"Iya, Sayang. Kamu tunggu di sana ya, setengah jam lagi aku sampai." ... "Udah, dong. Kamar 815." ... "Aku juga nggak sabar." ... Ting! Ian menjulurkan kepala ke arah pintu apartemennya yang terbuka, menampilkan Al yang masuk dengan wajah lesu. Ian menyumpah panjang pendek. "Sayang, kita nggak jadi kencan. Batal!" Ujarnya sambil menutup telepon. Astaga, batal juga junior gue dapat jatah! "Lo mau pergi?" "Nggak jadi." "Maaf, gue ganggu, ya?" Tanya Al merasa tidak enak. Ian tersenyum. "Anything for family." "Sam disini?" "Belum pulang." Jawab Ian singkat. Al menyandarkan punggungnya di sofa. Tubuhnya benar-benar lelah. Pikirannya tersita oleh persoalan keluarga yang membuatnya dilema. Belum lagi masalah pekerjaan di kantor. Seringkali ia marah-marah tidak jelas pada para sta

