Begitu mobil berhenti di depan rumah, aku langsung turun tanpa banyak bicara. Ketegangan masih menggantung di antara aku dan Ethan, meskipun kami baru saja mengalami kejadian yang nyaris membuat nyawa kami terancam. Aku masuk lebih dulu, melepaskan sepatu dan meletakkan tasku di meja. Ethan menyusul dari belakang, berjalan pelan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana dengan napas panjang. Luka di pelipisnya masih dibalut perban, dan wajahnya tampak lelah. Aku berdiri tak jauh darinya, sedikit ragu sebelum akhirnya bertanya, “Apa kau butuh sesuatu?” Ethan tidak langsung menjawab. Ia hanya menutup matanya sebentar, lalu menghela napas sebelum membuka mulut. “Apa aku harus lebih sering terluka agar kau mau bicara denganku lagi?” Aku tersentak. “Apa?” Ethan membuka matanya, menata

