Kondisi Eva kian hari kian memburuk. Perutnya semakin membesar. Dia tak dapat bergerak sama sekali. Hanya berbaring di kamar. Bahkan, tidur menyamping saja ia kesulitan. Dadanya terasa sesak. Punggung sakit. Andi dan Rindi pindah ke rumah Eva untuk sementara waktu. "Bu.. kita ke Rumah Sakit sekali lagi, ya?" ajak Andi. Berdiri di sebelah ranjang Eva. "Percuma, Ndi. Kamu tahu sendiri, kan? Bukan 1-2 Dokter yang bilang, kalau Ibu nggak ada penyakitnya. Terus, mau bagaimana lagi? Pengobatan alternatif juga nggak bisa." Andi mendesah panjang. "Ibu, mau makan apa sekarang? Biar Andi belikan." "Ibu mau tidur saja, Ndi. Kamu sama Rindi dan Diko saja yang makan." "Ya sudah, Bu. Kalau begitu, aku keluar dulu, ya. Suruh Putra telepon aku, kalau Ibu butuh apa-apa." "Iya, Ndi." Andi keluar

