Alooowww
Temenin kisah SatriaSekar sampai akhirnyaaa !!
Pasti bakal makin seruww ciuss dehh xixixi
Makasih yg sudah mampir dan tap love! Lope lope sekebon!
HAPPY READING..!!
Ssstt ada yang plus plus dibab ini hihi.
Dada Sekar bergemuruh hebat. Lagi-lagi pria gila ini memintanya untuk menikah dengan Satria. Sampai matipun Sekar tidak akan mau menikah dengan pria sinting gila dan m***m seperti Satria. Bukan lelaki seperti Satria yang dia inginkan untuk menjadi suaminya. Jelas Satria jauh dari pria idamannya, meskipun pria gila ini yang sialnya sangat tampan dan kaya raya. Tapi Sekar harus memikirkannya 1000 kali untuk bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Satria. Sekar tidak mencintai pria yang ada didepannya ini! Bagaimana bisa cinta jika perlakuan Satria dari awal kenal sudah membuatnya kesal, muak, bahkan sekarang merambat jadi benci!
Sekar berani membalas tatapan tajam Satria. Dia tidak mau dan tidak akan sudi dinikahi pria ini.
“Teruslah bermimpi! Sampai matipun aku nggak akan sudi menikah dengan pria sinting sepertimu!”.
Emosi Satria yang tadi sudah sempat mereda kini naik kembali kepermukaan. Satria ditolak? Demi tuhan ini sangat menginjak harga dirinya! Disaat banyak wanita yang menawarkan diri kepada Satria dengan cuma-cuma tapi wanita ini menolak ketika dirinya menawarkan sebuah pernikahan?!
Satria meraup kasar bibir yang telah berhasil menginjak harga dirinya ini. Menyesapnya kuat, membelit lidah menghisapnya tanpa ampun.
“Mmmpptthh!”. Bibir Sekar terbungkam habis oleh sapuan hebat bibir pria didepannya ini. Sekar menggelengkan kepalanya kuat, air matanya semakin banjir mengaliri pelupuk mata. Sekar benar-benar takut!
Sekar berusaha mendorong tubuh Satria, namun sayang pria itu meraih tangannya dan tahan keatas kepalanya sedang tangan Satria yang menganggur menahan kepala Sekar untun tidak menolak ciumannya.
“K-ku mohon ja-angan”. Lirih Sekar dalam ciuman yang semakin menuntut. Tapi Satria menulikan pendengarannya, emosi dan nafsu sudah menutupi akal sehatnya.
“Eenghhh!”.
Sekar menglenguh saat merasakan remasan kuat disalah satu aset padat nan kenyal miliknya. Kepalannya semakin menggeleng tak tentu arah, tapi seakan semua usahanya sia-sia justru hal tersebut semakin membuat Satria kesetannya.
“Aakhh enggh!!
Satria semakin memperdalam kulumannya dan semakin bermain kasar dikedua gundukan kenyal milik Sekar. Hasratnya seperti ingin segera dituntaskan, Satria membuka lebar paha Sekar dan mengarahkan asetnya yang sudah mulai mengeras dan menggesekkannya dipermukaan surga milik Sekar.
Sekar membelalakkan matanya lebar. Demi tuhan Sekar takut! Pria itu menggesekkan miliknya yang mulai mengeras.
“Satriaa aku mohon! Aku minta maaf aku salah”. Suara Sekar bergetar ketakutan, air matanya pun tak ingin berhenti dari sumbernya.
Seolah tersadar atas apa yang telah ia lakukan. Satria menghentikan kegiatannya dan langsung berdiri tegap dihadapan Sekar. Satria memandang keadaan Sekar yang sudah menangis dan badanya bergetar hebat. Satria hampir saja kehilang kendali! Dadanya bergemuruh, tangannya mengepal hebat. Pria itu menyugarkan rambutnya dan langsung melangkah pergi dari hadapan Sekar.
BAAMM!!
Satria membanti pintu kamar tersebut. Dia harus pergi dulu untuk menenangkan dirinya sendiri.
“KUNCI KAMAR ITU RAPAT-RAPAT! TUTUP SEMUA JENDELA!! JANGAN BIARKAN DIA KABUR LAGI BAHKAN KELUBANG SEMUT SEKALIPUN !!”. Bentak Satria pada anak buahnya yang berjejer tak jauh dari depan kamar yang ditempati oleh Sekar.
Beberapa bodyguardnya bisa menunduk mendengar perintah bosnya. Tak ada yang berani bersuara lebih baik menuruti keinginan bos mereka dari pada berakhir naas.
Sekar menangis hebat setelah dirinya ditinggal oleh Satria. Wanita itu menarik selimut bedcover dan menutupi dirinya. Badannya gemetar hebat ketakutan mengingat bagaimana Satria memperlakukannya. Sekar mencengkram kuat selimut yang menutupi tubuhnya.
“Ibukk ayaahh Sekar takutt”. Lirih Sekar dalam tangisnya yang memanggil kedua orang tuanya.
Sekarang Sekar harus bagaimana? Bagaimana dia bisa kabur kalau setelah ini penjagaan semakin diperketat oleh Satria. Sekar juga tidak ingin menuruti keinginan Satria untuk menikahinya.
“Aku harus memikirkan caranya. Aku harus keluar dari sini baik hidup ataupun mati!”.
**
Berhari-hari sudah berlalu setelah kejadian Sekar yang mencoba kabur dan berakhir Satria hampir menyetubuhi dirinya. Wanita itu sudah tidak pernah lagi melihat Satria datang menghampirinya seperti biasa. Sekar bisa sedikit bernafas lega, namun tak serta merta dia bisa berdiam diri. Wanita itu masih sibuk memikirkan jalan keluar bagaimana dirinya bisa pergi dari sini.
Sekar mondar-mandir didalam kamarnya, sebelah tangannya melipat dibawah d**a, sebelah lagi sibuk ia gigiti kuku jemarinya. Sekar memperhatikan jam didinding yang menunjukkan pukul 11 siang. Satu jam lagi makan siang akan diantar oleh bibik yang biasanya membawakan segela bentuk macam makanan. Sekar ingin mengambil kesempatan itu untuk kabur, kali ini dia harus berhasil!.
Sekar melangkah mendekati pintu kamar dan menggedornya kuat.
Bughh bughh bughh
“Heii kau pria yang ada diluar! Buka pintunya aku ingin meminta sesuatu!”. Teriaknya dari dalam.
Masih tak ada jawaban.
Bughh bughh bughh
“Ini penting! Bukalah! Aku butuh sesuatu!”.
Sampai akhirnya Sekar mendengar suara kuncinya terbuka berasal dari pintu yang sedari tadi dia gedor. Sekar tersenyum tipis, tapi tak berselang lama takut para bodyguard Satria melihatnya.
“Ada apa nona?”.
“Bukalah dulu sebentar aku ingin berbicara!”. Kata Sekar ketika pria berbadan besar ini hanya menyumbulkan kepalanya sedikit kedalam kamar.
“Ck! Ada yang aku butuhkan dan ini penting!”.
Sekar sedikit memaksa membuka pintu itu, sang bodyguard memperhatikan sekeliling karena saat ini dirinya hanya berjaga didepan kamar Sekar seorang diri. Sekar yang menyadari pria ini sendirian dan tak seperti biasanya ada dua orang yang berjaga mengucap syukur dalam hati.
“Silahkan katakan apa yang anda butuhkan nona?”.
“Aku butuh pembalut! Kau tau kan pembalut wanita untuk menstruasi?”.
Pria itu mengerutkan alisnya. Tak paham kenapa Sekar malah meminta kepada dirinya, kenapa tidak bisa tunggu nanti saat bibi mengantarkan makan siang.
“Kau belikan untukku sekarang! Aku sedang menstruasi dan persediaan dikamar habis!”. Seru Sekar menyempurnakan aktingnya.
“Maaf nona, sebaiknya menunggu bibi saja dan biarkan beliau yang membelikan kebutuhan nona”.
“Ck! Tidak bisa, darahku banyak aku tidak bisa menunggu nanti! Kau mau melihat darahku tercecer-cecer dilantai?”.
Pria itu membelalakkan matanya mendengar penuturan Sekar yang seakan tak malu mengatakan hal yang sensitif bagi pria.
“Baik akan saya belikan nona”.
“Eeh eeh tunggu. Aku mau makan siangku diantar sekarang juga! Suruh bibi mengantarnya sekarang juga tidak pakai nanti!”.
“Mengeluarkan banyak darah membuatku lapar!”. Ketus Sekar seolah tak peduli dengan ekspresi bodyguard didepannya ini. Sekar menampilkan wajah nan judes dengan gaya sombong tangan melipat didada membuat anak buah Satria tidak menaruh curiga sedikit pun.
Pria itu hanya menganggukan kepala dan segera beralih pergi namun sebelumnya dia tidak lupa untuk mengunci pintu kamar itu. Sekar yang kembali mendengar pintu dikunci mengepalkan tangannya kuat.
“Sialan! Dia ingat buat ngunci pintu ternyata”.
Tapi Sekar tak kehilangan akal. Tak berselang lama dari kepergian bodyguard Satria, bibi yang biasa mengantarkan makananya sudah datang dengan troli yang penuh berisikan makanan.
“Permisi nona, makan siangnya sudah siap”.
“Hmm”.
Jawab Sekar singkat mengikuti langkah dibelakang wanita ini. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia harus berani melakukannya ini kesempatan terakhir yang Sekar miliki.
Bugh!
Wanita yang berumur sekitar 40 tahunan itu tersungkur seketika. Sekar memukul kuat tengkuk leher wanita itu. Sekar membekap mulutnya tak percaya setelah melihat apa yang ia lakukan.
“Astaga! Bibi aku minta maaf, sunggu aku nggak berniat. Tapi aku nggak punya cara lain!”. Ucapnya pada sosok yang tergeletak pingsan dihadapnnya itu.
Tak ingin membuang waktu lama Sekar segera melaksanakan rencananya untuk kabur. Sekar membuka pintu yang tadi ditinggalkan sedikit terbuka oleh bibi, dia memperhatikan sekeliling memeriksa bahwa pria tadi masih pergi untuk memenuhi perintahnya.
Sekar bisa sedikit bernafas lega melihat kondisi ruangan tersebut yang terkesan sunyi. Perlahan-lahan ia berhasil keluar dari kamar dan menyusuri villa untuk mencari pintu utama.
“Tidak-tidak! Jangan dari pintu utama. Disana pasti banyak bodyguardnya!”.
Memutar haluannya dan mencari pintu lain. Sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya saat ini, Sekar melihat pintu yang sedikit terbelakang dari sisi villa ini. Pelan namun pasti dia berhasil keluar dan sudah berada dihalaman, Sekar menelisik halaman tersebut dan memperhatikan dia berada dibagian mana dari villa yang sangat luas ini.
Sekar memundurkan langkahnya dan bersembunyi disebalik pohon ketika melihat para bodyguard yang berada dihalaman depan tampak berlarian masuk kedalam villa. Sepertinya mereka sudah menyadari tidak adaan Sekar didalam kamar, atau mungkin bibi sudah sadar dari pingsannya dan memberitahu para bodyguard itu! Sekar tak ingin memikirkannya, ia ambil kesempatan itu untuk berlari sekuat tenaganya agar segera sampai pada gerbang utama.
Lagi-lagi nasib baik berpihak padanya. Pagar itu dibiarkan begitu saja tanpa digembok.
“Yaa tuhan terimakasih!”. Ucapn. Tangan wanita itu bergetar hebat saat hendak menyentuh pagar dan membukanya perlahan. Sekar berhasil melangkah keluar dari perkarangan villa, ia menoleh sebentar melihat kearah villa hanya sesaat setelahnya Sekar kembali berlari kemana saja asal tidak ke villa itu lagi.
Sekar akhirnya menyadari bahwa villa tersebut terletak sangat jauh dari daerah pemukiman, sepanjang pelariannya tak ada satu rumah pun yang bisa ia jumpai.
“Kau benar-benar gila Satria!”.
Sementara itu keadaan didalam villa diisi dengan kepanikkan. Bibi yang sudah sadar dari pingsannya menceritkan semua kejadian yang terjadi.
“Bagaimana ini? Tuan bisa marah besar kalau tau nona Sekar berhasil kabur!”.
“Bibi tenang saja. Yang lain sudah mencar untuk mencari nona Sekar, beliau pasti belum lari terlalu jauh”.
Sekar terus saja berlari dia tak ingin berhenti sedikit pun. Tak ia hiraukan tubuhnya yang mulai kelelahan, yang Sekar pikirkan adalah semoga ia segera menemui rumah warga dan meminta pertolongan. Sekar merasa kepalanya sedikit pusing, akhirnya memilih untuk berhenti sebentar.
Sekar menyipitkan matanya ketika melihat ada cahaya pantulan yang mengenai ujung matanya. Sekar melihat ada satu mobil yang terparkir diujung jalan sana. Dia bisa memastikkan bahwa itu mobil dan sedang tidak berhalusinasi. “Akhirnya!”. Batinnya bersorak.
“Itu pasti mobil salah satu orang yang tinggal disini, iya aku yakin itu! Aku bisa minta tolong sama mereka”.