“Val, lo tuh mikir dong! Masa lo ngizinin sahabat lo buat pacaran sama cewek yang nggak bener sih? Harusnya lo kasih tahu sahabat lo supaya sahabat lo ini bisa milih pasangan yang tepat.”
“Heh Bert! Lo pikir hati bisa diatur gitu mau suka sama siapa? Ya nggaklah. Jadi, ngapain juga gue ngelarang si Tevi buat suka sama si Clara? Kalau hati dia udah suka sama si Clara, ya mau gimana lagi? Aneh banget sih lo.” balas Tevi.
“Lo yang aneh, nggak jelas lo. Nggak ngerti deh gue sama jalan pikiran lo.” Albert kemudian melangkah pergi.
“Bert!” panggil Tevi. “Val, si Albert ngambek tuh!”
“Ya nggaklah, ngapain juga dia ngambek? Nggak jelas banget. Dia mungkin ke kelas duluan.”
“Yaudah yuk ke kelas!”
“Bentar, lo belum jawab pertanyaan gue.”
“Pertanyaan lo yang mana?”
“Lo suka sama Clara?”
Tevi terdiam.
“Tev gue nanya, jawab dong!”
“Ini bukan waktu yang tepat buat bahas kayak gituan. Nanti gue bakalan cerita sama lo, tapi nggak sekarang.”
“Berarti bener dong, kalau lo suka sama si Clara?”
“Gue bilang gue bakalan ceritain, tapi nggak sekarang. Udah ayo ke kelas!” Tevi lalu melangkah menuju kelas.
Rival menghela napas panjang sembari menatap Tevi, setelah itu dia menyusul Tevi.
Sementara itu, Pak Rian baru saja tiba di kelas X IPS 1. Semua murid di kelas tersebut langsung duduk di bangku masing-masing, termasuk Clara yang kakinya sudah mulai membaik hingga bisa kembali berjalan normal.
“Clara, Devin! Ikut Bapak ke ruangan Guru sekarang!”
Devin dan Clara langsung terkejut begitu Pak Rian menjemput mereka untuk pergi ke ruang Guru. Mereka juga mendadak ketakutan, sebab mereka menduga, jika para Guru sudah mengetahui tentang rencana jahat yang telah mereka lakukan kepada Gerald dan Liora.
“Mampus! Kayaknya para Guru udah tahu kalau gue sama Clara, yang udah bikin Gerald sama Liora pingsan di aula. Duh! Gimana dong nih?” ucap Devin panik dalam hati.
“Astaga! Kayaknya para Guru udah tahu yang sebenernya. Habis gue habis!” ucap Clara dalam hati dengan penuh ketakutan.
“Ayo!”
Dengan langkah yang pelan, dan hati yang penuh dengan rasa takut, Devin dan Clara melangkah menghampiri Pak Rian. Setelah itu mereka langsung pergi menuju ruangan Guru.
Setibanya di ruang Guru, Pak Helmi dan para Guru lainnya langsung menatap Devin dan Clara.
“Devin, Clara, duduk!” Pak Helmi lalu menyuruh Devin dan Clara untuk duduk di kursi yang berada di depannya dan para Guru lainnya.
“Kalian tahu, kenapa Bapak menyuruh kalian untuk datang ke sini?”
Devin dan Clara menggelengkan kepala.
“Bapak memanggil kalian ke sini, untuk Bapak mintai penjelasan dari surat ini.” Pak Helmi menunjukan kedua surat tersebut.
Devin dan Clara semakin panik saat melihat surat yang telah mereka buat untuk menjebak Gerald dan Liora, kini berada di tangannya Pak Helmi.
“Apa ini tulisan kalian?”
“Bukan Pak, itu bukan tulisan saya.” jawab Devin.
“Iya Pak, itu juga bukan tulisan saya.” jawab Clara.
“Tapi tulisan ini, sama persis dengan tulisan yang ada di buku tulisan kalian ini?” Pak Helmi kemudian menunjukan buku tulis mereka, yang sontak membuat Devin dan Clara menjadi semakin panik. “Jadi, ini sudah jelas membuktikan, kalau tulisan di surat ini adalah tulisan kalian.”
“Mampus gue! Habis gue! Gue udah nggak bisa lagi ngelak! Mau gue bicara apapun, gue pasti bakalan ketahuan!” ucap Clara dalam hati, lalu air matanya langsung menetes begitu saja karena sangat ketakutan.
“Sekarang kalian jujur sama Bapak! Apa kalian, yang sudah menjebak teman kalian, Gerald dan Liora, untuk datang ke aula sekolah, dan membuat mereka pingsan dengan kalian beri minuman yang kalian campuri dengan obat tidur?”
Devin dan Clara terdiam.
“Jadi benar, kalian ya pelakunya?”
“Bukan Pak, kami nggak melakukan itu.” ucap Devin dengan penuh ketakutan.
“Kamu lihat sepupu kamu, Devin? Dia nangis. Itu artinya memang kalian pelakunya. Iya kan Clara? Kamu nangis karena kamu takut, karena kejahatan kamu dan sepupu kamu ini sudah terkuak di sini.”
“Nggak Pak! Bukan kita pelakunya! Clar, jawab dong!”
Clara terdiam, dengan air mata yang semakin mengalir deras. Dia benar-benar ketakutan, hingga membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain menangis.
“Clar bilang dong ke Pak Helmi kalau bukan kita pelakunya! Lo jangan diem aja kayak gini!”
Pak Helmi melangkah mendekati Clara. “Clara, sekarang kamu jawab Bapak dengan jujur! Apa bener, kamu sama Devin sudah menjebak Gerald dan Liora? Tolong jawab jujur! Kalaupun kamu berbohong, itu tidak ada gunanya, karena bukti sudah mengarah ke kalian. Jadi sebaiknya kalian jujur!”
Dengan perlahan, Clara menganggukan kepalanya. Dia akhirnya mengakui kesalahan yang telah dia perbuat, sebab tak ada gunanya dia berbohong, karena semua bukti telah berbicara.
“Astaghfirullahaladzim!” Pak Helmi dan semua Guru langsung terkejut saat mengetahui Devin dan Clara telah menjebak Gerald dan Liora.
Air mata ketakutan Devin langsung menetes, saat melihat Clara mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan.
“Jadi kalian yang sudah menjebak Gerald dan Liora?” isak Ibu Melly yang kembali menangis. “Tega sekali kalian melakukan hal itu kepada teman seangkatan kalian sendiri!”
“Devin Clara! Kenapa kalian melakukan hal ini? Apa maksud kalian menjebak Gerald dan Liora seperti itu?” tanya Pak Rian.
“Nggak! Saya nggak ngelakuin itu Pak, Bu! Saya nggak ngelakuin itu!” isak Devin dengan penuh ketakutan.
“Devin! Jangan buat Bapak dan Guru-Guru lain di sini emosi ya!” ucap Pak Helmi. “Bukti, dan sepupu kamu ini sudah berbicara. Jadi, lebih baik kamu mengaku sekarang juga!”
“Nggak Pak, saya nggak ngelakuin itu!”
“Devin!” Pak Helmi menatap Devin dengan tatapan tajam. “Mengaku sekarang! Atau kalian akan mendapat hukuman yang berat!”
Tangisan Devin dan Clara semakin deras, saat mendengar Pak Helmi mengucapkan ucapan tersebut.
“Ayo Devin! Kamu ngaku sekarang!”
“Devin lo ngaku!” isak Clara. “Ngaku sekarang! Percuma juga lo ngeles, semua bukti udah berbicara! Cepetan ngaku! Gue nggak mau dapet hukuman yang berat gue nggak mau!”
“Dengar Devin! Sepupu kamu bilang kamu harus ngaku! Ayo Devin ngaku!”
“Iya Pak iya!” akhirnya, Devin mengakui kesalahannya. “Iya, saya ngaku. Saya sama Clara yang udah ngejebak Gerald sama Liora buat ke aula. Tolong jangan hukum kita Pak!”
Pak Helmi langsung terdiam menatap Devin dan Clara. Dia benar-benar merasa sangat tidak percaya, jika ada muridnya yang telah berbuat sangat jahat seperti itu. Pak Helmi benar-benar tidak habis pikir, sampai bingung untuk berbicara mengenai perlakuan Devin dan Clara yang sangat keterlaluan.
Dengan ini, akhirnya kebenaran sudah terkuak. Gerald dan Liora memang tidak bersalah. Mereka sengaja dijebak oleh Devin dan Clara, yang kini kejahatan mereka sudah terbongkar.