Helena and grandma

1207 Kata
Helena merawat nenek Valerie dengan baik bahkan sekarang ia menemani nenek Valerie sampai terlelap. "hoaamm, ha sudah jam setengah sepuluh ternyata" ujar gadis itu sambil menguap karena mengantuk. akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Valerie dan ikut terlelap juga. keesokan paginya Helena sarapan bersama wanita tua itu mereka mengobrol banyak hal tentang pelajaran kehidupan yang selalu dibahas nenek itu, Helena mendengarnya dengan perasaan menghangat di hati kecil gadis itu karena kerinduan pada neneknya yang meninggal telah terobati. "kau sangat mirip dengan ayahmu" ujar nenek Valerie dengan senyuman tulus. "iya dong nek namanya aku anaknya" ujar Helena dengan santai. "bagaimana dengan ibumu? bukankah kau juga anaknya?" tanya nenek itu balik. Helena terdiam, ya Valerie menceritakan tentang perselingkuhan ibunya, gadis tomboy itu sangat membenci ibunya karena hal itu ia tak mau berjumpa lagi dengan wanita yang telah melahirkannya itu semenjak 5 tahun yang lalu. neneknya lah yang selalu membujuk Valerie untuk berbaikan dengan ibunya seperti sekarang. "haha nenek bisa aja" ujar Helena menjawab dengan asal karena tidak tahu harus mengatakan apa. "ibumu sudah mulai merubah sikapnya, dia sudah sadar atas kesalahan yang dibuatnya val, nenek harap kau bisa menerimanya kembali bahkan nenek memaksa akan hal itu" ujar neneknya dengan serius tapi tak lupa senyum kecil menghiasi wajah yang sudah mulai keriput itu. "iya nek aku akan mencobanya" ujar Helena mungkin setelah ini ia akan menasehati Valerie untuk memaafkan kesalahan ibunya. "selamat pagi nyonya dalson" tiba-tiba ada suara panggilan di depan pintu bersamaan dengan ketukan sopan pada daun pintu. "oh pasti itu nak Gabriel, val tolong buka kan pintunya ya" ujar wanita tua itu. Helena menurut, sambil berjalan kearah pintu ia memikirkan tentang siapa yang datang karena Valerie tak memberitahu tentang hal ini. saat pintu terbuka Helena melihat seorang pria matang yang berkisar 25 tahunan mungkin, tangan pria itu menenteng sebuah Paper bag berukuran sedang. pria itu mengernyitkan dahinya heran karena gadis asing yang membuka pintu. "apakah nyonya dalson nya ada?" tanya pria itu sopan. "silahkan masuk" ujar Helena sambil menuntun pria itu ke kamar dimana nenek Valerie yang sedang bersandar pada kepala ranjang. "hai nak Gabriel, apa yang dibuatkan sahabat baik ku itu lagi?" tanya nenek Valerie saat melihat wajah tampan itu. "nenek saya menitipkan ini, beliau membuatnya sendiri" ujar pria itu sambil menyerahkan paper bag yang berisi syal rajutan. "dia memang sahabat terbaikku, titip salam dan rasa terimakasihku pada nenekmu ya" ujar wanita tua itu dengan wajah terharu dan dapat anggukan dari pria bernama Gabriel tersebut. ternyata nenek Gabriel dan nenek Valerie sahabatan sudah berpuluh-puluh tahun dan sekarang mereka sama-sama sakit karena faktor umur, makanya sebulan sekali Gabriel datang menjadi perantara komunikasi mereka seperti saat ini. pria itu sebenarnya ingin sekali setiap hari menemani kedua wanita tua itu tapi jadwal nya mengajar di kampus ternama di dunia membuat pria itu memiliki kesibukan setiap harinya. "oh iya nak Gabriel, ini cucu nenek yang bernama Valerie" ujar sang nenek memperkenalkan Helena dengan Gabriel. "oh ternyata dia cucu nenek ya" ujar pria itu mengerti sekarang. Helena hanya tersenyum canggung dan hanya menatap nenek Valerie dengan tulus. "oh iya nek seperti biasa aku ingin memeriksa sesuatu di dalam hutan" ujar pria itu yang sangat dimengerti oleh wanita tua itu. "pergilah, tapi jangan biarkan kesedihan itu berlarut lagi setelah keluar hutan" ujar wanita tua itu lembut, akhirnya pria itu mengangguk patuh. "oh bagaimana kalau Valerie ikut menemanimu? cucu nenek ini tidak punya teman di negara ini Riel" ucapan sang nenek membuat Helena bingung karena ia orang yang sangat introvert, gadis itu tak pernah memiliki teman tapi dia sangat nyaman akan hal itu. "oh baiklah nek" ujar pria itu sambil menatap ramah ke arah Helena yang bingung. sang nenek sudah sangat percaya pada pemuda tersebut bahkan sudah dianggapnya seperti cucu kandungnya sendiri. akhirnya Gabriel membawa Helena masuk ke dalam hutan. "apakah kamu tidak nyaman?" tanya pria itu saat baru masuk ke dalam hutan, ia terheran dengan keheningan yang tercipta. gadis itu hanya diam memandang hutan yang mengelilinginya dengan datar. "Valerie, kalau tidak nyaman lebih baik kembali saja, saya sudah biasa kok kemari sendirian" ujar pria itu membuat Helena akhirnya mau tak mau harus berbicara. "tidak masalah, aku suka ketenangan di dalam hutan ini" ujar gadis itu dengan datar sambil berjalan lurus ke arah depan mengikuti Gabriel. "kalau begitu kenapa daritadi hanya terdiam" tanya pria itu heran. "maaf" ucap gadis itu hanya kata itulah yang sekarang ada dipikirannya, ia berpikir pasti pria ini merasa diabaikan tadi padahal itu semua karena Helena tak terbiasa dengan berteman. "haha, kok kamu minta maaf?" ujar pria itu dengan santai sambil tertawa pelan. Helena hanya terdiam, gadis itu butuh sebuah kamus sekarang untuk menambah kosakata dalam percakapannya dengan Gabriel. "Valerie, apakah kamu sedang berkuliah sekarang?" tanya pria itu basa-basi padahal biasanya dia akan bersikap dingin pada perempuan. "aku bersekolah khusus penanganan tindakan kriminalitas" jawab Helena dengan kaku. sebenarnya gadis itu keceplosan karena mulutnya tak bisa dikontrol tentang data diri Valerie yang selalu dihapalnya agar tidak lupa dia sedang menggantikan posisi detektif tomboy itu. "oh begitu ya" ucapan dari Gabriel itu penutup dari percakapan mereka karena tak lama mereka berdua sampai ketempat tujuan. "nah sudah sampai" gumam pria itu, Helena mengernyitkan dahinya heran karena mereka berhenti di sebuah tepi jurang, bahkan mata gadis itu melotot terkejut saat melihat Gabriel duduk di tepi jurang. "jangan melompat" ujar gadis itu refleks memegang bahu pria itu. "hahaha, saya hanya duduk val" ujar pria itu tertawa lucu melihat gadis di sebelahnya. "sini duduk" ujar pria itu sambil menepuk tanah di sebelahnya bermaksud menyuruh Helena untuk duduk disebelahnya. Helena pun menurut, jurang itu tidak terlalu curam bahkan dibawahnya terdapat pohon dengan taman Bunga yang indah. "ternyata Bunganya masih segar, saya tak perlu ke bawah untuk mengurusnya" gumam pria itu terdengar oleh Helena. "apakah kamu yang menanam bunga-bunga itu?" tanya gadis itu datar. "iya, dulu adik Perempuan saya jatuh ke dalam jurang itu membuatnya pergi untuk selamanya, jadi saya membuatkan taman yang indah disana karena dia suka taman" ujar pria itu dengan tatapan sendu ke arah taman tersebut. "oh maaf" ujar gadis itu kaku merasa bersalah karena kini ia tahu dengan ucapan neneknya tadi agar pria ini tak berlarut dalam kesedihan. "tidak masalah, saya sudah mengikhlaskan nya" ujar pria itu tersenyum tulus ke arah Helena membuat gadis itu tersentuh hatinya. "dia bukan pergi selamanya tapi kita yang tak tahu kapan gilirannya, kita semua akan ketemu lagi dengan mereka yang dikira pergi selamanya" ujar gadis itu tanpa sadar. "hm iya saya mengerti akan hal itu" ujar pria itu kagum dengan bahasa gadis tersebut. "bukankah kita disuruh berteman oleh nenek ku?" tanya gadis itu mulai mencoba mengawali hubungan pertemanannya. "hahaha baiklah kita berteman, kalau begitu tidak usah terlalu formal karena aku masih 25 tahun" ujar pria itu tertawa gemas melihat gadis di hadapannya ini. "oke" ujar gadis itu tersenyum ramah. mereka mengobrol banyak hal tentang kehidupan Gabriel sehingga sore hari tak terasa. akhirnya mereka berdua keluar hutan tepat di saat langit mulai gelap. "terimakasih sudah menemaniku Valerie" ujar pria itu dengan tersenyum ramah. "sama-sama" ujar gadis itu tersenyum tipis. setelah berpamitan dengan nenek Valerie, pria itu pun pergi kembali ke rumahnya begitu juga dengan Helena masuk ke kamarnya setelah mengobrol dengan nenek Valerie. gadis itu sangat bahagia sekarang karena awal sebuah hubungan yang untuk pertama kali dibuatnya . "semoga berjalan lancar" gumamnya dalam hati sebelum terlelap .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN