Langit bukan laki-laki yang suka berbasa-basi, dia lebih suka natural apa adanya. Saat pulang kerja karena lelah, dia melihat Mentari yang tertidur di sofa televisi. Dia melekat pada Mentari, tanpa sadar ada senyum yang menyinari wajahnya. "Kenapa dia tidur disini." Lirih Langit. Dengan sangat sigap Langit memindahkan Mentari ke kamarnya, tidak tau kenapa mendadak deruhan jantung terasa kencang. Dia seakan tak bisa mengontrol perasaannya. Perlahan bukan saja jantungnya yang terpacu cepat. Tapi matanya tak bisa berhenti menatap Mentari yang sedang tertidur pulas. "Kenapa dengan gw?" Langit menarik nafasnya panjangnya. Sepertinya ada perasaan yang tidak bisa dihentikannya lagi. Perasaan yang sudah membuat Mentari kedalamnya. Langit keluar dari kamar tersebut. Dirinya membaringkan tubuhny

