Lantunan doa terdengar dari rumah Mas Didit. Banyak sekali yang datang untuk ikut mendoakan Mas Didit. Setelah di makamkan tadi siang, pelayat tak berhenti datang. Mbak Rini terus menceritakan bagaimana kepergian Mas Didit yang mendadak itu. Banyak yang masih tidak percaya. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Begitulah siklus kehidupan. Tidak ada yang tahu kapan malaikat maut datang menjemput. Hanya.. persiapkan diri sebaik mungkin. Begitu para tamu pergi satu persatu, rumah kembali sepi. Karpet-karpet yang di bentangkan terasa luas dan sepi. Ria menumpuk plastik air mineral, dengan berderai air mata. Meski, matanya sudah berat, bengkak, juga nyeri.. rasanya, ia tak ingin menghentikan air matanya. Kehilangan Bapak yang belum sempat di bahagiakan olehnya. Sakitnya lebih dari kegagalan nya ikut

