Aku tidak tahu mengapa memilih berjalan ke toko buku sore ini. Seharusnya aku pulang, menyalakan laptop, dan memaksakan diri untuk menulis, meskipun otakku terasa kosong. Namun, entah bagaimana, aroma buku baru dan suasana tenang di sini terasa lebih menarik daripada menghadapi layar kosong yang menunggu diisi kata-kata. Aku berjalan melewati rak-rak, sesekali mengambil buku dan membaca sinopsis di sampul belakang. Hingga tiba-tiba, suara riang seorang anak menarik perhatianku. “Om Daren! Yang ini bagus atau tidak?” Aku menoleh dan melihat sosok yang familier. Daren, dengan kemeja santai dan jaket denim, sedang berjongkok di hadapan seorang anak kecil yang memegang buku cerita bergambar. “Hmm… coba lihat,” katanya sambil mengambil buku itu dan membacanya sekilas. “Ini tentang seekor ku

