Valerie kembali kerumahnya atau bisa dibilang ini rumah neneknya.
dia kemari untuk menjaga neneknya yang sakit, tempat tinggalnya yang sebenarnya bukan di negara ini.
"nek, sudah makan?" tanya Valerie saat masuk kerumah sederhana itu, ia melihat neneknya yang lemah terbaring diranjangnya.
neneknya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Valerie.
"obatnya sudah dibeli?" tanya sang nenek.
Valerie mengangguk lalu menyerahkan plastik yang berisi obat dari kantongnya.
"nek, aku akan berlibur disini untuk beberapa Minggu sampai nenek sembuh" ucap Valerie lembut sambil menggenggam tangan neneknya.
"bagaimana dengan pekerjaan mu val?" tanya neneknya.
"tenang saja nek, aku sudah mengambil cuti kok, lagian aku juga perlu liburan menjadi detektif membuat hidupku tidak pernah bersenang senang" ucap Valerie tersenyum tipis kearah neneknya.
neneknya pun setuju karena sejak tamat sekolah Valerie langsung dimasukkan ke pelatihan kursus detektif oleh ayahnya yang juga seorang detektif, dan setelah beberapa bulan dia langsung dipekerjakan dimulai sejak itu Valerie tidak pernah berlibur kerumah neneknya ini.
"oh iya nek, menurut nenek 7 kembaran didunia tanpa hubungan darah itu nyata atau nggak?" tanya Valerie pada sang nenek.
"tergantung" ucap sang nenek membuat Valerie bingung.
"maksudnya?" tanya Valerie penasaran.
"tergantung siapa yang mengalaminya dan siapa yang tidak mengalaminya" ucap sang nenek menatap kearah atap sambil tersenyum kearah Valerie.
Valerie pun mengangguk mengerti, awalnya dia menganggap itu hanya mitos tapi karena mengalaminya barusan membuat nya percaya akan hal itu.
"apakah kamu baru menemukan kembaranmu?" tanya nenek penasaran.
"iya tadi hanya berpapasan tapi seperti nya aku salah lihat" ucap Valerie dengan senyuman tipisnya.
tentu saja Valerie harus berbohong karena jika bilang yang sebenarnya pikiran sang nenek pasti menambah.
mengobrol selama beberapa menit membuat sang nenek terlelap diranjangnya.
Valerie pun keluar rumah duduk diteras menatap halaman yang dipenuhi rumput kecil berwarna hijau sangat segar dilihat oleh mata.
sedangkan disisi lain Jazelyn masuk kerumahnya dan langsung menelpon Rexana dan Helena bersamaan.
bisa dibilang telponan grup.
"percaya atau tidak aku jumpa lagi dengan kembaran kita" ucap Jazelyn membuka percakapan didalam telpon itu.
teriakan terkejut dilakukan oleh Rexana, sedangkan Helena terkejut juga tapi tidak histeris seperti Rexana.
"siapa namanya?" tanya Helena penasaran dengan nada datar.
"Valerie, kurasa kita harus bertemu besok" ucap Jazelyn .
"tentu saja" ujar Rexana antusias.
"kita akan menarik perhatian banyak orang" ucap Helena tidak setuju dengan pertemuan 4 kembaran tersebut.
"bagaimana kalau bertemu di perpustakaan yang sangat sepi tadi?" tanya Rexana di sebrang telpon sana.
"benar, perpustakaan itu sangat sepi kita berjumpa didalam biar tidak ada yang mencurigai" ucap Jazelyn.
"hm baiklah" ucap Helena dingin akhirnya setuju.
"oke kalau begitu besok setelah makan siang ya" ucap Jazelyn, dapat jawaban oke dari Helena dan Rexana dengan nada yang tentu saja berbeda.
setelah telponan itu dimatikan dia pun berencana menelpon Valerie.
Valerie yang sedang menikmati pandangan hijau pun terganggu karena deringan ponsel, dia pun langsung mengangkat nya saat tau yang menelpon adalah Jazelyn.
"halo Valerie, bisakah kita bertemu besok?" tanya Jazelyn dengan ramah di telpon tersebut.
"kuusahakan kirim saja alamatnya" ucap Valerie sopan.
"baiklah" ucap Jazelyn menurut.
Jazelyn pun mengirim pesan ke Valerie yang berisi sebuah alamat juga waktu untuk berjumpa besok.
Valerie pun melihat pesan itu, dia penasaran dengan kembaran yang lainnya.
malam harinya, setelah memastikan neneknya makan dan beristirahat, dia pun pergi keluar untuk makan malam di restoran, kebiasaannya saat bekerja adalah makan diluar sangat sulit mengubahnya.
dengan rambut dikuncir dibelakang dan topi beserta jaket yang dipakainya membuatnya terlihat seperti gadis tomboy ya walaupun itu memang benar.
sesampainya di restoran bernuansa sederhana, dia pun memesan makanan disana
ketenangannya saat lagi makan harus terganggu oleh seorang gadis yang berusaha untuk menutupi kepalanya dengan kerudung beserta memakai kaca mata hitam, memakai rok sepanjang mata kaki dan juga atasan yang sangat anggun.
"tolong aku" ucapnya kepada Valerie sambil mengambil tempat duduk disampingnya, gadis itu melihat kesekitar dengan waspada.
"maaf anda siapa ?" tanya Valerie bingung dengan wajah yang berusaha ditutupi kerudung itu membuat Valerie tidak melihatnya dengan jelas.
tapi dari pakaian yang digunakan gadis didepannya ini dia menyimpulkan bahwa gadis ini adalah anak baik baik.
"bisakah aku minta tolong padamu untuk kabur darisini, kemana pun yang penting menjauh darisini" ucap gadis itu dengan nada memohon.
karena penasaran apa yang terjadi dengan gadis didepannya, dia pun memutuskan membantunya keluar dari restoran itu dan mengajaknya berjalan kearah rumah neneknya.
saat mulai jauh dari restoran gadis itu membuka kerudung dan juga kacamata nya lalu menghela napas lega, Valerie yang sudah melihat dengan jelas wajah itu membeku dengan wajah syok.
"a aku Quella, nama kamu siapa?" tanya nya dengan lugu mengulurkan tangannya.
melihatnya memperkenalkan diri membuat Valerie menggumamkan sebuah kalimat dengan sangat pelan "kembaran yang lain lagi" seperti itulah dia bergumam.
"aku Valerie" ucapnya membalas uluran tangan itu sebentar lalu melepaskannya lagi.
"Valerie kenapa terkejut menatapku" tanya nya polos.
Valerie pun membuka topi beserta maskernya, hal itu membuat Quella terkejut hingga mundur satu langkah.
"Ki kita kembar" tanya nya gugup.
"iya" jawab Valerie singkat lalu memakai topinya kembali.
"tapi bagaimana bisa bukan kah kita tidak sedarah" tanya Quella dengan polos.
"kita kan memang memiliki 7 kembaran didunia nyata" ucap Valerie berusaha santai.
"ternyata itu bukan mitos" gumam pelan Quella.
Valerie pun mengangguk setuju.
setelah lama mengamati wajah mereka masing masing tiba tiba Quella teringat sesuatu.
"hm Valerie bolehkah aku ikut kerumahmu?" tanya Quella dengan wajah memelas.
"memangnya ada apa" tanya Valerie bingung.
"aku keturunan bangsawan, walaupun bukan bangsawan utama tapi perjodohan tetap dilakukan oleh orangtuaku agar dapat pasangan yang sepantaran" jelas Quella dengan lesu. ternyata direstoran tadi membahas tentang perjodohan Quella dengan keluarga bangsawan lain.
Valerie pun iba dengan keadaan kembaran didepannya ini, dia pun teringat tentang pertemuan besok bersama Jazelyn dan kembaran yang lainnya.
"baiklah tapi besok kita harus bertemu dengan yang lainnya" ucap Valerie membuat Quella bingung.
"yang lainnya" tanya Quella bingung.
"besok kau akan melihatnya sendiri" ucap Valerie tersenyum tipis.
mereka berdua pun berjalan kerumah neneknya Valerie.
setelah sampai
"maaf ya rumahnya seperti ini, pasti kau terbiasa dengan istana yang megah kan" ucap Valerie sambil mengajak Quella masuk kekamarnya.
"bahkan ini lebih baik daripada tidak punya rumah sama sekali seperti anak anak dipinggir jalan, terkadang aku ingin sekali tidur dijalanan untuk merasakan yang mereka rasakan pasti sangat tidak enak" ucap Quella dengan tulus dan lugu.
Valerie yang mendengar hal itu pun membuat hatinya simpati pada Quella, tanpa disadarinya senyuman tipis pun muncul diwajahnya.
"lebih baik kita tidur sekarang" ucap Valerie ramah.
"hm baiklah, tapi apakah Valerie tinggal sendiri disini?" tanya Quella penasaran.
"ini rumah nenek ku, hanya beberapa Minggu aku disini menunggu nenekku sehat setelah itu aku pulang kerumah ku" ucap Valerie menjelaskan sambil berbaring bersampingan dengan Quella.
"ooh begitu ya" ucapan Quella adalah penutup pembicaraan mereka.