Aleandra and her dream mother

1095 Kata
Hanya Aleandra yang tetap ditempat saat pertemuan itu selesai, sebenarnya bersama dengan Jazelyn tapi saat sudah malam dia menyuruh Jazelyn ketempat perkumpulan teman-temannya atau bisa dibilang markas yang terlihat seperti rumah biasa tapi saat masuk kedalamnya akan terasa hangat seperti rumah yang penuh dengan saudara-saudari didalamnya setidaknya itulah yang ada dipandangan Aleandra tentang rumah itu. pukul 9 malam gadis itu masih membaca buku yang didapatnya dari laci nakas yang ada di ruang tengah. gadis itu sangat tenang membaca buku diruangan tersebut, Sampai suara gedoran pintu menyadarkannya dan langsung berjalan kearah pintu untuk membukanya. terlihat lah kedua orangtua Caecilia dengan wajah lelahnya tapi tetap tersenyum. kedua orangtua itu masuk dan langsung menuju ruang makan, Aleandra mengikutinya karena dia pikir inilah yang akan dilakukan Caecilia tapi ternyata dia salah. "tumben kamu ikut kami makan malam" ujar sang ibu dengan senyum penasarannya tapi ada rasa bahagia juga karena anaknya ini sering mengabaikan mereka, wanita itu mulai membuka makanan yang tadi dibeli nya saat perjalanan pulang. "hehe, laper juga" ujar Aleandra tentu saja jujur karena dia beneran laper, sibuk membaca tadi membuatnya lupa untuk makan malam. kedua orangtua nya menggelengkan kepala dengan tatapan heran tapi tak lama mereka bertiga makan malam bersama. setelah selesai makan malam..... "kenapa kamu tadi tidak kursus hari ini?" tanya sang ayah karena aduan dari guru kursus bisnis Caecilia kalau anak itu hari ini tidak mengikuti pelajarannya. sebenarnya tadi Caecilia sudah menyuruh menjawabnya dengan 'ada balapan'. tapi Aleandra tidak tega setelah melihat wajah kedua orang tua didepannya jadi dia berkata "maaf pa, ma, besok aku akan mengikuti kursusnya" ujarnya dengan sedikit menunduk merasa bersalah. kedua orangtua itu sangat terkejut anaknya tiba-tiba patuh seperti ini bahkan membuat mereka tersedak air liur mereka sendiri. "Caecilia, kamu baik-baik saja kan" tanya sang ibu perhatian. Aleandra pun mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut. sang ibu terkejut, baru saja tadi pagi anak itu dengan barbarnya meminta uang kepadanya saat dia lagi diruangan khusus di museum tersebut. "hm, ma pa aku tidur dulu ya" ujar gadis itu sopan lalu berjalan menuju kamarnya. "ma, besok kamu libur saja ya, awasi anak kita itu mungkin dia sekarang lagi kerasukan kelembutan bidadari" ujar ayah nya dengan sedikit bercanda sambil melihat anaknya masuk kamar. sang ibu yang mendengarnya langsung mencubit lengan suaminya itu tapi tawa diwajahnya muncul, dia pun setuju untuk libur besok karena dia belum ambil libur untuk bulan ini, walaupun dia sang pemilik tak membuatnya males datang ke museum tersebut bahkan membuat jadwal liburannya yaitu 3x dalam sebulan. sedangkan dikamar... "berarti besok aku tidak bisa menyelidiki di museum karena harus kursus, padahal aku tadi mau bertanya tentang museum itu tapi wajah lelah mama nya Caecilia membuatku tak tega" gumamnya pelan dengan diri sendiri. keesokan paginya, pelayan menyiapkan sarapan untuk mereka setelah selesai para pelayan itu kembali kerumah khusus untuk pelayan, sang ibu melihat ponsel mengatur jadwalnya untuk besok karena hari ini dia libur, sedangkan papa nya membaca koran sambil minum teh, Aleandra turun dengan pakaian rumah yang sudah rapi menandakan dia sudah mandi. papa nya mengalihkan matanya dari koran kepada anak gadis satu-satunya itu, "tumben kamu tidak langsung pergi dengan geng motormu?" tanya papa nya penasaran. "hm, aku lagi ingin belajar saja hari ini" ucapan itu berhasil membuat kedua orangtua Caecilia terbengong menghadap kearahnya. beberapa detik kemudian wajah mereka kembali seperti semula, mereka berpikir kalau Caecilia mungkin ada masalah dengan geng motor nya itu. "ibu hari ini libur" ujar sang papa bermaksud kalau anaknya itu akan diawasi kursusnya. tapi lain dengan pikiran Aleandra, dia berpikir bisa akan menanyai wanita itu tentang museum miliknya. "benarkah ma?" tanya gadis itu dengan wajah antusias. "i iya" jawab sang ibu gugup karena heran, ekspresi anaknya saat ini tak sesuai ekspektasi mereka. beberapa jam kemudian ... papa Caecilia sudah pergi ke perusahaannya dan sang ibu lagi mengangkat telepon dikamar jadi Aleandra sendirian diruang tengah sebenarnya ada guru kursus nya yang sedang mengajarinya tentang bisnis. untung saja Aleandra seorang pebisnis walaupun dalam hal-hal kuno, bukankah dibayar saat melakukan perjalanan mencari benda di masa lampau sebuah bisnis?. tak terasa sore pun tiba, pelajaran itu selesai dengan hasil yang memuaskan tidak seperti biasanya tapi sedikit aneh karena dalam tes Aleandra banyak menjawab pertanyaan dengan menyangkut pautkan sejarah. saat gurunya sudah pulang sang ibu menghampiri anaknya itu dengan secangkir teh ditangannya. "bagaimana pelajarannya" tanya sang ibu duduk di sofa sambil meminum teh ditangannya. "lumayan" jawab asal Aleandra. "hm ma, apakah dimuseum ada lukisan palsu?" tanya Aleandra berpura-pura baru tahu. "darimana kamu tahu" tanya sang ibu sekarang menatapnya dengan serius juga. "ada temen yang bilang, dia bekerja disana" ujar Aleandra tentu saja berbohong tapi sang ibu mempercayai anaknya itu. "tapi mama sudah menyuruh manajer untuk mengurus itu dan katanya dia sudah memesan sejarawan untuk memeriksa beberapa lukisan disana dengan diam-diam agar tak mencolok" ujar sang ibu. Aleandra hanya mengangguk berpura-pura baru mengetahui hal tersebut. "lukisan mama bukankah kebanyakan dari arkeolog yang mendapatkan beberapa lukisan tua dibangunan yang tua terbangkalai seperti istana kerajaan di negara ini" tanya Aleandra. "hm iya sih makanya mama juga terkejut mendengar lukisan palsu yang disebutkan oleh pengunjung padahal arkeolog itu sangat terpercaya dan terjamin" ujar sang ibu yang mulai berpikir keras. "pengunjung?" tanya Aleandra yang memang baru tahu. "iya ada seorang pengunjung yang mendatangi manajer dan dia bilang museum mama banyak lukisan palsunya" ujar sang ibu lesu. "berarti dia yang tak pandai menilai" ujar Aleandra yang memang sudah melihat beberapa lukisan dan semuanya terlihat asli. "tapi dia sampai membawa nama arkeolog yang hanya diketahui oleh pihak museum dan dibilangnya bahwa arkeolog itu seorang penipu" ujar sang ibu. "kita harus jumpai arkeolog itu ma" ujar Aleandra serius. "sudah meninggal, 3 hari yang lalu bukankah mama sudah memberitahumu?" ujar sang ibu, tentu saja Caecilia yang saat itu diberitahukan bahwa arkeolog itu meninggal tapi seorang Caecilia takkan peduli akan hal itu. Aleandra mengangguk mengerti lalu "ma sebaiknya laporkan pengunjung gadungan itu, dia seorang penipu yang berbahaya mungkin dia pernah menyusul arsip nama-nama arkeolog itu" pringatan dari Aleandra dapat anggukan patuh dari sang ibu yang menganggap itu benar karena dia juga merasa semua lukisan itu asli dari pelukis ternama. "baiklah besok mama akan mengadakan rapat" ujar ibunya sambil menatap anaknya bangga, "makasih ya Caecilia" ujarnya sambil memeluk anak gadisnya itu, baru tahu kalau anaknya suka juga dengan sejarah. Aleandra tanpa sadar senang bisa berbicara dengan seorang ibu yang diimpikannya dari dulu. tetapi saat umurnya 10 tahun sang ibu meninggal karena sebuah penyakit. mereka berdua akhirnya berbicara tentang keadaan museum sang ibu, sejarah kota itu dan sejarah yang menjadi cerita panas di TV akhir-akhir ini. sepemikiran seperti inilah yang membuat keduanya senang berjumpa satu sama lain karena hal ini yang ingin sekali dari dulu dilakukan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN