Gerald berjalan menuruni tangga rumahnya, kemudian bergabung bersama keluarganya untuk sarapan di meja makan.
“Pagi, Mah, Pah, Kak.”
“Pagi sayang.” balas Raffi dan Yulia secara bersamaan.
“Hari ini, kamu dianter ke sekolah sama Om Gino ya.” ucap Yulia.
“Loh, emangnya kenapa sama Om Gino?”
“Om Gino kan mau ngurus pindahan sekolahnya Albert. Jadi sekalian aja kamu berangkat sama Om Gino.”
“Si Albert juga mau ikut katanya, sekalian mau lihat-lihat sekolah.” ucap Anton.
“Oh iya, lupa.”
“Ngomong-ngomong soal sekolah, gimana sama sekolah kamu? Betah di sana?” tanya Raffi.
“Alhamdulilah betah Pah. Karena aku bisa sekelas lagi sama Tevi sama Rival, sekaligus dapet temen-temen baru yang baik.”
“Sekaligus dapet pacar maksud kamu?”
Gerald mendadak terdiam saat Ayahnya mengucapkan hal tersebut.
“Nggak usah tegang gitu! Papah kan nggak ngelarang kamu buat pacaran sekarang.”
Gerald langsung tersenyum.
“Siapa nama pacar kamu?”
“Liora Pah, Liora Anatasya.”
“Sekelas?”
“Iya.”
“Papah pengen ketemu sama dia, bisa nggak?”
“Mau ngapain Pah?”
“Ya mau ketemu, mau ngobrol, masa nggak boleh ketemu sama pacar Anak Papah sendiri?”
“Papah mau marahin Liora?”
“Nggak. Papah cuma mau ngobrol biasa sama dia. Ajak ya dia ke rumah!”
“Bo-boleh Pah. Mau kapan?”
“Sepulang sekolah, bisa?”
“Paling malem Pah, soalnya kan sepulang sekolah aku harus terapi rutin dulu.”
“Oh iya ya.”
“Jangan malem ah! Ngapain ngajak anak perempuan malem-malem ke rumah. Enakan sore atau siang.” ucap Yulia.
“Yaudah gini aja! Kamu ke sekolah sama Papah aja, nanti biar Papah bisa ketemu sama Liora. Papah cuma pengen ngobrol sebentar kok sama dia.”
“Emang Papah mau ngomong apa sih?”
“Nanti aja kamu tanya sama Liora, kalau Papah udah ngomong sama dia.”
“Oh, yaudah deh.”
Mereka kemudian kembali melanjutkan sarapan. Setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi ke depan rumah untuk bergegas beraktivitas masing-masing. Anton berangkat kuliah, Raffi mengantar Gerald ke sekolah, lalu bekerja ke kantor.
“Aku berangkat Mah, Pah.” Anton mencium tangan orangtuanya, kemudian berangkat kuliah dengan mobilnya.
“Hati-hati.” ucap Yulia.
“Iya.”
“Pagi Pakde, Bude.” sapa Albert yang menghampiri mereka bersama Ayahnya.
“Pagi Albert.” balas Raffi dan Yulia secara bersamaan, sembari tersenyum kepada Albert.
“Gimana Mas? Jadi, Gerald berangkat sama aku hari ini?” tanya Gino.
“Nggak dulu deh.”
“Loh! Kenapa?”
“Gerald berangkat sama Mas aja, soalnya Mas pengen ketemu sama pacarnya Gerald.”
“Pacar, Gerald udah punya pacar?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Nggak tahu. Tapi Mas terpaksa ngizinin dia buat pacaran, karena kata Dokter jiwa, dengan bantuan pacarnya itu, dia bisa sembuh dari gynophobia. Kalau Albert gimana? Udah punya pacar belum dia?”
Gino menghela napas panjang. “Mana bisa dia pacaran, Mas. Disentuh sedikit sama perempuan aja langsung pingsan dia.”
Raffi pun menghela napas panjang. “Kamu yang sabar ya Gino, Kita sama-sama berdoa aja supaya Anak-Anak kita bisa cepet sembuh.”
“Aamiin.”
“Yaudah, kalau gitu ayo kita berangkat!”
“Iya. Kamu ikutin mobil Mas ya!”
“Iya. Ayo sayang!” Gino lalu merangkul Albert menuju mobil.
“Mah, aku berangkat sekolah dulu.” ucap Gerald, lalu mencium tangan Ibunya.
“Iya, sekolah yang pinter ya sayang.”
“Aku berangkat ya.” ucap Raffi.
“Hati-hati di jalan, Mas.” Yulia lalu mencium tangan suaminya.
Setelah itu, mobil Raffi dan mobil Gino melaju menuju SMA Garuda Bangsa.
Saat di perjalanan, Gerald menghubungi Liora via w******p.
“Sayang.”
“Iya sayang.”
“Kamu udah di sekolah belum?”
“Sebentar lagi nih, masih di jalan.”
“Nanti kalau udah sampe di sekolah, tungguin aku di depan gerbang ya.”
“Mau ngapain? Mau ke kelas bareng?”
“Papah aku mau ngomong sama kamu.”
“Hah? Mau ngomongin apaan?”
“Nggak tahu. Tiba-tiba Papah pengen banget ketemu sama kamu. Katanya sih mau ngomong biasa, nggak bakalan marahin kamu kok.”
“Yaudah deh, nanti aku tungguin kamu di depan gerbang ya.”
“Oke. See you.”
“See you too.”
Setelah melewati perjalanan dalam beberapa menit, tibalah mobil Raffi dan Gino di depan gerbang sekolah.
Gerald melihat Liora sudah berdiri menunggunya di depan gerbang sekolah.
“Papah mau ngobrol sama Liora di mana?”
“Ajak aja dia ke mobil. Tapi kamu nggak boleh denger. Kamu anter aja Om Gino sama Albert ke ruang guru.”
“Oh, Oke. Sebentar ya Pah.”
Gerald kemudian keluar dari mobil, lalu menghampiri Liora. “Hei.”
“Hei.”
“Papah aku mau ngobrol sama kamu.”
“Mau ngobrol di mana?”
“Di mobil, itu mobil yang itu.” Gerald menunjuk mobilnya. “Ayo!” lalu mengajak Liora menghampiri mobilnya itu.
Setelah itu, Gerald membukakan pintu mobil, mempersilahkan Liora masuk.
“Sana masuk!”
“Hei! Sini masuk Nak! Om mau ngobrol sama kamu.” ucap Raffi.
Liora tersenyum, kemudian langsung memasuki mobil tersebut. Setelah itu Gerald menutup pintu mobil, kemudian langsung memasuki mobil Gino.
“Kok mobil Papah kamu berhenti di depan?” tanya Gino.
“Papah mau ngobrol dulu sama Liora, Om.”
“Pacar lo ya?” tanya Albert.
“Hmm. Yaudah Om, ayo masuk ke area sekolah!”
“Iya.”
Gino kemudian melajukan mobilnya menuju area sekolah.
Sementara itu, Liora mencium tangan Raffi.
“Nama kamu Liora?”
“Iya Om, saya Liora Anatasya.”
“Santai aja, jangan gugup gitu. Om nggak bakalan marahin kamu kok. Om cuma mau ngobrol aja sama kamu.”
Liora tersenyum. “Mau ngobrol apa, Om?”
“Gerald udah cerita belum ke kamu, kalau dia menderita gangguan gynophobia?”
“Udah Om.”
“Om cuma mau minta tolong sama kamu. Tolong! Temenin Gerald sampe dia sembuh ya, jangan pernah tinggalin dia! Karena cuma kamu, yang bisa ngebantu Gerald buat bisa sembuh dari gangguan gynophobianya. Om minta tolong ya Liora.”
“Tanpa Om ngomong kayak gitu, aku pasti bakalan selalu nemenin Gerald dalam kondisi apapun Om. Karena saya, tulus sayang sama Gerald.”
Raffi tersenyum. “Makasih ya Liora. Kamu kelihatannya Anak yang baik, Om jadi nggak salah buat ngizinin kamu pacaran sama Anak Om.”
Liora tersenyum. “Makasih Om.”
“Yaudah, Om cuma mau bilang itu aja kok. Sekarang kamu bisa pergi ke kelas!”
“Iya Om, kalau gitu saya ke kelas dulu ya Om.”
“Iya.”
Liora kemudian mencium tangan Raffi. Setelah itu bergegas pergi menuju kelas.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setibanya di depan kelas, Liora tersenyum senang karena Ayahnya Gerald benar-benar merestui hubungannya dengan Gerald. Terlebih, ucapan Raffi tadi benar-benar menunjukan jika dia sudah benar-benar percaya dengan Liora.
“Seneng banget rasanya! Papah Gerald udah ketemu sama gue, dan dia bener-bener ngerestuin gue buat berhubungan sama Gerald. Ditambah lagi, omongan Papahnya Gerald ke gue tadi bener-bener nunjukin kalau dia itu udah percaya banget sama gue. Aaahh seneng banget!” ucap Liora dalam hati dengan penuh senyuman.