ADA tiga kategori kesuksesan menurut versiku. Pertama, sukses karena sokongan orangtua. Kedua, sukses karena faktor lucky yang banyak dan ketiga, sukses karena kerja keras. Dari ketiga hal tersebut, hanya satu variabel yang ku miliki, yaitu kerja keras. Tapi, tak ada plot twist seperti hidupku berubah menjadi orang ‘sukses’.
Lihat saja, berapa banyak usaha yang sudah ku lakukan untuk mendapatkan kata sukses itu. Mulai mengirimkan surat lamaran ke beberapa perusahaan yang ada dikota ku hingga diluar kota. Tak ada panggilan sama sekali. Hingga hari ini. Hingga join reseller skincare yang akhirnya habis ku pakai sendiri lantaran tak ada pembeli akhirnya ku hitung rugi.
Masalah ini membuatku bertanya-tanya, apa jangan-jangan dari awal aku memang sudah ditakdirkan untuk hidup dalam kepayahan selamanya? Ataukah sebenarnya usahaku masih belum cukup banyak untuk meraih definisi sukses yang ku maksud? Semuanya terasa begitu abu-abu.
Inginku hanya satu, bebas dari finansial sedini mungkin atau setidaknya aku punya penghasilan tetap yang bisa ku banggakan pada orangtua atau pada teman-temanku. Apa sesulit itu mengabulkannya, Tuhan?
“Makan tinggal makan. Tidur tinggal tidur. Enak banget, ya hidup kamu” komentar Kak Tere yang berjalan menuju dispenser, membuatkan s**u untuk Lira.
Padahal moodku benar-benar sudah hancur tak berwujud pasca wawancara kerja kemarin. Masa iya, harus ditambah dengan ocehan orang satu ini lagi. Dia lupa, ya dengan segala jasaku pada anaknya--sebagai babysitter dadakan--setiap kali dia menitipkan Lira saat ada acara penting disekolah, heh? Mulutnya itu minta dijahit, apa?
“Apa, sih yang sesama beban ibu sama bapak juga. Mending diam, deh” balasku tak kalah pedasnya.
Dia menarik nafas. “Setidaknya waktu ibu masak, kamu cuci piring kotornya, dong” ceramahnya seolah selama ini hanya dia yang mencuci piring. Dia pikir kemarin-kemarin siapa yang mencuci tumpukan wajan, piring dan segala macam alat dapur? Jin?
Ganti, kini mataku yang beralih sinis kearahnya, perang dimulai. “Iya, paling enggak, waktu Lira ngeberantakin rumah sama mainannya kakak juga dong beresinnya, bukannya malah aku atau ibu!” intonasi suaraku tak lagi terkontrol.
Sudah cukup rasa sabarku selama ini. Bagaimana bisa orang yang berlabel sedarah daging ini bersikap begitu kasar pada orang yang baru memasuki dunia orang dewasa? Padahal jelas-jelas dia merasakan hal yang sama lebih dulu daripadaku.
Harusnya dia jauh lebih pengertian daripada orangtua ku ‘kan? Apa dia merasa lebih baik karena diselamatkan lebih awal oleh suaminya? Itupun dia belum bisa lepas sepenuhnya, padahal sudah berkembangbiak ini! Skor kedudukan kami disini sama, 1:1.
Kak Tere menaruh botol s**u ke atas meja makan, berdiri lurus menghadapku “Kalo gak mau ya udah, gak usah diberesin. Kakak gak pernah lho, ya nyuruh-nyuruh kamu” sahutnya acuh tak acuh.
“Iya, tapi dengan kakak ngebiarin berantakan berjam-jam sama artinya dengan nyuruh oranglain buat ngeberesinnya” balasku sewot.
“Masalah kamu apa sih, Keen? Kakak gak paham, pakai acara ngungkit yang sudah-sudah” tanyanya kehabisan bahan.
Halah, jurus lama!
“Harusnya aku yang nanya. Masalah kakak sama aku apa sih? Tiap hari nyindir-nyindir pake omongan pedas?”
“Iya aku tau, aku pengangguran dirumah ini, beban bapak sama ibu. Aku juga gak mau diposisi ini buat nyusahin mereka. Tapi, apa harus dengan cara sejahat ini buat dorong aku? Memangnya dengan nyindir gitu, aku bisa dapat kerjaan, heh? Enggak, kan?” todongku setengah berteriak.
Ibu bertanya-tanya dari balik sekat ruang makan dan ruang tamu. “Ada apa, ini?” ibu tergopoh-gopoh mendatangi. Wajahnya khawatir melihat ku dan Kak Tere bergantian.
“Gak usah banyak omong kalo gak bisa ngasih solusi. Mending diam. Lagian aku gak ngerepotin hidup kakak. Sekarang apa masalahnya?” bahuku naik turun. Mataku terasa perih.
“Sudah. Sudah. Gak baik bertengkar sama saudara sendiri” nasihat ibu sambil mengelus punggungku yang bergetar.
“Kalo kakak ngerasa gak betah liat aku pengangguran disini, silakan angkat kaki dari sini!” ucapku terakhir sebelum meninggalkan rumah. Perasaanku benar-benar puas setelah mendapati wajah Kak Tere berubah menjadi pias. Ku abaikan teriakan ibu bersama langkah terburu-buru meninggalkan rumah.
Iya, aku tahu. Ucapanku yang terakhir tidaklah pantas keluar dari mulutku. Rumah punya siapa, yang ngusir siapa? Ada rasa bersalah tersendiri setelah mengatakannya. Aku kabur, menuju dermaga terbengkalai. Tempat paling strategis untuk menyendiri dan menangis. Langit yang abu melengkapi scene melankolisku hari ini.
“Dia pikir diamku itu berarti baik-baik saja, hah?” monologku sendiri. Angin kencang menabrak permukaan wajah yang basah. Mataku terasa kering, mengundang airmata lainnya untuk luruh bersamaan.
“Memangnya dia pikir aku menikmati keberuntunganku yang kurang, huh?”,
“GAK! GAK SAMA SEKALI!” teriak ku garang.
“Aku sudah berusaha, bahkan hingga diluar passion tetap ku lakukan. Tapi, aku bisa apa kalau rejekinya memang belum ada?” tanyaku lantang.
“Bagaimana ku ceritakan bahwa satu-satunya panggilan wawancara kemarin yang berhasil melambungkan harapan sekaligus menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya hanya untuk mengetahui fakta menyedihkan bahwa pekerjaan yang akan ku lakukan ternyata menjajakan suplemen pemutih, pelangsing, peninggi, pembesar bahkan hingga ke penguat ‘anu’?”,
“Apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana sakit hati dan kecewanya aku pada diriku sendiri? Bahkan tanpa diingatkan pun, aku sudah sadar bahkan mengakui betapa payahnya aku” keluhku tergugu di tengah sumbatan cairan hidung yang balapan keluar dengan air mata.
Di tengah derasnya badai angin yang menerbangkan rambutku, terdengar suara tawa yang tertahan dari balik kursi. Aku terdiam, mengamati sekitar. Waspada. Tiba-tiba ku temukan sebuah kepala hitam yang menyembul dari balik kursi memanjang--sumber suara yang ku curigai.
“Ah, maaf sebelumnya. Saya gak bermaksud menguping, saya… saya tadi tertidur disini” jelas seorang pria muda menggaruk tengkuknya. Dan… s**t! Dia tampan.
Untuk seperkian detik lamanya mataku tidak berkedip. Siapa gerangan pemuda kearab-araban ini? Seumur-umur tidak pernah ku lihat laki-laki dengan wajah blasteran nan rupawan di sekitaran komplek rumahku.
Mata cokelat terang, rambut bergelombang, hidung macam perosotan, sedikit rambut halus hasil shaving disekitar bawah hidung dan dagunya. Dan tingginya, cukup membuat leherku pegal untuk sekadar mendongak menatapnya saat ini.
Suara berat maskulin darinya membawa kembali kesadaranku yang sempat melayang. “Saya bener-bener minta maaf. Saya ngerasa kurang enak kalo tiba-tiba bangun dan menginterupsi kamu yang sedang …” ucapnya menggantung, dia nampak memikirkan kalimat tepat untuk menggambarkan peristiwa memalukan yang ku lakukan tadi.
“Kamu denger semuanya?” tanyaku harap cemas.
“Bagian kamu teriak-teriak atau bagian suplemen pembesar?” wajahnya kedapatanku gagal menahan senyum.
Mati! Dia denger semuanya!
Wajahku menghangat. “Are you okey?” dia memastikan.
“Aku bisa pergi dari sini kalo kamu ngerasa gak nyaman” ujarnya saat tak mendapat jawaban dariku.
“Oh, gapapa. Santai aja” sahutku berusaha tenang.
Gak papa, Keen. Everything it’s gonna be okey. Dia gak kenal kamu. Paling-paling sehari ini saja kamu ketemu dia. Setelah itu gak bakalan ketemu lagi. Persetan dia mau ngetawain aksi tadi, dia hanya orang asing.
Hening menyapa, hanya debur angin yang terdengar riuh mengisi kekosongan, juga menerbangkan helaian rambut yang jatuh dari kunciran. “Kamu… penduduk baru?” ku beranikan bertanya.
Plis, jawab ‘tidak’, jawab ‘tidak’.
“Bisa dibilang iya. Bisa dibilang gak” jawabnya ambigu.
Pangkal hidungku mengerut, jidat berlipat-lipat, “Artinya?” bertanya dengan penuh penekanan.
“Tinggal sementara untuk keperluan pekerjaan” jelasnya singkat.
Kepalaku mengangguk-ngangguk. Well, apakah itu artinya aku bisa bernafas lega? Tapi, bisa saja kan dia menceritakan aksi ngamuk tadi?
“Anu… Soal… Emm… Itu…” aku bingung bagaimana cara membuatnya agar tutup mulut.
Sebelah alisnya terangkat--menunggu kalimatku selesai, “Yang tadi… tolong lupain” dia menatapku sambil berpikir.
Dia membuka suara, “Termasuk bagian pem…”
“Semuanya, termasuk itu” potongku cepat. Dia tertawa.
“Okey” katanya setuju.
“Untuk seorang yang mau menyimpan rahasiamu, boleh tahu siapa nama pemiliknya?” dia memiringkan kepalanya. “Farhan” tambahnya mengulurkan tangan.
Wow! Apakah sekarang dia sedang menyebar feromon? Haruskah aku merasa tersanjung karena mendapat atentionnya sekarang?
Lama ku amati pergerakan wajahnya, “Keenan. Dan soal tadi, bukan disimpan tapi lupakan, delete, format dari ingatan kamu” sahutku lalu menjabatnya.
“Wow, santai-santai. A Iittle joke, sist” sahutnya jenaka.
“Really? Selera humor kamu jelek, kalo boleh jujur” dia tertawa, mendengarnya membuat senyuman di wajahku terbit.
Ternyata ada baiknya juga hari ini aku kabur.
***