Malam semakin larut, tetapi aku masih duduk di ruang tamu, menatap laptop yang kini aman di hadapanku. Setelah kejadian tadi, aku mencoba menyalakan perangkat ini, memastikan semua data di dalamnya tidak rusak. Syukurlah, semuanya masih utuh. "Akan kuamankan data-datanya dulu. Tapi ini sudah larut malam. Apa sebaiknya besok saja?" Pikiranku masih kacau. Aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian di rumah sakit, bagaimana Ningning menangis karena Jayden, bagaimana Daren rela menjadi tameng untuk laptopku, dan bagaimana Ethan— Aku menoleh sekilas ke sofa. Ethan masih di sana, tertidur dengan posisi yang tampak tidak nyaman. Napasnya teratur, tetapi aku bisa melihat dahinya sedikit berkerut. Mungkin luka di kepalanya masih terasa nyeri. Aku ragu sejenak. Seharusnya aku membiarkannya tid

