“Untuk yang namanya Bapak panggil, langsung ambil posisi masing-masing! Kelas IPA di sebelah sini, dan kelas IPS di sebelah situ.” Pak Rian menjelaskan posisi masing-masing kelas.
“Dari kelas IPA, Alexa, Annetha, Alma, Anita, Aqilla, dan Bella.”
“Semangat Alexa!” ucap Elina dan Liora.
Alexa tersenyum, kemudian melangkah mengambil posisi bersama teman setimnya.
“Dari kelas IPS, Arkan, Agra, Angga, Andi, Bayu, dan Devin.”
“Semangat sepupu gue!” ucap Clara kepada Devin yang merupakan sepupunya.
“Semangat bro!” ucap Jeffry Chiko dan Dhirga Devarsa, sahabatnya Devin.
Devin tersenyum senang mendengar ucapan semangat dari sahabat dan sepupunya. Dia kemudian melangkah mengambil posisi bersama teman-teman setimnya.
“SEMANGAT IPS!” murid-murid kelas IPS 1 kompak memberi semangat untuk tim Devin.
“SEMANGAT IPA!” murid-murid kelas IPA 1 tentunya tidak mau kalah. Mereka langsung bersorak memberi semangat untuk tim Alexa.
“Setelah Bapak tiup pluitnya, permainan dimulai ya?”
“Iya Pak.” balas kedua tim.
“PRIIT.”
Setelah Pak Rian meniup pluit, permainan pun dimulai.
“WUHUU!” Semuanya menyaksikan dengan penuh semangat.
Saat pertandingan di mulai, semua pandangan tertuju kepada para pemain. Terkecuali Clara, pandangannya malah terus tertuju kepada Gerald, yang duduk tak jauh di sebelahnya.
“Heh!” ucap Vitta Angelina, salah satu sahabat Clara. “Lo ngapain ngelihatin si Gerald?”
“Ya terpesonalah dia sama si Gerald, spek pangeran gitu.” ucap Reva Arina, salah satu sahabatnya Clara juga.
“Nah tuh tahu.” balas Clara sembari tersenyum, dengan mata yang terus tertuju menatap ketampanan wajah Gerald. Laki-laki yang dia sukai.
“Lo nggak boleh suka sama si Gerald.” ucap Vitta.
“Lah! Emang kenapa?” tanya Clara, yang kini mengalihkan pandangannya kepada Vitta.
“Ya karena Gerald udah ada yang punya.”
“Siapa emang pacarnya Gerald?”
“Ya kalau cowok paling ganteng di sekolah, udah pasti pacaran sama yang paling cantik di sekolah.”
“Yang paling cantik di sekolah ini kan gue, siapa lagi?”
“Dih! PD banget lu! Cewek yang paling cantik di sekolah ini ya cuma si Liora lah.” ucap Reva. “Jadi udah jelas, si Liora pacarnya si Gerald.”
“Bener. Hampir semua cowok di sekolah ini pada ngebet pengen jadi cowoknya si Liora, termasuk si Devin sepupu lo, dan semua temen-temen cowok di kelas kita.”
“Paan sih? Cantikan gue juga banding si Liora.”
“Lo emang cantik, tapi si Liora lebih cantik. Kecantikan dia itu spek bidadari. Gue aja yang cewek mengakui itu.” ucap Reva.
“Emang lo nggak lihat di bio i********: Gerald sama Liora? Udah pake bio nama mereka masing-masing, pake tanda love lagi.” ucap Vitta.
“Hah? Masa sih?”
“Lihat aja sendiri kalau nggak percaya.” balas Reva.
“Ih HP gue di kelas.”
“Udahlah Clar! Nggak usah lo ngarepin si Gerald, dia udah punyanya si Liora.” ucap Vitta.
“Ih! Nyebelin banget sih! Padahal gue demen banget sama Gerald, malah udah punya si Liora dia.”
“Udahlah nggak usah lebay! Cowok masih banyak kali.” ucap Reva.
“Tapi kan cowok spek pangeran kayak si Gerald itu langka banget!”
“Ya terus mau gimana? Lo mau ngerebut si Gerald dari si Liora? Pelakor dong? Masa cantik-cantik pelakor?” ucap Reva.
“Reva lo kok ngomongnya gitu banget sih sama gue?”
“Lagian, elo lebay banget! Kayak yang nggak ada cowok lain aja.”
“Ih! Nyebelin banget sih!” celoteh Clara dalam hati. “Padahal gue udah ada rencana buat deketin Gerald. Eh! Ternyata dia udah jadian sama si Liora. Bener-bener nyebelin! Mana gue udah suka banget sama Gerald.”
Clara merasa sangat kesal kepada Liora, sebab, Liora telah mendapatkan hatinya Gerald. Padahal, dia sudah sangat menyukai Gerald, dan berniat untuk mendapatkan Gerald. Namun akhirnya, itu semua hanya akan menjadi mimpi baginya. Sebab Gerald, sudah dimiliki oleh Liora.
Setelah pertandingan selama beberapa menit, hasil sudah menunjukan, kelas IPA 1 mendapat 3 poin, sedangkan tim IPS 1 mendapat 1 poin.
“Aduh guys! Semangat dong!” ucap Devin. “Kita udah ketinggalan 2 poin. Masa kita kalah sama cewek sih?”
“Ya kita juga udah main semaksimal mungkin kali Dev, tapi tim cewek dari kelas IPA pada jago-jago banget mainnya.”
“Hei IPS!” ucap Pak Rian. “Kenapa malah pada ngobrol? Ayo mulai! Servis bolanya! Bagian siapa?”
Devin menatap Alexa dengan tatapan yang sangat tajam. Dia merasa kesal karena Alexa bermain dengan sangat hebat, sehingga membuatnya hampir kalah.
“Dih! Kenapa tuh orang natap gue kayak gitu?” ucap Alexa dalam hati, yang menyadari bahwa Devin menatapnya seperti itu.
“Iya Pak iya.” balas Devin, lalu mengambil bola lalu mengambil posisi untuk menyervis bola.
Devin kemudian menyervis bola dengan penuh tenaga. Setelah itu bola melayang tinggi dan terjatuh tepat menuju kepala Alexa.
Alexa dengan refleks langsung menangkis bola tersebut dengan cepat, dan hal itu membuat bola kembali melayang menuju tim IPS kemudian mendarat dengan kasar di kepala Devin.
“Aaahhh!” Devin merintih dan terjatuh karena terkena bola dengan kasar.
Semuanya langsung terkejut melihat Devin yang terjatuh karena tangkisan bola dari Alexa.
“Aaahhh!” rintih Devin, lalu menatap Alexa dengan penuh amarah. Dia kemudian melangkah menuju net, setelah itu berhenti di depan Alexa. “HEH! MAKSUD LO APA KAYAK GITU HAH?”
“Apaan sih lo? Gue kan cuma nangkis bola aja supaya nggak kena kepala gue.”
“HALAH BACOD LO! ELO PASTI SENGAJA KAN NGELAKUIN ITU KE GUE!”
“Apaan sih lo? Nggak jelas banget marah-marah! Ya itu salah lo sendirilah. Kenapa lo ngebiarin tuh bola kena kepala lo? Kenapa lo nggak nangkis tuh bola, atau ngehindar?”
“Nggak usah songong lo! Lo itu cuma hoki aja menang di sini!”
“Heh! Jangan lo pikir gue lemah ya bisa lo perlakuin seenaknya!” bentak Alexa, yang sudah tak sabar menahan bentakan amarah dari Devin.
“HEH! KOK KALIAN MALAH PADA RIBUT?” bentak Pak Rian.
“Dia yang mulai duluan Pak.” Alexa menunjuk Devin. “Dia itu kesel sama saya karena timnya kalah. Terus dia sengaja mau lemparin bola ke saya. Giliran bolanya kena balik malah marah.”
“Jaga omongan lo! Siapa juga yang kesel sama lo?”
“Halah nggak usah drama lo! Gue tuh udah tahu dari cara mata lo natap gue dengan tajam! Jadi cowok tuh yang dewasa dikit dong, udah SMA kan? Main gitu doang baper, dasar b*****g lo!”
“CUKUP! Alexa, Devin! Kalian Bapak hukum lari 10 putaran di lapang ini.”
“Astaghfirullah Pak. Kenapa dihukum? Saya kan nggak salah. Dia yang mulai duluan.” ucap Alexa.
“Kalian berdua salah! Kalian sama-sama main nggak sportif. Dan tim kalian, Bapak diskualifikasi.”
“AH ELO SIH GARA-GARANYA!” Devin membentak Alexa.
“Tuh kan Pak! Dia yang mulai duluan. Marah-marah aja dari tadi.”
“UDAH-UDAH!” bentak Pak Rian. “Sekarang juga kalian lari di lapangan ini 10 putaran, cepet!”
“Iya Pak!” balas Devin dan Alexa dengan lesu.