HAPPY READING..!! Tanpa curiga sedikitpun, Sekar dengan hati mengikuti 2 pria yang tadi ia temui. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dia berhasil kabur dari Satria. Benarkah Sekar berhasil kabur?!. Salah satu anak buah Satria yang tak diketahui oleh Sekar itu berjalan dibelakang wanita itu. Pria tersebut diam-diam sudah menghubungi bosnya dan memberi kabar bahwa mereka menemukan Sekar yang berusaha kabur lewat gerbang belakang villa. Satria yang mendapat kabar bahwa Sekar telah ditemukan langsung berlari menghampiri titik dimana wanita itu berada. Nafasnya memburu, ia pikir dia terlalu lunak terhadap Sekar membuat wanita itu berpikir bisa bermain-main dengannya. Kali ini bisa Satria pastikan Sekar tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Sekar yang saat ini sedang berjalan pelan sesekali memperhatikan kearah belakangannya. Takut-takut Satria akan segera menemuinya, lagi pula dua pria ini akan membawanya kemana? Kenapa jalan mereka lambat sekali seperti siput! Kalau gini ceritanya Sekar bakal tertangkap oleh Satria. “Eemm anu pak, kayanya saya jalan sendiri aja deh nggak perlu diantar. Makasih”. Ujar Sekar karena dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kedua anak buah Satria beradu pandang dengan hanya saling menatap lagi-lagi mereka sedang berbicara lewat tatapan mata. Saat Sekar hendak melewati pria yang ada didepannya tiba-tiba saja kedua pria tersebut langsung mencengkram kedua lengan Sekar dan menahan wanita itu untuk pergi. Sekar tersenta kaget. “Bodoh! Kenapa aku nggak ngeh sihh”. Batin Sekar ketika kecerobohannya. “Loh loh pak! Pak apaan-apaan! Lepasin pak lepasin!”. Seru Sekar yang mulai panik. Sekarang dia tersadar kenapa kedua pria ini tak bertanya oleh siapa dia diculik. Itu karena mereka tau siapa Sekar dan kenapa wanita itu bisa ada disini. Sekar Berusaha melepaskan diri dari genggaman dua pria dikanan kiri lengannya. “SEKAR!!”. Sekar terkesiap mendengarkan suara itu. Tubuhnya menegang seketika, tak usah ditanya lagi siapa pemilik suara berat yang memanggilnya barusan. Sekar memejamkan matanya kuat dan melipat mulutnya. “Game over”. Batin Sekar. Satria berdiri tepat didepan wanita yang barusaja berusaha kabur darinya ini. Menatap tajam kearah Sekar, meraih wajah wanita itu dan mencengkram kuat pipinya. Membuat Sekar menatap wajah Satria. Terlihat tak ada wajar ramah dari pria itu. “Kau! Mau bermain-main denganku? Kau pikir semudah itu untuk bisa kabur dariku hahh?”. Desis Satria saat merasakan emosinya yang meluap. Rahangnya mengetat dan sorot mata yang tajam seperti siap untuk melahap Sekar saat itu juga. Sekar membalas tatapan Satria tak kalah garang. Dia berusaha tak gentar untuk menghadapi pria gila didepannya ini, Sekar bukan wanita lembek!. “Jangan kau pikir karena aku sudah terlalu bersikap lembek padamu, aku tidak bisa melakukan hal lebih gila lainnya Sekar!”. Ucap Satria penuh penekanan. Pria itu menarik paksa wajah Sekar untuk mendekat dengannya. “Jangan paksa aku untuk berbuat sesuatu hal yang akan kau sesali nantinya! Jangan menguji kesabaranku! Aku orangnya tidak sesabar itu sayang!”. Lanjut Satria tepat diatas bibir Sekar disusul ciuman yang memaksa. Sekar merasakan perih dibibirnya, hingga amis darah saat Satria sengaja menggigit bibirnya. Dan adegan itu berlangsung disaksikan oleh para anak buah Satria. “Aakkhh!!”. Sekar mengaduh ketika ciuman itu berhenti dan Satria menghempaskan wajahnya kasar. Kedua tangannya masih setia di pegangi oleh anak buah Satria. Matanya mulai berkaca-kaca dan Sekar mulai merasakan takut saat itu juga. Dia benar-benar bisa mati ditangan Satria. Begitu pikirnya. “Bawa dia kedalam! Seret jika perlu kalau dia membangkang!”. Seru Satria menaikkan suaranya satu oktaf. Sekar hanya bisa pasrah, langkahnya terseok-seok enggan untuk kembali dalam villa itu. Sekar meringis saat merasakan lengannya dipaksa oleh anak buahnya Satria. “Sstt sakit! Pelan-pelan bisa!”. Sentak Sekar menatap tajam pada kedua orang itu. Nafasnya memburu menahan gejola emosi, rasanya sia-sia saja dia sudah berlari jauh kalau pada akhirnya kembali kedalam villa sialan itu! Perkarangan villa sudah terlihat, Satria menghentikkan langkahnya dan menarik paksa lengan Sekar. “Kemarikan! Kalian lanjutkan tugas kalian masing-masing. Perketat penjagaan, jangan sampai kecolongan kaya gini lagi!”. Tegas Satria memberi peringatan kepada anak buahnya. Sekar hanya bisa menunduk ketika Satria menarik paksa lengannya yang tadi dipegangin oleh kedua anak buahnya. Setelah berdiri tepat didepan pintu utama, Satria melepaskan cekalannya. “Masuk!”. “Aku akan mengendongmu seperti karung beras kalau kau masih bersikeras tak mau mengindahkan perintahku!”. Tegas Satria lagi. Sekar masih bergeming menatap tajam pada Satria, lupakan rasa takut yang sempat ia rasakan tadi. Sekar tertawa remeh. “Oh you won’t!”. Seru Sekar meremehkan ancaman Satria. Satria menghela nafasnya kasar. “Kau memang suka dipaksa ternyata”. Ujar Satria mengambil ancang-ancang untuk membopong Sekar layaknya karung beras. Sekar yang melihat gerak-gerik Satria yang sepertinya tidak main-main dengan ucapannya memilih menyerah dan mengikuti kemauan Satria. “Oke fine fine! I walk!”. Sungut Sekar yang segera melangkahkan kakinya masuk kedalam villa dan menuju tempat yang menjadi kamarnya selama beberapa hari ini. Baammm!! Terdengar suara pintu yang dibanting kuat. Suara tersebut berasal dari kamar Sekar. Wanita itu segera menghempaskan badannya keatas tempat tidur. Tumpah sudah tangisnya yang selama seminggu ini ia tahan. Padahal awal mengetahui dirinya diculik dan dikurung Sekar sama sekali tak meneteskan air mata barang setetes pun. Sekarang setelah rencananya untuk kabur gagal Barulah sekarang ia merasakan keputusasaan. Satria menyusul Sekar kedalam kamarnya. Pria itu sudah sedikit lebih tenang sekarang. “Jika kau berani mencoba kabur lagi. Aku pastikan kau benar-benar tidak akan pernah menghirup udara luar lagi!”. Tegas Satria begitu ia sudah berada didalam dan mendapati Sekar sedang meringku dalam tangisnya. Sekar bangkit dari tidurnya menatap Satria dengan wajah yang sudah menganak sungai. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku!”. “Aku ingin pulang! Aku ingin bertemu ayah ibuku!”. Seru Sekar dengan nada tinggi. “Kau tidak bisa terus-terusan mengurungku disini!”. Lanjutnya. “Bisa. Aku sangat bisa melakukan itu Sekar!”. Jawab Satria menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Kau mau bertemu dengan ayah dan ibumu? kau masih ingin melihat mereka berdua?”. Tanya Satria. Ralat! itu sama sekali bukan terdengar seperti sebuah pertanyaan melainkan sebuah ancaman. Sekar yang menyadari hal itu mengepalkan tangannya kuat. Satria mulai mengancamnya menggunakan kedua orang tuanya. Pria itu sudah berdiri tepat didepan tempat tidurnya, tangan kedua pria itu dimasukkan kesaku celananya. Terlihat tenang tapi sangat berbahaya, karena tidak ada yang tau apa yang sedang pria itu rencanakan. “Ayah dan ibumu berada dibandung benar?”. Tanya Satria dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Jangan mengancamku dengan membawa-bawa mereka!”. Sungut Sekar dengan d**a yang bergemuruh. Sungguh Sekar takut kalau Satria benar-benar melakukan hal gila terhadap kedua orang tuanya. “Dia hanya menggertakku sajakan?”. Batin Sekar. Tapi tidak menutup kemungkinan Satria tidak akan melukai orang-orang tercintanya, mengingat pria sinting ini bisa melakukan apa saja dengan kekuasaan yang ia punya. Satria mengendikkan bahunya tak peduli. “Kalau itu bisa membuatmu tunduk terhadapku, why not!”. Sekar mengepalkan tangannya kuat, memejamkan matanya sesaat dan menarik nafas panjang. “Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau mau membebaskanku?”. Tanya Sekar untuk kesekian kalinya. Wanita ini akan melakukan apa saja agar bisa terbebas dari jeratan Satria tanpa perlu melibatkan orang-orang terdekatnya. Satria menatap lekat wajah Sekar. Pria itu menyadari sesuatu. “Bahkan kau masih terlihat cantik saat menangis. Apa aku harus membuatmu menangis terus?”. Ujar Satria yang tak memperdulikan pertanyaan Sekar. Pria itu sibuk menelisik wajah Sekar yang sendu, hidungnya yang memerah, matanya yang menganak sungai tapi entah kenapa wanita itu makin terlihat cantik dimatanya. “Kau ingin melihatku terus menangis? Baiklah, asal itu bisa membuatku terbebas”. Jawab Sekar menganggukkan kepalanya mantap. Satria menekuk kaki sebelah kanannya keatas tempat tidur dan sedikit membungkukkan badannya. Pria itu meraih wajah Sekar dan mendekatkan kearahnya. “Sampai kau nangis darah sekalipun, kau tak akan bisa bebas dari ku sayang!”. Ucap Satria tepat diatas wajah Sekar hingga nafas pria itu terasa hangat mengenai hidung mancung Sekar. Matanya menatap lekat mata coklat milik Sekar kemudia beralih menatap bibir penuh yang selalu menjadi kesukaannya. Satria ingin kembali mengulum bibir yang tadi sempat ia gigit, Satria sentuh bibir itu lembut dengan ibu jarinya. Sungguh saat ini Sekar benar-benar merasa takut. Ia takut Satria akan melakukan hal itu kepadanya. Pria ini benar-benar bisa melakukan apa saja yang dia mau. “Kau ingin bebas? Menikahlah denganku!”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN