Hai Readers!
Masih betahkan yaa nunggin SatriaSekar?
Makasih sudah mampir dan tap love.
Yang baru baca monggo ditap lovenya yak hehe
HAPPY READING..!!
Sekar berlari mendekati mobil yang ada diujung jalan sana dengan terseok-seok. Wanita itu sudah lelah bukan main, ia merasa sudah sangat jauh berlari dari villa sialan yang dimiliki oleh Satria itu.
Sedang sang pengemudi mobil yang melihat ada seorang wanita berlari kearahnya memicingkan matanya kuat. Guna memastikan orang gila mana yang berlari-lari ditengah hari yang sangat terik ini.
“Nona Sekar!”
Pria itu terkejut lantaran melihat bahwa wanita yang sedang berlari mendekati mobilnya ini adalah Sekar. Wanita yang tadi menyuruhnya untuk membelikan sebuah pembalut karena wanita itu beralasan sedang datang bulan. Ternyata itu hanyalah salah satu trik untuk mengelabuinya agar wanita itu bisa kabur. Tak berselang lama ponsel disakunya bergetar tanda panggilan masuk.
“Halo.”
“...”
“Hm. Tak perlu khawatir! Dia sudah berada dalam ditanganku.” Ucapnya pada seseorang yang menelponnya tadi.
Pria itu menyiapkan sebuah sapu tangan yang sudah diberikan cairan yang akan membuat seseorang rileks ketika menghirupnya. Pria itu memakai kacamata hitamnya agar tak mudah dikenali oleh Sekar. Dan masih memperhatikan wanita itu dari dalam mobilnya.
“Kayahnyah keliatan dekat dehh. Tapihh lumayan jauh jugaa tuhh mobil!” Seru Sekar sambil ngos-ngosan. Nafasnya sudah seperti orang yang akan pergi meninggalkan dunia ini.
“Semangat Sekar! Bentar lagi ketemu ayah sama ibu!”
Sekar sudah hampir dekat dengan mobil berwarna hitam itu. Ia tak akan berhenti berlari sampai rencananya berhasil, dan kali ini harus berhasil! Pikirnya begitu. Setelah sampai tepat disamping kaca kemudi mobil ini, Sekar membungkukkan badannya sambil memukul dadanya pelan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sungguh dia sangat kelelahan.
Tok tok tok
Sekar mengetuk kaca yang berada disebelah kemudi mobil ini. Kacanya terbuka sedikit.
“Maaf, tolong sayahh.”
Sekar masih tak dapat melihat siapa yang berada didalam mobil, wanita itu masih sibuk mengatur ritme nafasnya yang masih terengah-engah.
Pria yang ada didalam mobil membuka kaca mobilnya secara perlahan. Pria itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Saat Sekar masih menundukan kepalanya, dan ingin mengangkat kepala menatap kearah pengemudi mobil ini namun tiba-tiba didepan wajahnya sudah ada tangan yang sedang memegang sebuah kain dan..
“Mmmppthh.”
Sekar tak sadarkan diri.
Satria yang mendengar kabar dari bodyguardnya tentang Sekar yang lagi-lagi mencoba kabur dari villa meradang bukan main. Sialnya saat pria itu dikabarin posisinya sedang dalam rapat penting, yang membuat dirinya tak bisa pergi begitu saja meninggalkan rapat tersebut. Waktu terasa begitu lama bagi Satria, pria itu sibuk memperhatikan jam yang melingkar ditangan kirinya. Kepalanya terasa ingin pecah, lantara emosi yang sudah menggunung, dia juga sudah tidak fokus dengan rapat yang sedang berlangsung.
“Sialan! Kau benar-benar ingin melihatku marah Sekar!”
Sementara itu digedung yang sama hanya berbeda lantai saja. Rekan sejawat Sekar sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, ingin cepat-cepat diselesaikan sebab sebentar lagi akan memasukin jam makan siang.
“Mbak Sekar kemana sih mbak, May? Enak banget bisa cuti, kita nih kerjaan makin numpuk!”
“Gue juga nggak tau tuh anak kemana Ram! Waktu tau doi cuti gue hubungin nomornya langsung nggak bisa, nggak aktif! Gue khawatir sebenarnya jangan-jangan doi kenapa-kenapa lagi.” Seru Maya menghentikan kerjaannya sejenak dan menerawang sudah hampir dua minggu kawannya itu cuti tapi tak ada satu kabarpun yang ia dengar.
“Yaudah yuk udah jam makan siang juga, gue pengen makan dikantik lantai satu.” Lanjut Maya mengajak Rama.
Saat berada dilantai satu. Maya dan Rama tak sengaja melihat Satria yang baru saja keluar dari lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh pria itu. Pria itu terlihat sangat menyeramkan karena sedang menahan gejola emosi yang ada.
“Pak Satria lagi ada masalah kali ya mbak. Serem banget gue ngeliat mukanya.”Seru Rama.
“Hus! Nanti didenger orangnya. Udah ayok!”
Tanpa mereka sadari, orang yang sedang mereka nanti-nanti kabarnya, sedang berada didalam genggaman pria yang barusan mereka lihat. Dan tanpa mereka ketahui mungkin sekarang Sekar dalam keadaan yang berbahaya. Karena tidak ada yang tau apa yang akan Satria lakukan kali setelah mengetahui percobaan kedua kalinya Sekar yang berusaha kabur. Bahkan wanita itu sudah sempat lari jauh dari villa.
“Kau sudah mendapatkan potret kegiatan kedua orang tua Sekar Max?”
“Sudah Sir, Ini berkas berisi beberapa potre kegiatan ayah dan ibu nona Sekar”
Mas memberikan sebuah map coklat kepada Satria.
“Jangan salahkan aku jika harus melakukan hal ini Sekar! Kau sendiri yang mengujiku!”
Seru Satria saat sedang membuka satu-satu persatu potre yang berada ditangannya.
Max yang mendengarkan kata-kata Satria bergidik ngeri. Benar-benar pria yang sangat berbahaya jika tidak mengindahkan keinginannya. Max memikirkan bagaimana nasib wanita yang sedang dikurung oleh bosnya ini. “Pasti nona Sekar sangat ketakutan saat ini”. Batinnya.
“Apa mobil ini tidak bisa lebih cepat!”
Bentak Satria pada sang sopir yang sedang mengemudi. Pria itu langsung saja gemetar ketika dibentak oleh bosnya, tak berani untuk menjawab langsung saja menginjak pedal gasnya semakin dalam.
Perjalan menuju villa yang dimiliki Satria memang terletak jauh dari pusat kota. Dibutuhkan waktu 2,5jam perjalanan jika tidak mengalami kemacetam, tapi jika lalu lintas sedang padat-padatnya waktu yang ditempuh pun semakin lama. Dan sialnya lagi adalah saat ini hari jum’at dimana atusias orang-orang yang akan menyambut weekend telah memadati jalan. Jika saja pintu doraemon itu benar adanya, sungguh Satria sangat butuh pintu itu sekarang juga!.
“SIALAN!”
Bughh!
Teriak Satria sambil meninju bagian dalam mobil yang berada disampingnya.
Max dan seorang driver didepan tak berkutik. Hanya bisa menegang ditempatnya masing-masing. Saat ini mereka berdua benar-benar takut jika pada akhirnya Satria akan memakan mereka hidup-hidup, mengingat jika pria itu sudah terlampau emosi sangatlah mengerikan.
Sementara itu didalam villa yang sangat megah ini. Seorang wanita dengan kondisi tangan dan kakinya terikat oleh tali yanga berada disisi kanan dan kirinya. Wanita tersebut masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Wanita yang tadi hampir berhasil melarikan diri kini kembali ketempat dimana dirinya selama ini disembunyikan oleh Satria.
“Bagaimana mana ini! Nona Sekar belum sadar juga, apa tidak berbahaya? Kamu jangan-jangan terlalu banyak memberikan obat biusnya Mus!”
Ujar bibi yang khawatir melihat wanita bosnya yang belum juga sadarkan diri padahal hari sudah hampir gelap.
“Tidak Bi, tenang saja dosisnya masih aman. Nanti kalau nona Sekar sudah siuman langsung diberi minum dan makan saja.”
Bibi hanya menganggukkan kepalanya dan setia duduk ditepi ranjang menanti sang nona sampai sadar dari pingsannya.
“Enggh!”
“Dimana aku?” Batin Sekar.
Kepalanya terasa begitu sakit saat memaksakan untuk membuka matanya, tangan dan kakinya juga terasa sangat aneh, seperti sedang tergantung. Sekar masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya secara perlahan. Saat matanya benar-benar sudah terbuka lebar dan mulai menyesuaikan pandangannya, jantung Sekar berdetak lebih cepat kala menyadari dirinya kembali berada didalam kamar sialan ini. Tunggu! Tangan dan kakinya.
“Aaaaaaaaa tolong! Tolong siapapun!”
Sekar berteriak sangat kuat. Tangan dan kakinya diikat! Sekar kembali menangis sesenggukan melihat keadaannya yang semakin tak bisa untuk bergerak karena ikatan ditangan dan kakinya.
“Kenapa jadi begini? Apa yang kau mau dariku Satria!”
Sekar berusaha melepaskan dirinya meskipun ia tau hal itu tak sama sekali membantu, karena hal itu tidak sama sekali membuat ikatan talinya bisa terputus. Sekar menarik-narik, memutar tangannya apapun semua Sekar lakukan dengan harapan setidaknya tali ini sedikit mengendur. Tak ia pedulikan pergelangan tangannya yang mulai memerah dan iritasi.
“Aaaaaaahh tolong!”
Teriak Sekar dalam tangisnya.
Bibi yang sedang berada diruang tengah mendengar suara teriakan dari dalam kamar segera menghampiri kamar tersebut.
“Non Sekar! Sudah siuman, syukurlah.”
Sekar menggelengkan kepalanya kuat, air mata sudah menganak sungai tak ingin berhenti.
“B-bibi aku mohon, bantu aku, Bi. Aku nggak bisa berada disini terus! Tolong Sekar, Bi..”
Sebenarnya bibi sangat prihatin melihat keadaan Sekar, wanita itu jadi membayangkan jika hal itu terjadi kepada anak perempuannya. Tapi ia juga tidak punya kuasa, ia hanya pekerja yang diutus untuk membantu mengurus wanita dari tuannya.
Bibi mendekat dan mendudukkan bokongnya dipinggir kasur. Wanita paruh baya ini juga sudah ikut menangis melihat Sekar menangis pilu.
“Maaf Nona, bibi nggak bisa bantu. Bibi cuma pekerja, bibi takut kalau nanti den Satria marah, Non.” Jawab bibi sambil menundukkan kepalanya.
“Aku tidak akan memberi tau Satria kalau bibi yang membantuku. Jadi aku mohon, Bi. Lepaskan aku, lepaskan ikatan ini, aku ingin pulang!” Seru Sekar. Tangisnya semakin terdengar pilu, sangat menyayat hati.
“Maaf Nona, Bibi nggak bisa. Bibi akan siapkan makan untuk non. Permisi, Non.”
“Bi! Bibi tunggu! Jangan tinggalin Sekar bi! Bibi, Sekar mohon!”
Sekar terus saja berteriak memanggil bibi, namun sayang sepertinya wanita itu sungguh takut akan kekuasan Satria.
“Ayah! Ibu! Sekar takut!”
Sekar memejamkan matanya kuat, air matanya masih setia mengaliri pelupuk mata. Demi tuhan Sekar hanya berharap semua kejadian yang terjadi padanya ini hanya mimpi dan ia akan segera sadar dari mimpi buruknya. Namun rasa perih yang timbul dari pergelangan tanganya akibat dari gesekan antara kulit dan tali yang mengikatnya ini saja sudah menjadi bukti bahwa semua ini bukan dunia mimpi belaka, ini kenyataan!
Satria yang masih berada didalam perjalan dan terjebak macet mengamati semua yang terjadi didalam kamar Sekar melalui rekaman cctv yang telah ia pasang dikamar wanita itu. Satria juga sudah melihat bagaimana dengan beraninya Sekar memukul maid yang bekerja untuknya.
“Perempuan ini tak ada takutnya memukul orang sampai pingsan, tapi barusan dia bilang takut?” Batin Satria.
“Kau yang memaksaku berbuat demikian Sekar. Sekarang terimalah hukuman mu.”
***