Hari itu terasa panjang, dan aku merasa sedikit lebih ringan setelah percakapan dengan Daren. Kami merencanakan kencan kami sabtu besok. Setiap pesan yang aku kirimkan kepadanya terasa semakin mengalir, seolah-olah kami sudah saling memahami dengan lebih baik. Aku tersenyum sendiri membaca pesan-pesan kami yang semakin mesra, berbanding terbalik dengan suasana hati yang biasa aku rasakan saat di rumah. Setelah beberapa saat, aku beranjak dan bergegas menuju lift. Waktuku sudah habis, dan aku masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketika pintu lift terbuka, aku terkejut melihat Ethan berdiri di sana. Matanya tajam menatapku, dan untuk sesaat aku merasakan ketegangan yang tidak biasanya. Namun, aku sudah terbiasa dengan tatapannya yang menusuk, jadi aku memutuskan untuk ti

