“Itu kayak suara Kak Anton sama Kak Silvia ya?” ucap Gerald.
“Iya, mereka pasti lagi nyariin kita. Yaudah, ayo kita samperin asal suara mereka!”
“Iya, ayo!”
Mereka kemudian melangkah dengan cepat, menghampiri asal suara Kakak mereka.
“GERALD!”
“LIORA!”
Sampai akhirnya, Gerald dan Liora bertemu kembali dengan Kakak-Kakak mereka. Mereka langsung tersenyum senang saat melihat keberadaan mereka.
“KAK SILVIA!” teriak Liora dengan penuh tangisan.
“Liora!”
“Gerald!”
Anton dan Silvia langsung tersenyum bahagia, karena melihat keadaan Adik-Adik mereka yang baik-baik saja.
Mereka berdua kemudian langsung berlari dan memeluk Adik mereka masing-masing.
“Gerald kamu nggak apa-apa? Apa kamu tadi ketiup angin dan jatuh ke danau?”
“Iya Kak, tapi Kakak nggak usah khawatir! Aku baik-baik aja kok.”
Anton tersenyum, sembari meneteskan air mata bahagia karena Gerald telah selamat. “Syukurlah Ya Allah terima kasih!” dia lalu mencium kening dan pipi Gerald setelah itu kembali memeluknya dengan erat.
Sementara Liora, dia menangis dalam pelukan Silvia. Dia benar-benar masih merasa sangat trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami hari ini.
“Liora, kamu nggak apa-apa sayang? Hmm? Ada yang luka nggak?” tanya Silvia sembari menyentuh sekujur tubuh Liora, memastikan jika Adiknya itu baik-baik saja.
“Aku tadi ketiup angin, terus masuk ke danau dan diterjang arus ombak badai. Terus aku hanyut, dan terdampar di atas batu besar. Untungnya Gerald dateng dan nolongin aku!” isak Liora.
“Ya Allah!” Silvia langsung meneteskan air mata setelah mendengar ucapan Liora barusan. “Gerald, makasih banyak ya! Kamu udah nolongin Liora!”
“Jangan bilang makasih ke aku, Kak. Bilang makasihnya sama Allah SWT. Karena Allah SWT yang udah ngasih aku kekuatan supaya bisa nolongin Liora.”
Silvia tersenyum. “Terima kasih Ya Allah Terima kasih. Terima kasih karena telah menyelamatkan Adik hamba. Terima kasih banyak Ya Allah.” Silvia lalu mencium kening dan pipi Liora. “Udah!” kemudian mengusap air mata Liora. “Udah jangan diinget-inget lagi ya masalah ini! Kamu kan udah selamat. Udah ya jangan nangis lagi.”
“Tunggu! Liora terdampar di atas batu besar, terus kamu nolongin dia? Nolonginnya gimana?”
“Gerald turun ke danau, ngelawan arus danau yang arusnya tercipta karena hujan badai. Arusnya itu kayak ombak di laut, deras banget. Gerald bener-bener hebat, dia bisa nerjang arus ombak itu, terus ngegendong aku ke tepi danau sampe akhirnya aku bisa selamat sampai sekarang.”
“Ya Allah!” Anton langsung tersenyum bangga setelah mendengar bahwa Adiknya itu begitu hebat. “Kakak bangga sama kamu Gerald! Kamu bener-bener laki-laki yang bertanggung jawab. Kamu bener-bener ngejagain pacar kamu.”
“Ya, kan udah aku bilang, kalau aku itu serius sama Liora.” ucap Gerald dengan penuh senyuman.
“Dih gombal!” cengir Silvia.
“Eh tunggu!” ucap Gerald. “Kamu ngegendong Liora? Gimana ceritanya? Kamu kan gynophobia? Mana mungkin kamu bisa ngelakuin itu?”
“Bisa, karena gynophobia aku udah sembuh kalau lagi sama Liora. Jadi, aku udah bisa sentuhan normal sama Liora. Eh! Tapi,”
“Kenapa?”
Gerald melangkah lebih dekat dengan Silvia.
“Kak, kok aku nggak ngerasain apa-apa ya pas aku lagi deketan gini nih sama Kak Silvia.”
Liora tersenyum. “Coba deh pegangan sama Kak Silvia!”
“Maaf Kak. Boleh pinjem tangannya?”
“Gimana?” Silvia menyodorkan telapak tangannya kepada Gerald, kemudian Gerald mengenggam tangan tersebut.
Gerald langsung tersenyum bahagia, karena dia tidak merasakan satu pun gejala gynophobia saat berpegangan tangan bersama Silvia. Dia tetap bisa berdiri dan bernapas dengan normal.
“WUH! WUHUUUU! YEAAYY GUE SEMBUH!”
Itu artinya, Gerald telah sepenuhnya sembuh dari gangguan gynophobia. Dia sudah tidak akan pernah lagi merasakan hal aneh saat berdekatan dan bersentuhan dengan perempuan. Sekarang, dia sudah bisa berinteraksi normal dengan setiap perempuan, karena gynophobia yang menerpanya telah hilang dari hidupnya. Liora benar-benar telah membantu Gerald untuk bisa sembuh.
“Alhamdulillah Ya Allah!” Anton pun langsung tersenyum bahagia, karena Adiknya telah sembuh dari gangguan gynophobia.
Begitupun dengan Liora, yang sangat bahagia karena kekasihnya sudah sembuh dari gangguan gynophobia. Itu artinya, mereka bisa menjalani hubungan pacaran dengan normal seperti Anak muda pada umumnya.
“Maksudnya apaan sih? Gynophobia-gynophobia? Itu tuh apaan? Phobia apaan?” ucap Silvia yang tidak tahu apa-apa.
“Jadi, Gerald itu ngalamin gangguan mental, namanya gynophobia. Gangguan gynophobia ini adalah gangguan di mana Gerald nggak bisa berdekatan dan bersentuhan sama cewek. Kalau Gerald berdekatan sama cewek, dia bakalan ngerasa nggak nyaman, tubuhnya bakalan gemeteran, dan jantungnya bakalan berdegup ketakutan. Terus, kalau Gerald sampe sentuhan sama cewek, dia bakalan pingsan.”
“Astaghfirullah! Jadi maksudnya, Gerald ini phobia cewek gitu?”
“Iya. Tepat banget.” balas Gerald. “Tapi sekarang, aku udah sembuh total, berkat bantuan Liora. Makasih ya sayang! Kamu mau nerima kekurangan aku dan mau nemenin aku sampe aku sembuh sekarang.”
“Kamu bener-bener hebat banget sih Liora!” ucap Anton. “Baru aja kamu sama Gerald pacaran beberapa minggu, kamu udah bisa bikin Gerald sembuh dari gangguan gynophobianya. Hebat Liora! Kakak bener-bener setuju banget kalau kamu sama Gerald bakalan jadi jodoh.”
“Makasih Kak.” balas Liora dengan penuh senyuman.
“Kalau kamu bisa nyembuhin Gerald secepat ini, kamu juga pasti bisa dong buat nyembuhin Albert dengan cepet juga?”
“Ya nggak bisa dong Kak.” balas Gerald.
“Nggak bisa kenapa?”
“Liora kan pacar aku, kalau dia bantuin Albert buat sembuh, nanti yang ada Albert malah suka sama Liora.”
“Ya nggak bakalan lah. Tipe ceweknya Albert kan cewek yang bule atau mirip bule. Liora kan orang Indonesia asli, jadi nggak mungkin Albert bakalan suka sama Liora, karena Liora bukan tipenya Albert.”
“Belum tentu, kata Dokter kan proses penyembuhan kalau sama cewek itu ya harus sama pacar. Ya aku nggak mau lah ngasihin Liora, bahkan buat sepupu aku sendiri. Nggak rela aku!”
“Oh iya juga ya, prosesnya harus sama pacar.”
“Kakak tenang aja! Ada kok yang bakalan nyembuhin Albert dari gynophobia.” ucap Liora.
“Siapa?”
“Nanti, Albert bakalan sembuh seutuhnya kayak Gerald, dengan bantuan cewek ini.”
“Ya siapa emangnya?”
“Alexa, sahabat aku.”
“Oh, si bule.” ucap Silvia. “Lo bilang tipe Adik sepupu lo cewek bule, itu si Alexa bule asli loh.”
“Dari awal Albert mau masuk, aku sama Liora udah ada rencana kok buat nyatuin Albert sama Alexa. Supaya Alexa bisa nemenin Albert sampe Albert sembuh dari gangguan gynophobianya kayak aku sekarang.”
“Kok bisa sih, Adik kandung sama Adik sepupu lo dapetin gangguan mental yang sama?”