Temu Rindu

1554 Kata
‘ADA apa?’ komentar Haifa pada status w******p hasil repost yang ku kirim beberapa menit lalu. Satu pertanyaan sederhana itu berhasil membuat perasaanku tersentil menjadi semakin sentimental. Aku membalasinya dengan jawaban paling diplomatis di perkamusan perempuan. “Gak papa” ku bubuhkan beberapa emoticon ceria di dalamnya. Berkebalikan dengan keadaan yang di alami, airmata berkucuran sana sini. Iya, tak perlu untaian panjang untuk menghibur. Cukup pertanyaan sederhana sudah bisa membuatku merasa dirangkul. Tiba-tiba room chat menghilang digantikan oleh tampilan wajahku dengan simbol ceklis hijau dan silang merah. Dia melakukan panggilan video tanpa aba-aba. Cepat-cepat ku sapukan airmata ke lengan kanan baju tidur. “Hai, Keen! Apa kabar?” serunya ceria di seberang sana. Latar belakang putih dengan pencahayaan remang mengisi layar ponselku. Sudah berapa lama ya tidak ku lihat gadis pemilik alis tebal ini? Sebentar, kemana larinya pipi gembul Haifa? Dia… semakin cantik. Aku tersenyum, “Baik. Kamu sendiri, gimana? tanyaku balik. “Sudah pasti baik dong, ya, ibu ajudan negara!” kedua alisku bergerak naik-turun disertai kekehan pelan. “Kamu bareface gini aja cantik lho, Fa. Bikin pangling!” pujiku. Dia tertawa, mencetak lesung pipi semakin dalam diwajahnya, “Hiperbolis, deh. Seneng bisa lihat kamu lagi” ungkapnya, Haifa beralih ke tempat tidur. Wajahnya terbenam diantara selimut dan guling yang terlihat sangat empuk. “Seneng juga bisa bikin kamu seneng lagi” lawak ku yang disambut dengan tawa renyahnya. Haifa Laksmi Kusuma, alumni IPDN dan sekarang sedang menjabat sebagai salah satu staff pemerintah daerah. Ku tanggalkan semua rasa gengsi untuk menyambung lagi tali silaturrahmi yang sempat terputus demi mengundang datangnya rejeki--eh--demi merekatkan kekerabatan--sesaudara, seummat dan seiman. “Gimana? Sudah ketemu perusahaan yang kamu incar?” Akhirnya sampai ke pertanyaan ini. Haifa tahu sejak dulu cita-citaku ialah bekerja diperusahaan terkenal. Nyatanya perusahaan paling tertinggal sekalipun tak tertarik melirik cv-ku. Aku menggeleng, “Masih dalam perjuangan” seringaiku diiringi tawa yang garing. “Gak papa. Gak usah buru-buru. Nikmati aja prosesnya. Asal gak berhenti dan nyoba terus, sudah cukup kok, Keen” nasihatnya. Meskipun pada dasarnya aku adalah manusia paling santai diberbagai aspek kehidupan. Namun, jika berada diposisi terhimpit oleh zero penghasilan dan kejombloan. Ku rasa, tidak ada yang mau berdiam diri untuk jalan ditempat dan dengan santainya dadah-dadah, menikmati ketertinggalan. Termasuk diriku. Setidaknya akan ada kepanikan serta jeritan untuk memberi tanda seseorang membutuhkan bantuan. Hebatnya, jeritan itu masih sempat bersembunyi di dalam rasa malu. Yep, rasa malu pada mereka yang jauh didepan. Sebab, ada harga diri yang harus dilindungi, meskipun waktunya kurang tepat. Aku tersenyum, “Thanks” hanya satu kata enam huruf itu saja yang keluar dari mulutku. “Kapan-kapan ketemuan, yuk?” ajaknya enteng. Uang dari pos mana lagi yang bisa ku alokasikan untuk ajakan satu ini? Seingatku, terakhir kali menggulir resleting dompet untuk bayar fotocopy ijazah dan segala t***k bengek berkas untuk melamar kerja tersisa recehan--yang entah berapa rupiah. Itupun hasil sumbangan dari ibu. “Boleh” jawabku, menganggap angin lalu ajakannya. “Kamu sendiri, gimana? Enak di kerjaan yang sekarang?” tanyaku memutar haluan. “So, far. Not bad. Terutama bagian incomenya, sih. Bikin hidup terasa tentram, stabil lah. Eh, iya sekarang aku udah gak tinggal sama bapak dan ibu lho, Keen. Kapan-kapan main dong kesini, biar rame” ungkapnya antusias. Harusnya aku senang kan mendengar teman dekatku dulu sudah sukses? Anehnya, bibirku tertarik kaku, yang muncul hanyalah senyuman terpaksa. Entah setan mana yang sedang memprovokasi, hingga nada bicara Haifa terdengar congkak ditelingaku. Tuhan, sulit sekali ujianmu kali ini. Selain membuat kikir mengeluarkan sepeser uang juga membuat sedikit husnudzon, bawaannya ingin suudzon terus. “Oh, ya? Trus tinggal dimana kamu sekarang? Sendiri?” sedikit ku tinggikan suara agar terlihat tertarik dalam pembicaraan ini. “Iya. Biar efisien aja, sih. Soalnya dekat sama kantor. Sekalian belajar mandiri juga, supaya ngerti arti uang” paparnya. Memangnya ada lagi arti uang selain alat tukar untuk membeli barang atau jasa, sehingga diperlu dipelajari lagi? “Keren, sih. Pingin deh nanti mampir” sahutku datar. Sulit sekali bagiku untuk mempertahankan lengkungan bibir ini terus mengembang. Untungnya, Haifa tidak menyadari dan dengan antusias dia mengangguk setuju. Tidak lama setelah Haifa menceritakan dunia kerjanya dan alasan mengapa akhir-akhir ini kantor terasa lebih indah. Well, singkat cerita, Haifa sedang jatuh cinta pada laki-laki yang sedang bekerjasama dengan kantornya untuk merombak gedung pengadilan. Sekitar pukul sebelas malam, dia memutuskan untuk mengakhiri panggilan video dengan alasan agar skincare mahalnya tidak terbuang sia-sia. “Udahan dulu, ya Keen. Nanti saling berkabar aja, ya. Selamat malam” pamitnya sebelum memutus sambungan. Badanku berguling, menghadap langit-langit kamar yang mulai disarangi laba-laba. Mataku tidak mengantuk sama sekali. Informasi perkembangan Haifa yang begitu mulus masih segar di ingatanku. Memicu seringai sinis, mengomentari pencapaiannya. Perawatan wajah? Jangankan skincare, memikirkan bahwa setiap harinya aku adalah seorang pengangguran saja sudah amat mencekik. Aku tidak punya waktu (dan uang tentu saja) untuk melakukan hal yang serupa, meskipun aku sangat ingin. Tarikan nafas memberat. Apakah sekarang aku iri? Sangat. Bahkan sekarang aku juga kecewa pada diriku sendiri. Kapan kiranya giliranku tiba, Tuhan? Bahkan ajakan lepas rindu biasa oleh Haifa terdengar seperti ejekan bagiku. Menunjukkan bahwa takdir kami berbeda dengan dia yang lebih sukses dan aku seorang yang gagal. Menyedihkan sekali. *** Mataku berkeliling--menatap desain interior ala Korean style, dominan menggunakan tone pastel cerah, memberi kesan bersih dan lembut. Beberapa pembeli berlalu lalang didepan kasir. Seiringan dengan lonceng pintu yang bergerincing, Haifa datang. Style Shabby chic dan dewasa membalut tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai membentuk harmoni indah bersama kulit putihnya. Pemandangan yang akan membuat mata laki-laki tidak berkedip bahkan menahan napas. Sangat jompang dengan penampilanku yang terkesan sangat effortless--(atau seadanya). Pipinya menempel pada wajahku--cipika-cipiki. Sebuah sapaan hangat. Dia banyak berubah. Haifa tersenyum cerah, pembawaannya ramah. “Hei, sudah lama?” dia mengambil tempat diseberangku, dihalangi oleh meja bundar putih polos. “Baru, kok” aku menelisik penampilanku sekali lagi. Ketimbang jadi teman, aku lebih mirip jongosnya sekarang! “Dari dulu kamu itu emang sudah cantik. Tapi, setelah liat penampilan kamu sekarang. Mustahil, sih kamu masih jomblo” komentarku logis, Haifa tertawa. “Revisi, Soon udah berdua. Lagi diusahakan ini. Lagipula, omongan itu do’a lho, Keen” dia mengibaskan rambut sedikit bergelombang sebahunya. “Iya, deh. Semoga gayung bersambut” ungkapku. Seorang pelayan membawa pesanan kami. Meletakkan ice latte jelly untuk ku dan Jus kale tanpa gula untuk Haifa. Aku menyedot minuman dengan mata terpejam. “Manis, ya?” tanya Haifa yang lebih terkesan seperti menebak. Kepala mengangguk, “Banget” sahutku. Minuman ini terasa lebih enak dari biasanya karena tak pernah melewati tenggorokanku lagi setelah sekian purnama. “Mau?” tawarku berbaik hati. Haifa menggeleng, “Sekarang gula tuh udah jadi kaya musuh banget” tuturnya lalu meminum jus hijau--yang entah rasanya seperti apa. Wajah Haifa terlihat begitu datar saat menenggak jus sehat itu. “Kamu diet? Gak makan gula sama sekali?” tanyaku takjub, pantas saja badannya bisa selangsing ini. “Kadang makan, kok. Sesekali. Tapi, habis itu mesti puasa karbo. Badan loyo banget. Ketimbang ngurangin karbo. Aku lebih milih nahan minuman manis kaya gitu. Kalorinya naudzubillah” tunjuknya pada minumanku dengan tatapan kengerian. “Investasi jangka panjang. Ngurangin gula tuh bagus juga lho ternyata buat kulit” sambungnya, mirip coach diet yang sedang marak akhir-akhir ini. Aku mengangguk-ngangguk. Kemudian menurunkan minuman ke meja--kehilangan selera. Aku semakin merasa berdosa karena meminumnya tanpa rasa bersalah sama sekali. Lalu menatapi wajahku yang mengusam dan beberapa bruntusan di sekitar jidat pada layar ponsel. Berbeda dengan wajah gadis di depanku ini. Definisi mulus, glowing, shimmering, splendid, ya Haifa ini. “Ehm. Trus-trus gimana perkembangan sama arsitek muda itu?” mengalihkan konteks pembahasan yang menekankan betapa buruknya kehidupanku yang tidak berkonsep cenderung abstrak ini. Dia tersenyum malu, kedua tangannya berpangku ke meja, menopang dagunya dengan kedua tangan membentuk garis V “Nah, itu masalahnya dia baik kesemua orang. Aku jadi agak ragu kalo dia tertarik balik sama aku” ceritanya pesimis. Lha, bukannya tadi dia sangat optimis? Apakah ada laki-laki lain selain si arsitek-arsitek ini? “Kalo kamu, gimana? Awas, ya, Keen kalo tau-tau nyebar undangan aja. Minimal cerita, kalo udah punya calon” nasihatnya. Tawaku sumbang. “Gak ada dipikiran aku buat nikah dalam waktu dekat. Karir aja masih digaris start, gak maju-maju” jelasku manyun. Rusak sudah mood yang ku bangun sejak pagi. “Masih belum ada panggilan dari perusahaan yang kamu lamar?” Haifa ikut prihatin. Aku menggeleng lemah. “Kamu dong kalo ada informasi bagi-bagi. Aku yakin temenmu banyak” todongku diselingi nada bercanda. “Sebentar” ucapnya kemudian menelisik isi ponsel yang menganggur di sisi kanan jusnya. Dia mengetikkan sesuatu, “Kemarin itu temenku ada yang posting loker gitu di perusahaannya. Gak tau, ya udah keisi apa belum posisinya” ucapnya dengan mata yang masih tertuju pada layar persegi panjang itu. “Perusahaan apa?” tanyaku. “Kurang tahu, sih, ya” ponselnya bergetar, “Eh, masih kosong nih, Keen katanya. Kamu, mau?” tanyanya. Aku mengangguk semangat. “Langsung aku kirimin aja ya kontaknya. Biar kamu lebih enak juga nanya-nanyanya. Soalnya aku kurang ngerti kalo berhubungan sama perusahaan” selorohnya. “Boleh, tuh” ganti ponselku yang bergetar, satu kontak baru telah dikirim Haifa. “Thanks banget, ya, Fa” senyumku mengembang. “No, prob. Sebagai gantinya, kalo keterima kerja di sana, jangan lupa traktirannya, ya” godanya dengan cengiran jahil. Tawa kami pecah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN