Title S. Ab

1348 Kata
DI DEPAN cermin lemari berukuran seratus tujuh puluh sentimeter aku mematut pakaian. Beberapa kali berganti posisi, kadang menghadap lurus ke depan, kadang kepala menengok sembilan puluh derajat ke belakang, untuk memastikan tidak ada bagian yang kusut dari pakaian hitam putih formalku. Kemarin setelah maju mundur mengirimi pesan pada Haifa, akhirnya aku berhasil menghubunginya. Meskipun hanya bertanya pasal kabar dan memberikan ucapan rindu. Dan melupakan hal penting lainnya seperti ‘apakah ada lowongan pekerjaan?’ untuk ditanyakan. Sebab, ibu terburu-buru datang. Dia teramat antusias memberi kabar, bahwa sekolah TK di komplek sebelah sedang kekurangan guru. Beliau merekomendasikanku untuk mencoba melamar kesana, barangkali nasib mujur diterima dan bisa daftar ASN. Ibu bilang tidak ada salahnya untuk datang dan mencoba. Dan atas usul cenderung memaksanya hari ini ku gunakan pakaian formal ini sekarang. “Berlebihan gak sih pakai ginian. Bisa-bisa dikira tetangga udah keterima kerja aja” gumamku. “Pecah juga tuh cermin lama-lama” komentar kak Tere pedas, aku lupa menutup pintu kamar. Wajahku merengut masam. “Udah jam segini lho, Keen. Kapan berangkatnya, kamu?” ibu mulai khawatir. Beliau sudah berdiri di depan pintu kamar. “Sudah kok ini” balasku lalu menyampirkan tas ke bahu kanan. Aku menarik tangan kanan ibu untuk menyalaminya dan mengucap salam. “Berkas-berkas, gimana? Lengkap?” ibu menahan tanganku. “Aman. Udah Keenan cek sampe tiga kali”, “Keenan, berangkat dulu, ya, bu” kataku begitu ibu melepaskan genggaman tangannya. “Semoga berhasil!” do’anya lagi. Meskipun sudah banyak doa yang ku langitkan, kalimat-kalimat positif ku rapalkan, tetap saja lebih banyak kecondongan untuk balik badan dan kembali ke rumah. Kesadaran diri seratus persen bahwa bakat mengajar tidak pernah ku miliki dan perasaan suka anak-anak yang setengah-setengah, membuat langkah terasa berat. Terakhir kali dititipkan Lira--keponakanku beberapa jam saja membuatku hampir berubah wujud menjadi sepupunya makhluk primitif versi Darwin alias gorila. Kalau kata ibu, penampakanku mirip ibu-ibu beranak sepuluh. Acak adul dan sangat tempramental. Senggol dikit langsung bacok. Berlebihan? Sangat. Bagian terakhir ibu terlalu mendramatisir. Aku hanya sedikit meninggikan suara beberapa oktaf dan membesarkan volume kala Lira berbuat ulah. Cukup membuatnya patuh beberapa menit. Setelahnya? kumat lagi. Begitu terus, hingga sang induk pulang. Diperhalus seperti apapun, tetap tidak menghilangkan fakta bahwa aku tidak becus untuk menjaga apalagi mengajari anak kecil. Aku lebih memilih angkat tangan, daripada bersitegang urat leher berjam-jam untuk meneriaki bocah kinyis-kinyis yang memiliki energi tiada batas. Berbanding terbalik dengan staminaku yang pas-pasan cenderung kurang. Amat sangat tidak cocok. Alih-alih bisa menabung, yang ada gaji sebulan mengajar anak-anak TK habis untuk tempelan kertas ajaib alias koyo disekujur tubuhku dan obat penyegar tenggorokan. Anehnya, akal sehat yang tadinya menggebu-gebu untuk melemparkan penolakan menciut begitu saja saat mendapati wajah ibu yang penuh harap. Sama sekali tidak ada keberanian yang muncul kepermukaan untuk menghancurkan pemandangan indah itu. Pada akhirnya motor terus bergerak maju, membawaku memasuki area parkir yang tergabung dengan kantor urusan agama. Salah satu abang-abang jajanan disana menyapa, senyumnya tak kalah silau dengan matahari yang mulai naik lebih dari seperempatnya, “Sendiri aja, Mbak?” tanyanya sopan. Alisku bertaut. Sudah sebesar ini masa harus diantar orangtua? Aku tersenyum palsu, “Iya, nih, Bang” “Sibuk, ya, pasti calonnya?” tebaknya ramah. Hah? Sebentar-, “Maksudnya gimana, Bang?” bertanya ulang, aku tidak mengerti. “Mbak mau daftar pernikahan, kan?” tunjuknya ke samping bangunan TK, KUA. Senyumku kaku. Apa sekarang daftar pernikahan pun harus menggunakan pakaian formal? Hingga pakaian hitam putihku disalah artikan seperti ini? “Bukan, Bang. Saya mau ke bangunan sebelahnya, TK” Mulut abang jajanan itu membentuk huruf O kemudian tersenyum sumringah, seakan menemukan jawaban dari kebingungannya, “Oh-walah, mau jemput anaknya toh?” lagi, dia menebak sesukanya sambil mengangguk-angguk. Agaknya sering berinteraksi dengan anak-anak, membuatnya tertular senang bermain tebak-tebakan. Senyumku memudar, “Bukan, juga. Anu, saya masuk dulu, Bang. Permisi” pamitku padanya mengakhiri sesi tebak-tebakan itu, pun juga enggan memberikan klarifikasi. “Iya, mari-mari” ucapnya ramah, senyumnya tak kunjung luntur. Aku berjalan maju menuju kantor yang terletak di bagian ujung bangunan TK yang ternyata kosong, tidak ada siapapun didalam ruangan. Kontras dengan ruangan sebelah yang terdengar seperti keributan gempa bumi. Ku telisik melalui sela jendela, sebuah pemandangan normal di dalam kelas pada umumnya. Anak-anak berlarian, ada yang menangis di pojok ruangan lantaran berpisah dari orangtuanya, ada yang asik dengan dunianya sendiri, dan ada yang bertengkar serta satu orang guru yang tidak henti-hentinya berteriak didepan, wajahnya merah padam. Kakiku otomatis mundur perlahan. Tidak bisa. Ini …. Salah! Aku tidak sanggup menghandle anak-anak itu! Sebuah tepukan dari arah belakang membatalkan niatku. “Nyari siapa?” tanya seorang wanita usia empat puluhan. Matanya menotice ke arah berkas yang ada di tanganku. “Ngelamar posisi guru disini, ya? Alhamdulillah” ucapnya, ada hembusan napas lega didalam suaranya. Ibu itu kemudian memintaku menunggu di dalam kantor sementara beliau memanggilkan kepala sekolah TK ini. Mataku berkeliling, mengamati ruang seukuran 5x4 meter. Aku tidak begitu paham soal desain atau tata letak perabot yang sedang marak saat ini. Yang ku pahami, kesan pertama pada ruangan ini adalah sesak. Sound system tergeletak di pojok pintu beserta kabel mikropon yang digulung sembarang. Selain itu, ku temukan sofa di dekat jendela yang separuhnya di tutup oleh lemari kaca transparan berisi berkas dan piala-piala yang disusun secara acak. Di seberangnya lagi, terdapat lemari yang penuh dengan stok seragam sekolah. Ku pikir ruangan ini sebentar lagi akan meledak, memuntahkan segala perabot yang ada. Satu-satunya pemandangan yang bisa membuatku bernafas lega hanyalah pintu masuk yang terbuka lebar, menampilkan lapangan playground yang cukup luas. Sebagian ibu-ibu menunggu anak-anak di sekitarannya. Saling melempar guyon atau sekadar bergosip ringan. Dan disamping itu, pikiranku berubah menjadi ragu, mempertanyakan apakah tepat kesempatan ini untuk diambil. Terlebih setelah melihat pemandangan beberapa menit yang lalu. Suara ketukan dari luar memutus lamunan singkat, “Maaf ya dek nunggu lama. Ada perlu apa, ya?” beliau masuk, terburu-buru meletakkan beberapa buku dari apitan ketiaknya. Lalu beralih merapikan meja di depanku dari tas dan beberapa plastik bekas bungkus makanan beserta sisa remahannya. Ku lihat nametag disebelah kiri dadanya tertulis Pratiwi, S.Pd. “Oh, ini, saya mau mengajukan surat lamaran, Bu. Saya dengar, sekolah ini memerlukan guru. Apa betul?” tanyaku sopan. “Oh, iya betul. Saya lihat sebentar, ya” wanita usia empat puluhan itu menarik map yang ku serahkan. Dia membaca halaman pertama, “Jurusan administrasi bisnis?” gumamnya sendiri, pangkal hidung dan jidatnya berkerut, sementara alisnya terangkat sebelah. Tanganku meremas sebagian rok hitam yang tersampir di bawah meja. Apakah sesi wawancara di langsungkan sekarang? Secepat ini? “Bukan dari fakultas keguruan, ya? …. Oke” ujarnya mengangguk paham, tidak memerlukan jawaban dariku. “Tapi, sebelumnya sudah pernah ngajar?” selidiknya, mencoba mencari benang merah antara jurusanku dengan profesi yang sedang kosong di sini. “Belum pernah” mimik wajah bu Tiwi berubah, inderaku mencium bau-bau kegagalan. “Atau sempat ngajar les mungkin?” tanyanya sekali lagi, tak langsung menyerah. Aku masih menggeleng. Kepala wanita itu menggangguk. Seolah sudah mendapatkan keputusan yang harus diberikan padaku. Bahuku merosot, jantungku melorot hingga keusus besar. “Oke, sementara kami terima dulu ya dek surat lamarannya. Nanti kami informasikan lagi untuk kelanjutannya” ujarnya menggantung. “Oh, iya. Terimakasih banyak, bu” ucapku seraya bangun dari tempat duduk. Aku membungkukkan badan berkali-kali padanya dan satu orang guru lainnya yang baru masuk. Rasanya kedatanganku di sini lebih mirip seperti anak yang tersesat, salah jurusan dan salah alamat. Aku berhasil mempertahankan senyum mengembang hingga akhirnya keluar ruangan. Rekor baru dalam dunia pertebalan mukaku. Luarbiasa. Kemana larinya wajah ekspresifku? Pesimistis mengiringi langkahku menuju area parkir. Penolakan dalam bentuk apapun selalu terasa menyakitkan meskipun konteks kali ini bukan mengenai pekerjaan yang ku impikan. Gambaran-gambaran hidup pengangguran, tidak berpenghasilan, tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, dan beban orangtua, menamparku berkali-kali lipat bahwa yang ku lakukan selama empat tahun belakangan hanyalah kesia-siaan. Aku bertemu abang jajanan itu lagi, dia masih belum pulang. Di wajahnya kembali terbit sebuah senyuman. Kenapa begitu mudah baginya menebar senyum pada oranglain? Apa penghasilannya hari ini sedang melimpah? Bisa jadi. Ah, aku jadi merasa malu, kalah dengan abang-abang yang tidak menyandang gelar apapun di belakang namanya. Apa gunanya title S. Ab? Menambah beban gengsi saja! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN