Hampir Kecelakaan

1126 Kata
“Iya Mah, sekarang Gerald udah bener-bener sembuh loh. Sekarang dia udah bisa hidup sebagai laki-laki normal, yang bakalan bisa berinteraksi dengan perempuan.” ucap Anton. “Masa sih Anton? Mamah nggak yakin.” “Masa secepet itu sih? Papah juga nggak yakin kalau Gerald udah sembuh dari gynophobia.” “Mamah sama Papah kok malah nggak yakin gitu sih? Bukannya seneng kek denger aku udah sembuh, malah nggak percaya.” “Yaudah, besok Mamah sama Papah lihat aja ke sekolahannya Gerald. Kalian lihat langsung kalau Gerald udah bener-bener sembuh dari yang namanya gynophobia.” ucap Anton. “Oh iya Mah, Pah. Tadi aku lupa ninggalin mobil aku di sekolah, aku lupa nggak bawa pulang.” ucap Gerald. “Loh!” Raffi langsung terkejut mendengar ucapan Gerald barusan. “Iya ya? Papah baru inget sama mobil kamu. Dari awal tadi di rumah Papah nggak ada lihat mobil kamu.” “Gerald-Gerald, jadi mobilnya kamu tinggalin di sekolah?” “Iya Mah, aku lupa. Tadi pas aku dapet masalah di sekolah, aku langsung ikut aja pulang sama Kak Anton. Soalnya aku nggak mikirin apa-apa lagi waktu itu.” “Dan, aku juga lupa sama mobilnya Gerald.” ucap Anton. “Karena pikiran aku juga ancur banget waktu tahu Gerald dapet masalah itu.” Raffi menghela napas panjang. “Yaudah, kalau gitu sekarang kita ke sekolah kamu ya Gerald! Kita ambil mobil kamu!” “Iya Pah, ayo!” Keluarga Gerald kemudian melangkah menuju mobil mereka untuk segera pergi membawa mobil Gerald di SMA Garuda Bangsa. “Pak Raffi, Bu Yulia.” panggil Ridho, yang langsung membuat langkahnya keluarga Gerald terhenti. “Iya, kenapa Pak Ridho?” “Pak Ridho, Bu Yulia, saya selaku Ayahnya Silvia, minta maaf yang sebesar-besarnya ya atas kesalahannya Silvia.” “Kesalahan Silvia, maksudnya?” tanya Raffi. “Maaf Om, Tante. Ini semua salah aku. Kalau aja aku nggak ngajakin Anton ke sini, dan langsung pulang tadi, kalian pasti nggak bakalan ngerasain khawatir dan was-was karena nungguin kita di sini.” ucap Silvia. “Maafin aku ya Om, Tante.” “Kamu nggak usah minta maaf Silvia, ini bukan salah kamu kok.” ucap Yulia. “Ini kan murni bencana, bukan karena kesalahan kamu.” “Sebagai pembelajaran aja buat kita semua, kalau kalian mau pergi ke mana-mana, usahain kabarin orangtua ya! Jangan sampe kayak tadi, pergi tanpa ngasih kabar dulu. Untung aja kalian semua nggak kenapa-kenapa.” ucap Raffi. “Iya Om, siap.” balas Silvia sembari tersenyum. Gerald, Anton, Raffi dan Yulia pun tersenyum kepada Silvia. “Jadi Om sama Tante maafin aku?” “Nggak perlu minta maaf, orang kamu nggak salah.” balas Raffi. Silvia tersenyum. “Makasih deh Om, Tante, karena kalian nggak marah sama aku.” “Sekarang, kalian mau langsung pulang?” tanya Raffi. “Kita mau ke sekolah dulu, Pak Raffi, mau ambil motornya Liora yang ketinggalan di sana.” balas Maya. “Sama dong, kita juga mau ke sekolah dulu buat ambil mobilnya Gerald.” “Hmm, lupanya barengan nih?” ucap Ridho. “Maklum lah, mereka tadi pikirannya hancur karena dapet masalah, sampe lupa sama kendaraan masing-masing.” ucap Yulia. “Sampe-sampe Kakak mereka juga pada lupa ya?” ucap Ridho. Anton dan Silvia terkesipu malu saat mendengar ucapan Ridho barusan. “Yaudah, langsung berangkat aja yuk! Takutnya nanti hujan badai datang lagi.” ucap Ridho. “Iya, ayo!” balas Yulia. Mereka lalu melangkah keluar area danau wisata, setelah itu langsung melaju menuju SMA Garuda Bangsa untuk mengambil kendaraan Gerald dan Liora yang tertinggal di sana. Sementara itu. Albert melajukan mobilnya dengan kecepatan yang maksimal, sembari menangis karena sangat mengkhawatirkan keadaannya Gerald. “Aaaahhh!” Albert menangis dengan penuh ketakutan. Perasaannya kini benar-benar tertuju kepada Gerald, dia sangat takut jika sepupunya itu tidak selamat. “Gerald! Gue nggak mau kehilangan lo! Lo sepupu terbaik gue!” “TITTTT!” “ASTAGHFIRULLAHALADZIM!” Albert langsung menghentikan mobilnya secara mendadak, saat sebuah mobil hitam muncul berlawanan arah dengannya. Untungnya, mobil tersebut juga langsung berhenti saat mobil Albert berhenti. “Astaghfirullahaladzim!” ucap Gerald, Anton, Raffi dan Yulia dari dalam mobil. Ya, mobil hitam itu adalah mobil milik Raffi. Mereka sangat terkejut karena mobil berhenti dengan sangat mendadak. “Ih! Siapa sih tuh? Bawa mobil kok nggak waras banget!” ucap Anton kesal. “Loh! Itu kok kayak mobilnya Albert ya?” ucap Gerald. “Hah?” Anton, Raffi dan Yulia lalu menatap mobil tersebut, kemudian langsung mengenali jika mobil yang berada di depan mereka sekarang adalah mobilnya Albert. “Loh, itu kok kayak mobilnya Pakde Raffi ya?” ucap Albert. Dia lalu keluar dari mobil untuk memastikan bahwa mobil yang berada di depannya adalah mobil Pakdenya. “Iya beneran, itu Albert.” ucap Anton. “Apa-apaan sih dia bawa mobil nggak ngotak banget!” Anton kemudian keluar dari mobil, lalu menghampiri Albert. “Albert! Kamu itu apa-apaan sih? Kamu bawa mobil kok nggak waras banget! Kecepatannya dimaksimalin apa gimana?” ucap Anton kesal. “Untung aja kita nggak tabrakan tadi, kalau tadi kita tabrakan gimana? Kamu bener-bener ngebahayain nyawa orang lain banget sih? Kamu juga ngebahayain diri kamu sendiri kalau kayak gitu.” “Yah! Kak Anton kok malah marahin Albert sih? Nggak bisa dibiarin nih.” ucap Gerald, kemudian keluar dari mobil. “Kak Anton. Jangan marahin sepupu kesayangan aku!” “Gerald!” air mata bahagia Albert langsung menetes, ketika melihat Gerald dalam keadaan baik-baik saja. “Gerald!” dia lalu berlari dengan cepat kemudian memeluk Gerald dengan sangat erat. “Gerald!” isak Albert. “Al, lo kenapa?” Gerald mendadak kebingungan, saat melihat Albert memeluknya dengan penuh tangisan. Albert lalu melepas pelukannya dari Gerald. “Kok lo malah nanya gue kenapa sih? Ya gue khawatirlah sama lo!” “Khawatir sama gue? Emangnya gue kenapa?” “Kata Kak Anton, tadi lo kebawa angin dan jatuh ke danau. Terus lo hanyut di danau dan nggak tahu keberadaannya. Gue bener-bener khawatir dan ketakutan banget kalau lo sampe nggak selamat!” “APA?” Raffi dan Yulia langsung terkejut, saat mendengar ucapan Albert yang mengatakan jika tadi Gerald telah terbawa angin badai dan terjatuh di danau. Mereka lalu keluar dari dalam mobil dan menghampiri Gerald. “Mampus deh gue!” ucap Anton. “Albert, ngomong apa kamu barusan? Gerald ketiup angin dan jatuh di danau? Siapa yang ngasih tahu kamu hal itu?” “Kak Anton Pakde! Dia bilang kayak gitu waktu aku nanyain kabarnya Gerald tadi.” “Anton, apa bener itu?” “Nggak Pah, itu nggak bener. Aku nggak ngasih tahu hal itu sama Albert kok.” “Kak, Kakak apa-apaan sih? Ngapain Kakak bohong?” Albert merasa sangat keanehan melihat tingkah Anton yang tidak mau memberi tahu orangtuanya perihal kecelakaan yang telah Gerald alami tadi di danau wisata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN