Gerald menatap arus danau yang sangat dahsyat. “Bismillahirahmanirrahim.” ucapnya dalam hati, kemudian langsung melangkah menerjang arus tersebut.
“Gerald! Gerald kamu jangan gila!” Liora begitu panik saat melihat Gerald sudah melangkah ke danau. Dia lalu terdiam sembari menatap Gerald dengan penuh tangisan kekhawatiran.
Dengan sekuat tenaga, Gerald melangkah melawan arus tersebut. Sepanjang perjalanan, dia terus berdoa dan berdzikir “Allahu Akbar Allahu Akbar.” agar diberi keselamatan oleh Allah SWT.
Sampai akhirnya, Gerald tiba tepat di hadapan Liora. Dia lalu berbalik badan. “Ayo! Naik ke punggung aku! Kita harus cepet pergi dari sini!”
“Nggak mau!” isak Liora. “Mending kamu naik aja sini, kita tunggu hujan badai ini reda.”
“Liora cepet naik! Keburu arus danau ini makin dahsyat. Ayo cepet!”
“Tapi!” isakan Liora semakin penuh dengan air mata.
“Cepet!”
Dengan penuh ketakutan, Liora memeluk punggung Gerald. Setelah itu, Gerald menggendong Liora, lalu kembali melangkah melawan arus tersebut untuk tiba di tepi danau.
Liora tak berani melihat suasana danau, dia menempelkan wajahnya pada bahu Gerald, karena merasa sangat takut.
“Allahu Akbar Allahu Akbar.” tak henti-hentinya Gerald berdzikir dan meminta keselamatan kepada Allah SWT di setiap langkahnya itu.
Sampai akhirnya, Gerald berhasil melewati arus danau tersebut, dan tibalah mereka di tepi danau.
“AH! ALHAMDULILAH!” ucap Gerald dengan penuh senyuman.
Liora pun langsung tersenyum karena mereka berdua bisa selamat dari danau dan bisa kembali ke tepi danau.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya Gerald.
Liora terdiam, menatap Gerald dengan penuh tangisan. Kemudian dia langsung memeluk Gerald dengan sangat erat. Gerald tersenyum, lalu membalas memeluk Liora.
Setelah berpelukan, Liora menyentuh lembut wajah Gerald. “Makasih ya, kamu hebat banget! Kamu udah berhasil nolongin aku dengan nerjang arus danau yang bener-bener dahsyat banget ini! Kamu hebat banget, kamu bener-bener laki-laki yang bertanggung jawab. Nggak salah aku nerima kamu jadi cowok aku.”
Gerald tersenyum senang mendengar ucapan Liora barusan. Saat itu pula, hujan badai perlahan mulai reda, hingga akhirnya hanya terjadi rintikan hujan kecil saja, dan air di danau kembali mengalir tenang seperti biasa saja. Beberapa menit setelah itu, muncul pelangi di langit.
“Alhamdulillah. Akhirnya hujan badainya reda. Air danau juga udah nggak ada arus ombaknya lagi, udah ngalir tenang seperti semula lagi.” ucap Gerald.
“Gerald, lihat deh!” Liora menunjuk ke langit, ke arah pelangi. “Ada pelangi.”
Gerald pun menoleh ke arah pelangi tersebut, mereka kemudian tersenyum senang menatap keindahan setelah hujan badai yang hampir meregang nyawa mereka.
“Bener-bener ada pelangi setelah hujan badai.” ucap Liora dengan ceria.
“Iya, alhamdulillah banget Ya Allah. Kita berdua bisa selamat. Tadi kamu gimana ceritanya bisa ada di batu besar itu?”
“Tadi aku kelempar angin terus jatuh ke danau ini, habis itu aku pingsan karena nggak kuat berenang ngelawan arus danau ini tadi. Terus mungkin aku hanyut dan terdampar di batu besar itu, untung aja ada batu itu, kalau nggak ada aku nggak tahu nasib aku gimana?”
“Aku juga tadi kelempar angin terus hanyut ke danau ini, alhamdulillah aku hanyut ke tepi danau. Terus aku denger suara kamu di sini.”
“Alhamdulillah banget ya, kita bisa selamat. Ini bener-bener bakalan jadi cerita yang seru banget buat kita ceritain ke Anak-Cucu kita nanti.”
“Apaan sih?” Gerald tercengir. “Kita masih SMA, udah mikir jauh ke sana.”
“Ya aminin dong, siapa tahu kita beneran jodoh sampe menua bersama.”
“Iya deh aamiin.”
“Nah, gitu dong.”
“Tapi harus jodoh sih, soalnya aku maunya sama kamu, nggak mau yang lain.”
“Aku juga. Eh! Tunggu deh, kayaknya ada yang aneh sama kamu.”
“Hah? Ada yang aneh sama aku? Apaan?”
“Kamu, kamu tadi nggak pingsan ya waktu sentuhan sama aku? Kamu gendong aku, kamu peluk aku, aku pegang kamu, kamu biasa aja kamu nggak pingsan.”
“Oh iya ya? Aku kan gynophobia, tapi kok sekarang aku kok baik-baik aja ya? Nggak ngerasain apa-apa? Aku nggak gemeteran dan nggak pingsan juga.”
Mereka baru menyadari, jika selama mereka berpelukan dan bersentuhan sedari tadi, Gerald tidak mengalami gejala gynophobia seperti biasanya.
“Coba sini!” Liora lalu memegang kedua tangan Gerald, dan Gerald tidak mengalami gejala apa-apa. “Apa yang kamu rasain?”
“Aku, nggak ngerasain apa-apa.”
“Hah? Serius?”
“Iya, serius. Aku baik-baik aja. Aku nggak ngerasa gemeteran lagi.”
“Alhamdulilah. Itu artinya, kamu udah nggak ngalamin gynophobia lagi, kamu udah sembuh.”
“Iya mungkin. Tapi,”
“Kenapa?”
“Mungkin, aku sembuh sama kamu doang, tapi kalau sama cewek lain aku tetep gynophobia. Kata Dokter kan, aku bakalan terbiasa sama pacar aku dulu, baru sama yang lain.”
“Kalaupun iya kamu cuma sembuh pas sama aku doang, nggak apa-apa, syukurin aja dulu. Yang terpenting, kamu udah ada perubahan. Kalau udah terbiasa sama aku, nanti pasti prosesnya cepet kok buat menuju kesembuhan yang sesungguhnya.”
Gerald tersenyum. “Makasih ya, karena kamu, gangguan gynophobia aku udah mulai mau sembuh.”
“Makasih sama Allah SWT, bukan sama aku. Karena Allah SWT selalu tahu cara terbaik buat nyembuhin hambanya.”
Gerald tersenyum, lalu menundukan kepalanya. “Ya Allah. Terima kasih atas kesembuhan yang telah engkau berikan kepada hamba. Terima kasih Ya Allah. Hamba benar-benar merasa sangat bersyukur karena gangguan gynophobia hamba sudah perlahan membaik. Semoga saja, gangguan gynophobia ini akan segera sembuh sepenuhnya, dan hamba bisa menjalani hidup dengan normal seperti orang lain, Aamiin.” ucapnya dalam hati, dia memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT atas kesembuhan yang telah dia dapatkan.
“Ternyata bener ya kata pepatah. Akan ada pelangi setelah hujan badai, dan selalu ada hikmah dari setiap kejadian.”
“Iya, kamu bener banget.”
“Yaudah, sekarang kita pulang yuk! Aku khawatir hujan badai bakalan terjadi lagi.”
“Iya, ayo!” Gerald mengenggam erat tangan Liora, lalu melangkah pulang bersama.
“Eh! Itu jembatan tempat kita tadi ya?” Gerald menunjuk jembatan tersebut, yang berada sangat jauh dari tempat mereka berada.
“Iya.”
“Kok jauh banget ya? Dari pintu masuk ke jembatan itu aja jauh, terus sekarang kita lagi jauh banget gini ke jembatan. Nyampenya pasti lama banget.”
“Ya mau gimana lagi? Di sini kan nggak ada kendaraan.”
“Kalau nyampenya lama, aku khawatir hujan badai bakalan terjadi lagi. Mana di sini cuma ada kita berdua, nggak ada siapa-siapa lagi.”
“Iya, aku juga takut kalau hujan badai terjadi lagi. Tapi kita berdoa aja, supaya hujan badai nggak terjadi lagi. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.”
“Aamiin.”