43. PUNCAK

1918 Kata

"Oh gitu ceritanya." Ucap suara terdengar meledeknya. Mentari menutupi muka dengan tangannya, ia sangat malu. Kenapa Langit harus mendengar ceritanya pada Hanna. Jantungnya sesaat berdebar, ia beralasan untuk kamar kecil menghilangkan debaran di jantungnya. Astaga.... Astaga... Astaga... 'Kenapa dia di belakang. Sejak kapan? Gue malu banget.' Ucap Mentari dalam hati, ia menenggelamkan wajahnya sambil menghentakkan kaki berkali-kali. Dengan cepat Mentari bangkit. "Aku mau ke toilet. Buang air kecil." Seru Mentari. "Wait... Wait... Wait... Mau kemana kamu." Langit mencengkal tangan Mentari yang hendak menghindar darinya.. To---ilet. Aku ke---be---let." Mentari terbata-bata menjawabnya, ia masih gugup sekali. Bahkan tak berani menatap Langit. "Apaan sih kamu? Lepaskan aku." "Kamu tahu to

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN