kembaran yang seorang detektif pulang kerumah Helena setelah perjumpaan tak terduga itu.
sesampainya dirumah gadis itu disambut suara berisik, ya Helena tadi sudah memberitahunya bahwa ia mempunyai banyak keluarga.
dan sekarang Valerie melihat keluarganya secara langsung, adik laki-laki yang masih kelas 3 SMA, adik kembar laki-lakinya yang baru masuk SMP dan kakak laki-laki nya sudah menikah dan sekarang berada di apartemennya sendiri bersama sang istri yang lagi hamil.
"darimana saja hel, sore sekali kamu pulang?" tanya sang ibu penasaran.
"jumpa teman ma" jawab Valerie dengan tersenyum sopan.
keluarganya heran karena Helena selalu menanggapi mereka dengan cuek tapi sekarang terlihat tersenyum.
"apakah kakak sedang berbahagia?" tanya salah satu adik kembar Helena entah yang Kenzie atau Kenzo setidaknya antara itu lah nama si kembar.
"mungkin tadi ketemu pacar kan" tebak adiknya yang SMA berumur 17 tahun dan bernama Simon.
"enggak kok, ini kakak bawa pesanan Kenzo dan Kenzie" ujar Valerie sambil bergabung dengan mereka di ruang tengah dengan tangan yang memegang paper bag berisikan alat tulis yang stoknya sudah habis dirumah, sebelum kemari Valerie teringat dengan pesanan si kembar tentu saja dari Helena.
rumah Helena tak sebesar Caecilia tapi lumayan mewah juga.
"nah ini kan pesanan Kenzo dan Kenzie?" tanya Valerie sambil menyerahkan barang tersebut.
"iya kak makasih ya" ujar si kembar yang tadi dengan senyuman ceria.
dibilang Helena walaupun adiknya kembar mereka sangat berbeda, Kenzie orang yang ceria dan ramah, sedangkan Kenzo sedingin es dan cuek.
jadi Valerie menyimpulkan bahwa si kembar yang tadi berbicara adalah Kenzie.
"sama-sama Kenzie" ujar Valerie dengan tersenyum tipis.
Kenzo menatap kakaknya dingin tapi dengan dahi mengkerut karena bingung dan heran.
"kau kenapa?" tanya Kenzo yang selalu tak sopan seperti itu pada kakaknya yang selalu jutek juga kepadanya.
"aku baik-baik saja" ujar Valerie berusaha sopan padahal dalam hati ingin memukul kepala Kenzo.
kedua orangtua Valerie yang daritadi melihat juga terheran.
"hel, ayah dengar di kampusmu ada pembunuhan kan?" tanya ayah Helena.
"iya yah" jawab Valerie.
"jadi kau harus selalu hati-hati" peringat sang ayah, Valerie mengangguk patuh.
jika Helena pasti mengatakan "aku tahu" dengan wajah jutek nya.
"hm aku ke kamar dulu ya mau membersihkan diri" ujar Valerie dapat anggukan dengan kerutan di dahi masing-masing orang yang ada disana.
bagaimana tidak heran biasanya Helena tidak akan berpamitan hanya langsung pergi melengos.
"kakak kenapa ma?" tanya Kenzie sambil melihat kepergian kakaknya ke kamar.
"mungkin kakak mulai berubah" ujar sang ibu senang.
mereka berlima pun berharap jika Helena memang benar-benar berubah untuk selamanya seperti ini karena itu sangat membuat mereka bahagia.
info dari Helena mengatakan sang ibu seorang kepala kok dan sang ayah seorang arsitek utama.
Valerie mulai berpikir kalau jutek dan dinginnya Helena karena ia tak punya saudara perempuan yang bisa diajak berbagi cerita.
setelah membersihkan diri Valerie melihat ponselnya terdapat semua info dari Helena di grup chat.
salah satunya adalah bahwa mahasiswa tetap bisa mengunjugi kampus walaupun sedang berlibur jadi Valerie tetap bisa mencaritahu tentang pembunuhan itu.
keesokan paginya Valerie pergi ke kampus Helena untuk memulai investigasi secara diam-diam, sesampainya di koridor yang mengarah ke kelasnya tiba-tiba ada yang menarik lengannya dan langsung menyandarkan nya di tembok, Valerie heran dengan gerak refleks yang biasanya muncul jika dalam keadaan bahaya seperti sekarang tapi refleks itu tidak keluar membuatnya berpikir ini bukan dalam bahaya.
"jika kau terus kesana, maka kau akan mati juga" ujar pria yang telah menariknya tadi secara tiba-tiba.
"memangnya ada apa disana? kelasku ada disana" ujar Valerie membuat pria didepannya heran.
"bukan kah kau lagi liburan" tanya pria itu balik.
Valerie lupa menanyakan tentang kenalan Helena di kampus.
"oh itu ada barang penting yang ketinggalan di meja ku" ujar Valerie gugup tapi berusaha dihilangkannya.
untung saja pria didepannya ini percaya.
"kukira kau si bisu" ujar pria itu yang memang teman sekelas Helena tetapi gadis itu selalu membisu dikelas tak pernah bicara banyak kadang hanya gelengan dan anggukan untuk menjawab.
Valerie terdiam, ia ingat pesan Helena tentang julukannya dikelas ya itu adalah si bisu karena memang Sakin pendiamnya dia di kelas tersebut.
"kurasa kau belum tahu tentangku, Andreas, kursiku tepat di belakangmu tapi kuperhatikan kau tak pernah memperhatikan kelas yakan" ujar pria itu.
"aku hanya malas" ujar Valerie berusaha menjadi Helena.
"kau tahu tentang pembunuhan itu?" tanya Andreas sambil berhadapan di dinding depan Valerie, jadilah mereka saling bertatapan dan bersandar di dinding belakang mereka.
"iya" ucapan singkat gadis itu membuat Andreas curiga.
"aku tidak melihat barang apapun di mejamu" ujar Andreas dengan tatapan sulit diartikan kearah Valerie.
skak mat, akhirnya Valerie menghela napas panjang.
"ya kau benar, dan aku disini untuk mencaritahu tentang pembunuhan itu" ucap Valerie dengan pasrah karena ketahuan.
"ternyata rasa pedulimu masih ada" ujar pria itu menganggap Helena masih perduli padahal itu bukanlah Helena melainkan Valerie.
"jadi bagaimana denganmu dan mengapa kau menarikku tiba-tiba" tanya Valerie sambil melipat tangannya didepan d**a.
"aku juga sedang mencaritahu ya, sebelum kau kemari kelas dikosongkan karena bersebelahan di TKP pembunuhan jadi mau dilakukan investigasi oleh polisi" ujar pria tersebut.
"kuliat dikoran perempuan yang dibunuh sedang hamil" ujar gadis itu membuat pria didepannya takjub ada seseorang yang ingin memperjuangkan kasus itu sama sepertinya.
"dia adalah mahasiswi tingkat akhir jurusan hukum, banyak gosip yang menyebar tentang hubungannya dengan dosen pembimbingnya" ujar Andreas.
"mengapa kau tertarik dengan kasus ini" tanya Valerie penasaran.
"sama sepertimu alasannya" ucap pria itu memutarbalikkan katanya.
gadis itu menghela napas pasrah
"ayo kita kesana manatau ada petunjuk" ujar Valerie mengajak pria itu ke TKP.
"banyak polisi" ujar pria itu membuat Valerie bingung.
"bukankah itu tidak masalah asalkan tidak menganggu penyelidikan mereka" ucapan Valerie membuat Andreas sedikit tertarik pada gadis didepannya terlihat dari wajahnya yang memunculkan senyuman tipis.
"polisi bayaran, mereka hanya berakting bersama dosen pembimbing b******n itu" ujar Andreas emosi melihat kotor nya permainan ini.
"bagaimana kau tahu banyak?" tanya Valerie sedikit kagum pada pria didepannya.
"aku sudah merekam percakapan mereka semua 20 menit yang lalu jika rekaman ini dilaporkan pada kepolisian yang tepat mungkin dosen pembimbing itu akan membusuk di penjara" ujar Andreas sambil menunjukkan rekaman tersebut.
semua kesimpulan di video itu adalah dosen b***t tersebut memperkosa korban setelah tau korban hamil dia membunuhnya tapi dengan cara yang sangat bersih sehingga tak ada jejak mengarah padanya, dan polisi yang menyelidiki kasus itu semua hanya settingan.
"aku sekarang tak tahu mengirim rekaman ini kemana, karena tak ada kepolisian yang ku percaya" ujar Andreas lesu.
"mengapa tidak ke sosial media?" tanya Valerie. bukankah sosmed sudah biasa untuk mengungkapkan rahasia.
"nama kampus akan jelek, dan kampus ini milik orang tuaku" jawab Andreas seadanya.
Valerie pun mengangguk paham
"oh aku tahu, ayo ikuti aku" ujar Valerie sambil menarik tangan pria itu berjalan cepat keluar kampus.
setelah sampai diluar Valerie menelepon seseorang siapa lagi kalau bukan ayahnya, gadis itu meminta bantuan pada ayahnya untuk mencari kepolisian dikota ini yang bersih tanpa ada hal kotor yang mereka lakukan seperti polisi yang sedang menangani kasus ini.
"kau ke alamat ini disana ada kantor polisi terpercaya" ujar Valerie sambil menunjukkan alamat dari sang ayah.
"oh baiklah nanti aku kesana, bisakah kita makan bersama aku sudah lapar" ujar Andreas memelas karena jam menunjukkan pukul 3 sore.
"ayolah aku juga laper sih" ujar Valerie tersenyum tipis lalu mereka berdua makan di tempat restoran terdekat.
setalah makan mereka menuju kursi taman untuk mengobrol banyak lagi tentang kasus yang sudah terpecahkan.
tak terasa jam menunjukkan 6 sore akhirnya Andreas menunggui gadis itu sampai menaiki bus, padahal dia sudah membujuk Valerie agar diantar tapi gadis itu sangat keras kepala takut merepotkan katanya.
sesampainya dirumah, Karena terlalu lelah dia hanya tersenyum ramah kepada semua keluarga Helena setelah itu pamit untuk ke kamar agar bisa istirahat setelah mandi.