Crius menatap manik merah membara di depannya yang menatapnya akan amarah di dalam manik merah tersebut, yang pada akhirnya membuatnya mengalihkan pandangannya menjauh dari mata Amorist.
Dirinya tahu dan sadar betul jika kelakuan dan tingkahnya baru saja berhasil memancing sisi iblis dari Amorist untuk menyeruak keluar. Setelah ribuan tahun lama yang mereka lewati bersama dalam setiap rangkaian momen yang tak terbatas, kemarahan dari saudaranya bukanlah satu hal yang terlewati, namun bukan berarti Crius juga dapat mengabaikan kemarahan dari sang penguasa iblis kepadanya.
Kemarahan itu adalah pemicu untuk dirinya kembali tunduk dan sadar bahwa pria yang sedang menatapnya penuh amarah dan tengah berbicara dingin padanya, bukanlah sosok kakak laki - lakinya melainkan sosok dari penguasa negeri Keaton.
Crius tidak mempunyai pilihan selain tunduk dengan Amorist, sang penguasa.
“Ada apa denganmu Crius ? Kau terlihat begitu ragu dan khawatir akan tindakanku.” Ucap Amorist dengan nada memperingati pada adiknya yang kini menjauhkan pandangan mata mereka berdua.
“Aku hanya tidak ingin kau mengalami lebih masalah.” Setelah Crius menyelesaikan ucapannya maka cekikan pada lehernya menguat, bahkan kuku - kuku tajam dari Amorist telah berhasil menggores leher miliknya hingga mengeluarkan sedikit cairan darah.
“Itu bukan berarti kau bisa berlaku seperti seperti ini padaku. Berhati - hati dengan ucapanmu. Apa karena aku telah lama tidak duduk di atas tahta hingga kau begini. Jangan coba melewati batasmu.”