Pagi ini aku sudah berdiri di dapur, bertekad membuat sarapan sendiri. Aku tahu, aku bukan yang paling ahli dalam hal memasak, tapi seharusnya omelet sederhana bukan hal yang sulit, bukan? Sayangnya, teori dan praktik adalah dua hal yang sangat berbeda. Begitu aku mulai memecahkan telur, entah bagaimana cangkangnya ikut masuk ke dalam mangkuk. Aku menghela napas, berusaha memisahkan pecahan kecil itu dengan garpu. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya adonan telurnya siap. Aku menuangkan sedikit minyak ke wajan, lalu menunggu sebentar sebelum menuangkan telur ke atasnya. Suara mendesis terdengar begitu telur menyentuh permukaan panas. Senyuman kecil muncul di wajahku—ini tidak terlalu buruk. Aku mengambil spatula dan mulai mengaduk sedikit, merasa cukup percaya diri dengan hasilnya.

