Sesampainya di rumah, aku membuka pintu dengan perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti seisi ruangan. Lampu ruang tamu sudah menyala, menandakan bahwa Ethan sudah lebih dulu tiba. Aku melepas sepatu dan melangkah masuk dengan hati-hati, masih bisa merasakan sisa kebisuan yang menggantung di antara kami sejak perjalanan tadi. Aku menghela napas pelan, berharap suasana canggung ini bisa mencair, setidaknya di rumah. Namun, langkahku terhenti ketika melihat Ethan keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan bathrobe. Uap tipis masih mengepul dari rambutnya yang basah, jatuh berantakan di dahinya. Aku langsung memalingkan wajah, merasa canggung. Kenapa harus sekarang? Aku mencoba bersikap normal, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Dari sudut mataku, Ethan tampak santai, seolah tida

