Matahari bersinar dengan cerah, menemani aktivitas pagi setiap orang. Salah satunya Gerald, yang baru saja tiba di halaman sekolahnya.
Hari ini, dia tampil dengan pesona wajah yang sangat ceria. Sebab, dia sangat bahagia, karena di masa SMA ini, Ayahnya sudah mengizinkannya untuk menikmati masa remaja dengan normal.
Hal itu sontak membuat dirinya langsung menjadi pusat perhatian para murid perempuan di sekolahnya. Sebab, wajahnya yang ceria, membuat wajahnya yang tampan terlihat menjadi semakin tampan.
“Eh Ra, si Gerald dateng tuh!” ucap Alexa kepada Liora, yang tengah duduk di kursi depan kelas, bersama Liora dan Elina.
Pandangan Liora lalu langsung tertuju kepada Gerald yang sedang berjalan melewati halaman sekolah untuk menuju kelas. Dia kemudian mendengar dan melihat banyak murid-murid perempuan lain yang berbisik-bisik perihal ketampanannya Gerald.
“Waw! Si Gerald jadi pusat perhatian cewek-cewek tuh.” cengir Elina.
“Lo nggak cemburu, Ra?” tanya Alexa.
“Nggak.” jawab Liora sembari tersenyum. “Ngapain gue cemburu? Mereka kan cuma bisa ngagumin Gerald. Sedangkan gue, gue bisa milikin Gerald. Jadi ngapain gue cemburu?”
“Mantep tuh. Lo kan cantik, ya jadi pantesnya sama yang ganteng dong.” ucap Elina.
Beberapa menit kemudian, Gerald sampai di depan kelas, tepat di hadapan mereka bertiga.
Liora langsung berdiri, dan menatap Gerald dengan penuh senyuman. Lalu menyapa “Hai.” kepada Gerald.
“Hai.” balas Gerald dengan penuh senyuman juga. “Aku masuk kelas duluan ya?” kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
Liora tersenyum dengan penuh rasa senang, karena bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya.
“Dih! Masa hai doang?” ucap Alexa.
“Iya, masa hai doang sih? Ngobrol bareng kek, deketin kek, masa hai doang habis itu Gerald ke kelas duluan.”
Liora tak menjawab ucapan kedua sahabatnya itu, dia terus berdiri dengan penuh senyuman.
“Dih! Malah senyum-senyum mulu.” ucap Alexa.
“Biasalah, yang lagi baper. Apalagi cowoknya ganteng banget!” ucap Elina.
Bel tanda masuk kelas berbunyi.
“Udah bel tuh. Ayo masuk!” ucap Liora, kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
“Hei guys, hari ini kita ada jadwal olahraga sama kelas IPS 1. Kata Pak Rian, hari ini kita tanding volley sama kelas IPS, ditunggu di lapang secepatnya.” ucap Rival.
“Oke.” balas semua murid kelas X IPA 1.
“Udah sembuh lo, Ger?” tanya Tevi.
“Udah, pake banget.”
“Ceria banget nih muka lo.” ucap Rival.
“Jelas, karena Papah gue, udah ngasih kebebasan buat gue.”
“Hah! Maksud lo? Lo udah boleh main keluar bareng kita?” tanya Tevi.
“Iya, meskipun batas waktunya nggak boleh ngelebihin jam 9 malam.”
“Asikk!” Tevi dan Rival ikut senang mendengar kabar baik dari Gerald itu.
“Berarti nanti kita bisa dong ngopi bareng, main game bareng. Mantap!” ucap Rival.
“So pasti.” ucap Gerald dengan penuh senyuman.
“Tapi lo kuat buat ikut olahraga hari ini?” tanya Tevi.
“Ya kuatlah, orang gue nggak kenapa-kenapa.”
“Emang lo sakit apa kemarin? Kok bisa sampe pingsan sih?” tanya Rival.
“Nanti aja nyeritanya. Yuk ganti baju!”
“Yaudah yuk!” balas Tevi.
Mereka bertiga mengambil pakaian olahraga mereka, kemudian pergi menuju toilet untuk mengganti pakaian dengan pakaian olahraga.
Setelah semua murid kelas X IPA 1 dan X IPS 1 selesai mengganti pakaian, mereka semua langsung berkumpul di lapangan olahraga bersama guru olahraga mereka yaitu Pak Rian.
“Selamat pagi Anak-Anak.” sapa Pak Rian dengan penuh semangat.
“PAGI PAK!” balas semua murid dengan penuh semangat.
“Bagus! Bapak suka ngelihat kalian seperti ini, semuanya semangat dan ceria. Udah siap sama pelajaran olahraga pertama kalian?”
“SIAP PAK!”
“Seperti yang udah Bapak umumin ke masing-masing kelas tadi, hari ini kita tanding volley ya? Murid laki-laki dari kelas IPA, ngelawan murid perempuan dari kelas IPS. Begitupun sebaliknya. Murid laki-laki dari kelas IPS, melawan murid perempuan dari kelas IPA.”
“Hah?” semua murid mendadak keanehan mendengar ucapan Pak Rian barusan.
“Kok gitu sih Pak? Nggak cowok lawan cowok, cewek lawan cewek?” tanya Devin Angkasa, salah satu murid kelas X IPS 1.
“Bapak pengen ngelihat suasana baru aja, jadi perempuan lawan laki-laki.” jawab Pak Rian sembari tersenyum kecil.
“Kalau kayak gitu, jelas kalahlah kita.” ucap Elina.
“Pasti itu. Apalagi kita ngelawan Anak-Anak cowok dari kelas IPS, yang badannya pada gede-gede.” balas Alexa.
“Jangan gitu! Kita harus semangat! Ini kan tanding volley, bukan tanding tinju, jadi peluang buat kita menang besar banget. Meskipun kita ngelawan Anak-Anak cowok dari murid IPS.”
“Bener juga sih.” balas Alexa. “Ini kan tanding bola volley ya bukan tanding tinju. Berarti, peluang kita buat menang pasti ada.”
“Iya. Lagian kalau kalah juga nggak apa-apa. Toh, ini kan bukan tanding nasional yang ada hadiahnya kan? Udahlah, bawa enjoy aja!”
“Paling bisa aja lo kalau ngasih semangat, Ra.” ucap Liora.
Liora tersenyum.
“Oke, sesuai absen ya Bapak panggil?”
“Jangan Pak!” ucap Tevi. “Kita bikin kelompok masing-masing aja.”
“Nggak ah! Bapak maunya sesuai absen aja. Nanti kalau kalian yang buat masing-masing, pasti nanti ada yang nggak kebagian.”
“Yah! Berarti gue nggak bakalan setim sama kalian dong!” ucap Alexa. “Gue kan absennya A, paling atas.”
“Haha! Kasian deh lu!” cengir Elina. “Kalau gue udah pasti sama Liora, soalnya nama kita kan deket.”
“Yoi.” balas Liora tersenyum senang.
“Aaahhh nggak seru ah!” Alexa mendadak lesu karena tidak bisa bermain satu tim dengan Liora dan Elina.
“Yah! Berarti gue nggak bisa setim sama kalian dong! Gue kan absennya G, kalian paling bawah, R sama T.” ucap Gerald.
“Iya, lo pasti setimnya sama yang nama absennya A, B sama D.” balas Tevi.
“Ah! Kenapa harus sesuai absen sih. Nggak seru kalau kita nggak setim bareng.” ucap Rival.
“Yaudahlah, nggak apa-apa. Bagus juga sih kalau sesuai absen. Jadinya kita bisa saling kenal sama temen-temen kelas kita yang lain.” ucap Gerald.
“Bener juga sih. Tapi tetep aja nggak seru kalau kita nggak barengan.” ucap Rival.
“Tapi, emang bakal selesai hari ini? Tanding volley timnya banyak, sedangkan jam pelajaran olahraga kita aja cuma 3 jam.” ucap Tevi.
“Palingan dilanjut minggu depan.” balas Rival.
“Kalau kayak gitu, enakan gue dong! Berarti minggu depan gue santai. Karena pastinya, tim gue bisa tanding sampe selesai hari ini.” ucap Gerald tersenyum senang.
“Ah! Kita lihat aja nanti!” balas Tevi.
“Tapi kalau santai, emang mau ngapain? Tetep aja lo bosen, karena kan Liora nggak mungkin selesai tanding hari ini.” ucap Tevi.
“Lah, emang siapa yang mau pacaran? Ya gue bisa main game lah, bisa jajan ke kantin. Lagian nggak bisa pacaran di sekolah juga nggak apa-apa. Toh, gue kan bisa ngajakin dia jalan ke luar. Sekarang kan gue udah bebas. Haha.”
“Emang lo dibolehin pacaran?” tanya Rival.
“Boleh dong.”
“Widih mantep! Seriusan lo?” tanya Rival.
“Seriuslah.”