Bye Gynophobia

1117 Kata
“Ada deh. Udah ah jangan bahas hal ini lagi! Gerald kan udah sembuh.” ucap Anton. “Mending sekarang kita pulang yuk! Orangtua kita pasti sekarang lagi khawatir banget sama kita.” “Iya, yuk langsung pulang! Aku cape banget pengen istirahat.” ucap Liora. “Tapi kan gue pengen tahu, soalnya kan kalian belum pernah ngasih tahu gue sebelumnya.” ucap Silvia. “Gue kan Kakaknya Liora, jadi gue berhak dong tahu masalah ini juga.” “Tapi ini masalahnya Gerald, bukan masalahnya Liora.” “Ya tapi kan Liora berhubungan sama Gerald, jadi apa yang Gerald alamin itu pasti bakalan berdampak banget sama hubungan mereka berdua. Jadi biar gimanapun gue berhak tahu.” “Kak, urusan penyebab Gerald gimana dapetin gangguan gynophobia itu? Hal itu masalah pribadi Gerald kali, nggak perlu maksa Gerald buat nyeritain. Udahlah! Ini kan udah berlalu, gangguan gynophobia yang Gerald alamin juga udah hilang, udah sembuh.” “Oh! Jadi ini alesan kamu belum berani ajak Gerald ke rumah kita? Kamu takut dia kumat di rumah waktu ketemu sama Mamah?” “Iya, hehe.” “Udah ah jangan bahas gynophobia terus!” ucap Gerald. “Yuk kita pulang yuk! Aku cape banget nih pengen istirahat.” “Iya, aku juga cape banget pengen istirahat. Yuk pulang!” ucap Liora. “Yaudah ayo!” balas Silvia. Mereka lalu langsung melangkah pulang. “Eh Kak!” ucap Gerald, tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Kenapa?” “Mobil aku ketinggalan di sekolah, lupa kalau aku bawa mobil.” “Loh! Motor aku juga sama. Motor aku ketinggalan di sekolah.” ucap Liora. “Aku lupa kalau aku bawa motor.” “Lah iya yah? Kamu kan bawa mobil.” ucap Anton. “Duh! Kok bisa lupa barengan gini ya?” ucap Silvia. “Masalah kita yang sampe viral tadi, bener-bener bikin kita hancur. Sampe-sampe kita nggak inget sama kendaraan kita sendiri.” ucap Gerald. “Barusan kan udah ada hujan badai, gimana kalau mobil aku kenapa-kenapa? Gimana kalau pohon mangga yang ada di parkiran roboh terus nimpa mobil aku? Sayang banget itu kan mobil baru yang dikasih Papah dan itu--” “Gerald apaan sih?” potong Anton. “Ya nggak bakal mungkinlah pohon di sekolah kamu roboh, ini kan cuma badai bukan tornado. Nggak bakalan mungkin bisa bikin pohon mangga yang besar roboh.” “Kalau motor aku gimana Kak? Kira-kira motor aku kebawa terbang nggak ya sama angin badai tadi?” tanya Liora. “Kalau motor ada kemungkinan bisa kebawa terbang sama angin. Tapi nggak tahu sih, semoga aja motor kamu baik-baik aja.” “Hmmm jadi khawatir sama motor aku. Itu kan motor baru yang dikasih Papah khusus buat aku sekolah.” “Motor harganya nggak terlalu mahal.” ucap Gerald. “Kalaupun motor kamu kenapa-kenapa, orangtua kamu masih sanggup beli. Lah aku, mobil aku ketinggalan di sekolah. Kalau terjadi apa-apa sama mobil aku, belum tentu Papah bisa ngasih aku mobil baru.” “Udah deh!” ucap Anton. “Kenapa kalian malah pada bahas kendaraan sih? Nggak penting banget.” “Iya, nggak penting banget. Udah deh, nggak usah mikirin kendaraan lagi! Yang paling terpenting sekarang itu adalah kalian selamat, udah itu aja.” ucap Silvia. “Udah, ayo jalan lagi!” ajak Anton. Mereka lalu kembali melangkah pulang. Setelah berjalan dalam waktu yang cukup lama, akhirnya tibalah mereka di area dekat pintu gerbang danau wisata itu. Di sana, mereka melihat orangtua mereka sedang duduk sembari menangis karena mengkhawatirkan mereka. “MAMAH!” teriak Gerald dan Liora secara bersamaan. “GERALD!” “LIORA!” Maya dan Yulia langsung tersenyum saat melihat kehadiran Anak-Anak mereka dalam keadaan baik-baik saja. Gerald dan Liora lalu langsung berlari dan memeluk Ibu mereka. Ayah mereka pun kemudian memeluk mereka. Anton dan Silvia tersenyum melihat mereka, setelah itu melangkah menghampiri mereka. “Kalian habis dari mana? Mamah sama Papah nyariin kalian tapi kalian nggak ada. Mamah bener-bener khawatir banget sama kalian, Mamah takutnya kalian kebawa angin badai dan hanyut di danau!” isak Yulia. “Mamah tenang aja, nggak usah khawatir. Aku sama Kak Anton nggak apa-apa kok.” “Nggak apa-apa gimana? Ini kalian basah kuyup banget gini? Pasti udah terjadi sesuatu kan sama kalian?” “Kita cuma kehujanan doang kok Mah tadi, terus kita berlindung di toilet. Kita nggak apa-apa kok, Mamah sama Papah nggak usah khawatir ya!” “Beneran kalian nggak apa-apa? Kalian nggak bohong kan sama Mamah?” “Nggak Mah. Aku sama Kak Anton baik-baik aja kok. Udah ya, Mamah jangan khawatir dan nangis terus kayak gini.” Gerald mengusap air mata Ibunya. “Kalau Mamah nangis, aku kan jadi sedih.” “Alhamdulillah.” ucap Raffi. “Syukurlah kalian berdua baik-baik aja. Kalau gitu ayo sekarang kita pulang! Kalian pasti cape, kalian harus istirahat.” “Iya Pah, aku pengen istirahat.” “Yaudah, yuk kita pulang!” ajak Yulia. Gerald dan Liora serta keluarga mereka kemudian melangkah menuju mobil mereka, setelah itu langsung melaju pulang ke rumah masing-masing. “Mah, Pah.” ucap Anton. “Hmm?” “Maafin aku ya, maaf karena aku pergi nggak izin dulu. Gara-gara aku, Mamah sama Papah harus ngerasain rasa panik karena dan khawatir karena nungguin aku sama Gerald.” “Udah Anton jangan bahas itu lagi, Papah takut dengernya. Udah nggak perlu dipikirin lagi! Yang terpenting sekarang adalah, kamu sama Gerald udah kembali dalam keadaan baik-baik aja.” “Iya Anton. Udah kamu nggak perlu mikirin itu.” ucap Yulia. “Iya, Mah, Pah.” “Kakak jangan ngerasa bersalah gitu ya? Kakak harus inget, karena kejadian ini, aku jadi sembuh total.” ucap Gerald. “Hah? Sembuh total apa maksud kamu Gerald? Emangnya kamu sakit?” ucap Mamah. “Emang, aku emang sakit. Masa Mamah lupa?” “Sakit apa? Mamah nggak tahu kalau kamu sakit. Kamu nggak pernah cerita sama Mamah.” “Gangguan gynophobia yang aku alamin, itu kan sakit Mah?” “Jadi maksud kamu, kamu udah sembuh total dari gangguan gynophobia?” “Iya.” Raffi mendadak menghentikan mobil. “AH!” Sontak, karena dia mengerem mobil secara mendadak, membuat keluarganya terkejut. “Gerald, kamu bilang apa barusan? Kamu sembuh dari gynophobia?” tanya Raffi. “Iya Pah, berkat Liora, sekarang aku udah sembuh total dari gynophobia. Aku udah nggak lagi ngerasain hal aneh kalau berdekatan dan bersentuhan lagi sama perempuan, dan nggak bakalan pingsan juga. Sekarang aku udah hidup sebagai laki-laki normal yang bisa berinteraksi sama perempuan. Aku bener-bener seneng banget deh! Good bye gynophobia.” “Kamu serius Gerald? Kamu udah sembuh dari gynophobia?” tanya Yulia. “Serius Mah, ngapain aku bohong? Kalau nggak percaya, besok Mamah lihat aja langsung ke sekolah, aku udah bisa interaksi normal sama cewek-cewek.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN