"Begitu kondisi adikmu sejak semalam, Ndi," kata Eva. Andi hanya bisa mendesah panjang. Sepulang dari bekerja—ia segera pergi ke rumah Eva. Eva menelepon Andi pagi-pagi buta. Menceritakan, jika Putra terus menjerit, dengan mata melotot. Dan, sejak semalam ia tidak tidur. "Coba Andi bicara sama Putra ya, Bu?" Eva hanya mengangguk. Sementara Andi, mengetuk pintu kamar Putra. "Put.. ini, Mas Andi. Mas, masuk, ya?" Tidak ada jawaban dari dalam. Andi mendorong pintu kamar Putra. Terlihat, Putra tengah duduk, di atas ranjang. Dengan kedua kaki yang ditekuk. Rambut acak-acakan. "Put.. kamu kenapa? Mau cerita sama, Mas?" Putra hanya diam. Pandangannya kosong. Andi pun mendekatinya. Memegang pundaknya. Putra berjengit kaget. Menengok pada Andi. "Mas Andi? Kok ada di sini?" Putra mencium ta

