Mata Aldo membulat sempurna saat melihat Kanaya langsung menodongkan dengan banyak pertanyaan. Bahkan wanita itu memangkas jarak sambil memukul-mukul dadaa bidang Aldo. "Kenapa kamu lakukan itu, Do?!" "Kenapa harus bohong? Nathan belum meninggal 'kan." "Aku kecewa sama kamu, Do. Aku berusaha membuka pintu hati. Tapi, kamu telah mematahkan kembali. Rasa sakitku tak ditanggung Bepejees!" pekik Kanaya sambil terus memukul bersama air mata yang berkejaran-kejaran. Aldo bergeming. Lidahnya kelu untuk menjawab. Matanya hanya mengembun saat melihat tangisan Kanaya semakin kencang. "Aku mau datang ke sini. Ingin membuka lembaran baru bersamamu. Tapi, kamu membuka halaman baru itu dengan kebohongan." "Kanaya, tenang." Kanaya beringsut mundur menjauhi Aldo. Dia lempar ponsel milik Aldo. Iya

