Minuman Dingin

1149 Kata
“Masuk ke tim selanjutnya.” ucap Pak Rian. “Dari kelas IPA, Akbar, Aris, Beni, Edward, Gerald, dan Gino. Dari kelas IPS, Arini, Anggita, Clara, Erna, Evi, dan Fani. Langsung ambil posisi!” “Asik! Ngelawan si ganteng.” ucap Clara dalam hati, lalu langsung melangkah mengambil posisi bersama timnya. “Dengerin ya! Main secara sportif, kalian udah dewasa, ini itu cuma permainan, jadi jangan bawa perasaan kayak temen-temen kalian tadi. Paham?” “Paham Pak.” balas kedua tim. “Setelah Bapak tiup pluit, permainan langsung dimulai.” Pak Rian kemudian langsung meniup pluit, dan permainan pun langsung bermulai. “Eh! Itu si Clara,” ucap Liora. “Kenapa?” tanya Elina. “Gue perhatiin, setiap kali Gerald nangkis bola, dia selalu berusaha buat bales tuh bola.” “Ya emang kenapa? Ini kan bola volley, ya wajarlah kalau dia kayak gitu.” “Tapi masa cuma nangkis bola dari Gerald aja, giliran dari yang lain dia diem aja. Dia pasti suka sama Gerald.” “Ih! Denger kata Pak Rian tadi dong! Ini itu cuma permainan, jadi jangan bawa perasaan.” “Ya habisnya tuh si Clara nyebelin! Masa ngebales bola dari Gerald terus.” “Udahlah diem, lihat aja pertandingannya.” “Ih! Nggak bisa ah gue lihatnya!” Liora membalikan badannya dari hadapan pertandingan. Dia merasa sangat kesal, karena melihat Clara yang bermain hanya membalas bola dari Gerald. “Serah lu dah.” balas Elina. Sementara itu, pandangan Gerald tiba-tiba tertuju kepada Liora yang duduk membelakangi pertandingannya. “Loh! Liora kok duduk ngebelakangin pertandingan sih?” ucap Gerald dalam hati. “Harusnya kan dia ngelihat gue dan nyemangatin gue.” Karena pandangan Gerald terus tertuju kepada Liora, membuatnya tak fokus, sehingga itu membuatnya terkena bola hingga terjatuh. “Aaahhh!” rintih Gerald ketika terjatuh. Liora langsung menoleh kembali ke hadapan pertandingan, saat mendengar suara rintihan Gerald. Hal itu juga membuat Alexa dan Devin menoleh kepada Gerald, dan menghentikan langkah lari mereka. “Gerald!” panggil Clara, lalu langsung berlari menghampiri Gerald. “Gerald lo nggak apa-apa?” “Jangan pegang-pegang!” ucap Gerald kepada Clara yang terlihat ingin menyentuhnya. “Gue nggak apa-apa.” Clara terdiam sejenak. “Oh, oke.” “Ngapain sih tuh cewek? Sok perhatian banget sama cowok orang.” ucap Liora kesal. “Lah! Iya ya?” ucap Elina. “Jijik gue!” “Tapi Gerald gentle banget ya? Dia mau ngejaga dirinya dari cewek lain. Lo lihat sendiri kan? Dia nggak mau disentuh sama si Clara. Berarti dia berhasil ngebuat lo juara di hatinya.” Liora tersenyum mendengar ucapan Elina barusan. “Heh!” bentak Alexa kepada Devin. “Sok kecantikan banget sih tuh sepupu lo! Sok-sok deketin cowoknya sahabat gue. Jijik!” “Sahabat lo yang mana?” “Liora lah. Di mana-mana kan, cowok yang paling ganteng, pantesnya sama cewek yang paling cantik.” “Sejak kapan Liora jadian sama Gerald?” “Kepo banget sih lo! Mending lo kasih tahu tuh sepupu lo supaya nggak usah kecentilan sama cowok orang.” Alexa kemudian kembali berlari, untuk menjalani hukumannya. Devin menatap Liora, yang sedang menatap Gerald dengan penuh senyuman. “Li-Liora!” tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. Setelah itu dia berlari dari area lapangan, dan entah pergi ke mana. Alexa menatap kepergian Devin. “Lah! Mau ke mana tuh orang? Lagi dihukum malah kabur, najis!” Gerald kembali berdiri, dibantu oleh teman-teman timnya. “Fokus Gerald, jangan ngelirik ke mana-mana dulu!” ucap Pak Rian. “Iya Pak, maaf.” “Ayo, mulai lagi!” Pertandingan kemudian kembali bermulai dengan lancar, sampai akhirnya, babak terakhir menentukan kemenangan bagi tim kelas IPA dengan perolehan 4 poin, dan tim IPS 2 poin. “Congrats IPA!” ucap Pak Rian. “Wuhuuuu!” kelas IPA bersorak dengan sangat ceria karena tim mereka memenangkan pertandingan. “Untuk pertandingan tim yang selanjutnya, dilanjut minggu depan ya! Jam pelajaran Bapak sudah habis soalnya. Sekarang kalian kembali ke kelas masing-masing dan ganti kembali pakaian kalian.” “Iya Pak.” balas semua murid. “Alexa,” panggil Elina kepada Alexa yang sedang duduk di ujung lapangan sendirian. “Ngapain lo duduk di situ?” “Cape gue habis dihukum lari sepuluh puteran, mana ni lapangan luas banget lagi.” “Lagian elo sih, pake marah-marah, jadinya lo juga dihukum!” “Paan sih lo ah? Mana si Liora?” “Lagi beli minuman katanya buat si Gerald.” “Bucin banget.” “Haha.” Liora lalu terlihat berlari melewati mereka, sembari membawa sebotol minuman dingin. “Tuh dia anaknya.” ucap Elina. Liora berlari menghampiri Gerald. “Hai.” “Hai.” balas Gerald. “Kamu haus ya? Nih! Aku bawain minuman buat kamu.” Liora menyodorkan minuman tersebut kepada Gerald. Gerald tersenyum. “Makasih ya.” kemudian mengambil minuman tersebut, lalu langsung meminumnya. Wajah Liora langsung dipenuhi oleh senyuman, saat melihat pesona Gerald ketika meminum minuman tersebut. Keringat yang membasahi wajahnya, dan jakunnya yang keren membuat Liora semakin terpesona dibuatnya. “Ah! Seger banget deh!” ucap Gerald. “Habis minum minuman seger, langsung ngelihat bidadari di depan.” “Dih!” Liora terkesipu malu. “Gombal.” “Hahaha.” Melihat Gerald dan Liora yang saling tersenyum seperti itu, membuat Clara merasa sangat kesal. “Ih! Ternyata bener kalau mereka itu udah jadian. Nyebelin banget sih! Najis banget!” ucapnya dalam hati. “Noh! Lo lihat sendiri kan?” ucap Reva. “Gerald sama Liora itu udah jadian.” “Jadi yaudahlah Clar, nggak usah lo caper-caper lagi kayak tadi ke si Gerald. Dia udah punya pawangnya, yaitu Liora, cewek spek bidadari.” ucap Vitta. Clara menghela napas kesal, kemudian melangkah pergi. “Udah ayo ke kelas! Bucin mulu!” ajak Rival. “Ke kantin lah, kita kan masih punya waktu istirahat setengah jam.” ucap Tevi. “Ganti baju dululah, baru ke kantin.” “Oh iya.” “Yaudah, kalau gitu aku sama Tevi, sama Rival, pergi duluan ya?” ucap Gerald. Liora mengangguk dengan penuh senyuman. “Ayo guys!” ajak Gerald, setelah itu melangkah pergi menuju kelas bersama Tevi dan Rival. “LIORA!” panggil Alexa. “Ayo ke kelas!” Liora lalu melangkah menghampiri Alexa dan Elina. “Senyum-senyum mulu lo kek orang gila.” ucap Alexa. “Paan sih Al?” Liora tercengir. “Marah-marah mulu nanti cepet tua lo.” “Ah bacod! Ayo buruan ke kelas ganti baju! Terus ke kantin, haus laper gue!” “Iya yuk!” balas Liora, kemudian dia menggandeng tangan Alexa dan Elina, melangkah bersama menuju kelas. Sementara itu, Clara baru saja tiba di kelas. Ketika tiba di dalam kelas, dia melihat Devin sedang duduk di pojok kelas, dengan mata yang terlihat seperti sudah menangis. Clara lalu menghampiri sepupunya itu. “Dev, lo kenapa? Kok kayak yang habis nangis gitu?” “Nyesek gue!” “Nyesek kenapa?” “Cewek yang gue suka udah jadi milik cowok lain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN