"Dik Ani.. sudah, dik." Mbak Rini merengkuh tubuh Ani dari belakang. Di bawanya agak menjauh dari jasad Mas Didit. "Maafkan Mas Didit ya, Dik. Kalau ada salah sama kamu dan keluarga." "Mas Didit itu orang baik, Mbak. Dia nggak pernah buat aku sakit hati. Mbak Rini sama Mas Didit sering bantu aku." "Iya, Dik. Rasanya.. aku masih nggak percaya. Kejadiannya begitu cepat. Sakitnya juga mendadak. Dan, terasa aneh." "Memang, sakit apa, Mbak? Sejak kapan? Kok tadi aku peluk, badannya kurus banget." Mbak Rini mendesah panjang. ** 3 Hari Sebelum Kepergian Mas Didit Pukul 19.30. Suara mesin Mas Didit baru saja terdengar berhenti di halaman rumahnya. Mas Didit turun dari mobil dengan keadaan lemas. Tubuh jangkungnya terlihat merunduk. Menenteng tas kerjanya. Kumisnya yang sedikit tebal terli

