Udara sore yang sejuk membelai wajahku saat aku berjalan tanpa arah. Setelah kesimpulan konyol yang kubuat sendiri di perpustakaan tadi, aku memutuskan untuk keluar sebentar dan mencari udara segar. Siapa tahu pikiranku bisa lebih jernih setelahnya. Namun, tak disangka, di tengah perjalanan, mataku menangkap sosok yang familiar. Daren. Aku hampir melewatinya begitu saja, tapi sesuatu membuatku menghentikan langkah. Dia sedang berdiri di depan kios es krim di pinggir jalan, berbincang dengan seorang pria yang tidak kukenal. Pria itu terlihat tinggi, dengan rambut hitam yang tertata rapi dan wajah yang, harus kuakui, cukup menarik. Pakaian kasualnya terlihat sederhana tapi berkelas. Mereka tampak santai, menikmati es krim sambil mengobrol. Mataku menyipit. Entah kenapa, aku merasa ada s

