Setelah memastikan Ethan tertidur kembali, aku melepaskan genggamanku dari tangannya dengan hati-hati. Aku tak bisa membiarkannya terus seperti ini. Dia demam tinggi, belum makan, dan sepertinya tak berniat merawat dirinya sendiri. Aku menghela napas panjang. Baiklah, aku akan merawatnya. Tapi tentu saja, dengan gaya Shopia yang… agak berantakan. ** Aku kembali ke kamarnya dengan semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Ethan masih terbaring diam, napasnya teratur, tapi wajahnya tetap pucat. Aku meletakkan nampan di meja samping tempat tidur dan menyentuh bahunya. “Ethan, bangun. Kau harus makan,” panggilku pelan. Pria itu hanya menggeliat sedikit, lalu menggumam, “Lima menit lagi…” Aku menghela napas. “Ethan, kau harus makan dan minum obat.” Dia hanya menggumam pelan, lalu me

