Kotak bekal di tanganku terasa semakin dingin, dan aku masih berdiri di depan kelas yang seharusnya dihadiri Ningning pagi ini. Sudah hampir satu jam aku menunggu, tapi dia tidak juga muncul. Aku mencoba meneleponnya lagi. Nada sambung terdengar, tapi tidak ada jawaban. Aku menggigit bibir, menahan rasa cemas yang mulai merayapi pikiranku. Ningning bukan tipe orang yang melewatkan kelas tanpa alasan jelas, bahkan di hari-hari ketika hatinya sedang remuk sekalipun. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Jayden? Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan diriku. Tidak ada gunanya menebak-nebak. Yang terbaik sekarang adalah menemui Ningning langsung. Tanpa pikir panjang, aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan melangkah pergi menuju apartemennya. ** Apartemen kecil tempat Ningning ti

