Jeritan Ketakutan

1139 Kata
“Ah!” Albert terbangun dari pingsan dengan merengek, tangisannya kembali mengalir karena kembali mengkhawatirkan Gerald. “Albert!” ucap Tevi. “Bert, lo kenapa?” Albert tak menjawab pertanyaan Tevi, dia bangkit dari lantai, lalu menatap ke luar masjid yang masih dituruni oleh hujan badai. “Albert lo kenapa? Jawab dong jangan bikin kita khawatir!” ucap Rival. “Albert, kamu kenapa?” tanya Pak Helmi. “Tadi, saya dapet kabar dari Kakaknya Gerald, Pak!” isak Albert. “Kabar apa memangnya?” “Kabar kalau, Gerald, kebawa angin badai dan hanyut ke danau!” “Astaghfirullahaladzim!” Pak Helmi dan semua murid yang mendengar berita tersebut langsung terkejut. “Terus? Gimana keadaan Gerald sekarang?” isak Tevi. “Apa Gerald selamat?” isak Rival. Tevi dan Rival langsung menangis saat mengetahui sahabat mereka hanyut ke sungai. “Kayaknya Gerald belum ditemuin, soalnya Kak Anton bilang, Gerald hanyut ke danau karena ketiup angin! Kak Anton juga tadi situasinya lagi nangis!” “Albert!” isak Alexa, yang datang menghampiri Albert bersama Elina. “Apa cuma Gerald aja yang jatuh ke sungai? Liora nggak kan?” Albert terdiam dengan penuh tangisan. “Albert jawab dong!” ucap Elina. “Tadi tuh Liora ngasih kabar ke kita kalau dia lagi bareng sama keluarganya Gerald. Tapi Liora nggak kenapa-kenapa kan?” “Liora, juga hanyut ke danau karena kebawa angin badai!” isak Albert. “ASTAGHGFIRULLAHALADZIM!” Alexa dan Elina langsung menjerit histeris saat mendengar kabar bahwa Liora juga hanyut ke danau. Tak lama setelah itu mereka langsung pingsan karena sangat histeris. “Ya Allah!” Pak Helmi terkejut melihat mereka pingsan. “Kasihan banget sih Gerald sama Liora!” isak Rival. “Baru aja mereka keluar dari satu masalah yang udah bikin mereka menderita, eh sekarang mereka malah celaka karena bencana!” “Semoga aja, Gerald sama Liora selalu dalam keadaan Allah SWT. Semoga mereka selamat dan nggak kenapa-kenapa!” isak Tevi. “Aamiin.” ucap semuanya. *** “Ton, sekarang gimana?” isak Silvia. “Nggak gimana-gimana. Kita diem di sini dulu sampe hujan badai ini selesai.” “Gue takut! Gue takut kalau sampe bangunan toilet ini roboh.” “Nggak, bangunan toilet ini pasti nggak bakalan roboh. Kita aman di sini! Kita berlindung di sini sampai bencana hujan badai ini selesai.” “Tapi gue takut Ton! Gue takut banget dari tadi kalau sampe bangunan toilet ini roboh!” “Lo nggak usah takut Sil! Ada gue di sini. Gue pastiin lo bakalan selamat kalau sama gue.” Ucapan Anton barusan, tiba-tiba membuat hati Silvia mendadak merasa aman. Rasa takutnya langsung hilang begitu saja. Dia tersenyum, lalu langsung memeluk Anton dengan erat. Anton pun lalu merangkulnya. Sementara itu, arus danau yang tertiup angin melemparkan Gerald ke tepi danau. Tubuh Gerald kini terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa kali diterjang arus danau seperti ombak laut karena tiupan angin badai. Sementara itu juga, Liora terbangun di atas sebuah batu yang berada di tengah-tengah danau. “Uhuk-uhuk.” Liora lalu tersadar sembari terbatuk-batuk, kemudian dia langsung terkejut saat melihat dirinya berada di atas batu yang berada di tengah-tengah danau dengan arus bak ombak lautan. “Gue ada di mana ini?” ucap Liora panik. “Oh iya, tadi kan gue jatuh ke danau ini dan pingsan. Kak Silvia mana? Jembatannya mana?” Liora lalu menoleh ke berbagai arah, mencari keberadaan jembatan tersebut, dan dia melihat jembatan tersebut berada sangat jauh darinya. Rupanya, Liora sudah hanyut sangat jauh dari letak jembatan tersebut. “Ya Allah jauh banget! Terus ini gimana sekarang? Kalau gue berenang yang ada nanti gue hanyut ke bawa arus danau, tapi kalau gue diem aja, nanti arus danau ini bisa juga naik ke batu ini dan gue bisa hanyut!” Liora langsung menangis karena ketakutan. “TOLONG! SIAPA PUN TOLONG!” dia kemudian menjerit meminta tolong. “Uhuk-uhuk.” Gerald terbangun sembari terbatuk-batuk. Lalu dia mulai bangkit dari pingsannya, dan menatap danau yang kini sudah berombak bagaikan lautan. “Alhamdulillah, aku masih idup! Aku nggak mati hanyut di danau ini.” Gerald merasa sangat bersyukur, karena dia masih diberi keselamatan oleh Tuhan. “Sekarang, gue harus pergi dari sini buat nyelamatin diri.” Gerald kemudian kembali berdiri, lalu bergegas untuk pulang. “TOLONG!” Namun tiba-tiba, Gerald mendengar suara teriakannya Liora. “TOLONG! SIAPA PUN TOLONG!” “Suara itu? Kayak suaranya?” “TOLONG!” Air mata Gerald langsung menetes seketika, saat mengetahui jika suara teriakan tersebut adalah suara teriakannya Liora. Dia mendadak langsung panik dan ketakutan, serta khawatir bila terjadi hal buruk kepada Liora. “Itu kan suara Liora!” isak Gerald, dia lalu langsung berlari mencari keberadaan Liora. “LIORA!” sembari berteriak memanggil Liora. “LIORA!” Liora langsung mendengar suara teriakan Gerald. “Itu kok kayak suaranya?” “LIORA KAMU DI MANA?” “Itu suaranya Gerald.” Liora pun mengenali suara Gerald. “GERALD AKU DI SINI. GERALD AKU DI SINI.” Tak lama kemudian, Gerald tiba di tepi danau, tepat di hadapan Liora. “Gerald!” “Liora!” Mereka terdiam sejenak, sembari saling menatap satu sama lain dengan penuh tangisan. “Gerald tolongin aku!” isak Liora. Gerald terdiam, memikirkan cara untuk bisa menolong Liora. Dia juga menoleh ke berbagai arah, mencari benda yang bisa dijadikan alat untuk menolong Liora. Namun, dia tak menemukan ide dan tak menemukan satu benda pun untuk bisa menolong Liora. “Ya Allah. Gimana ini? Gimana caranya aku nolongin Liora? Ya Allah tolong kasih hamba petunjuk!” ucap Gerald dalam hati. “Gerald cepet ih kok kamu malah diem! Aku takut di sini sendirian!” isak Liora. “Kayaknya, nggak ada cara lain deh. Gue harus turun ke danau ini, ngelawan arus ombak ini dan bawa Liora ke sini.” akhirnya, Gerald menemukan cara untuk menyelamatkan Liora, namun hanya satu cara, dan itu pun sangat berbahaya. “Liora, kamu tunggu ya di sana! Aku bakalan ke sana sekarang dan nolongin kamu.” “Ke sini? Ke sini gimana?” “Ya turun ke danau ini.” “APA? KAMU GILA? KAMU MAU KEBAWA ARUS DANAU INI HAH? KAMU MAU MATI?” “Nggak ada cara lain, cuman ini satu-satunya cara yang bisa aku lakuin buat nolongin kamu.” “NGGAK! PASTI ADA CARA LAIN!” “Nggak ada. Aku udah mikir juga nggak nemu caranya.” “Ya kamu pergi dari bantuan kek atau apa kek!” “Emang kamu mau aku tinggalin di sini sendirian?” Liora terdiam sejenak. “Ya nggak.” “Aku juga nggak mau ninggalin kamu sendirian di sini. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu tunggu ya di sana! Aku bakalan usaha buat bisa nolongin kamu.” “NGGAK GERALD!” jerit Liora ketakutan. “KAMU PIKIRIN DONG CARA LAIN!” Gerald tak mempedulikan jeritan ketakutan Liora, dia tetap teguh pada pendiriannya untuk melawan arus danau itu demi menyelamatkan Liora.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN