Pagi berikutnya, aku masih merasa aneh. Aku duduk sendirian di perpustakaan kampus, menatap kosong ke layar laptopku. Seharusnya aku sedang menulis atau mengedit sesuatu, tapi pikiranku terus kembali ke percakapan semalam. Pertanyaan Ethan masih terngiang di kepalaku. “Apa kau yakin dengan hubungan itu?” Aku menggigit bibir, mencoba menganalisis kembali ekspresi Daren dan Ethan saat itu. Aku sudah lama mengenal Daren, dan aku tahu kapan dia bersikap jujur atau tidak. Senyumnya semalam… terasa dibuat-buat. Dan Ethan? Pria itu jarang menunjukkan emosinya dengan jelas. Tapi semalam, ada sesuatu dalam tatapannya. Sesuatu yang aneh. Sebagai seorang penulis, aku percaya dengan instingku dalam membaca situasi dan dinamika antar manusia. Ada sesuatu yang sedang terjadi di antara mereka berdu

