Sangat Terpesona

1173 Kata
Gerald mendadak tersenyum senang, karena sebentar lagi sepupunya akan segera pindah rumah ke wilayahnya, dan sekolah bersamanya. “Asyik! Seru dong kalau bisa satu sekolah sama Albert. Kapan mereka mau pindah, Pah?” “Besok. Besok mereka mulai pindah ke sini, dan besok, Om Gino akan langsung mengurus perpindahan Albert ke sekolah kamu. Jadi mulai lusa, Albert bisa bersekolah bareng kamu.” “Udah nggak sabar deh.” ucap Gerald dengan penuh senyuman. “Yaudah, kamu ganti baju sana! Terus makan, habis itu minum obat biar cepet sembuh!” ucap Mamah. “Emmm Mah, Pah. Nanti malem aku mau keluar, boleh nggak?” “Mau keluar sama siapa?” “Sama, pacar aku. Hehe.” jawab Gerald dengan pelan dan tercengir. “Sejak kapan kamu udah punya pacar?” “Sejak kemarin, Pah.” “Pasti gara-gara dia ya kamu pingsan kemarin?” “Pah!” ucap Mamah. “Jangan banyak tanya, izinin atau nggak?” Raffi menghela napas. “Boleh-boleh aja. Tapi inget ya, kalau deket sama perempuan, tahu batasan, jangan berlebihan. Inget juga! Kamu harus ada di rumah, sebelum jam 9 malam.” “Siap Pah.” balas Gerald dengan penuh senyuman. “Terus kamu mau pergi pake apa?” tanya Yulia. “Mau pake mobil Mamah?” “Maunya pake mobil Kak Anton yang keren. Boleh nggak?” “Ya minta izininnya sama Kakak sana!” balas Mamah. “Kak Anton di kamar? Udah pulang kan?” “Iya udah.” “Yaudah, aku ke kamar Kak Anton dulu ya Mah, Pah.” “Iya. Habis itu langsung makan ya!” ucap Mamah. “Iya.” Gerald kemudian langsung pergi untuk menemui Anton di dalam kamarnya. Raffi menatap kepergian Gerald dengan penuh wajah yang cemas. “Kenapa Pah? Kok mukanya kayak yang ketakutan gitu?” “Aku ngerasa, nggak tenang banget!” “Nggak tenang kenapa?” “Aku ngerasa nggak tenang banget, udah ngizinin Gerald pacaran. Dia masih kecil banget, baru aja 16 tahun. Aku takut kalau ini bakalan berdampak buruk sama Gerald!” “Jangan ngomong gitu ah! Anak kita pasti bakalan baik-baik aja kok. Ini semua kan demi kebaikannya Gerald. Kita harus biarin Gerald nikmatin masa mudanya, supaya gangguan gynophobianya bisa sembuh. Udah jangan dipikirin lagi!” “Iya-iya.” balas Raffi, kemudian duduk bersandar pada kursi. Sementara itu, Gerald baru saja tiba di dalam kamarnya Anton. “Kak Anton.” panggil Gerald. “Hmmm?” balas Anton yang sedang berbaring di tempat tidurnya sembari bermain ponsel. “Kak. Pinjem mobil ya?” “Mau ke mana?” “Mau ngajak Liora jalan.” “Liora, siapa tuh?” “Pacar aku, hehe.” cengir Gerald. “Widih mantep udah punya pacar.” Anton tersenyum. “Pinjem mobil ya Kak?” “Tapi bisakan ngemudiinnya?” “Bisa, kan udah diajarin sejak lama.” “Yaudah sana.” “Kuncinya mana?” “Tuh di meja.” “Makasih ya Kak.” “Iya.” Gerald lalu mengambil kunci mobil Anton, kemudian bergegas keluar dari kamar tersebut. Setibanya di luar kamar, Gerald tersenyum dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Dia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan Liora, pujaan hatinya. “Jadi nggak sabar banget deh buat ketemu sama Liora nanti malem.” ucap Gerald dalam hati dengan penuh senyuman. *** Liora tersenyum menatap dirinya yang sudah tampil cantik di depan cermin. Kemudian dia menatap jam dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul setengah 7 malam. Setelah itu dia duduk di tempat tidurnya, dia benar-benar sudah tak sabar untuk bertemu dengan Gerald dan menjalani first date pertama mereka. “Nggak sabar banget deh buat ketemu sama Gerald.” ucapnya dengan penuh senyuman. Tak lama setelah itu, ponselnya berbunyi. Rupanya, dia mendapat chatt w******p dari Gerald, yang memberi tahu dirinya jika Gerald sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Liora lalu langsung melihat melalui jendela rumahnya, dan ternyata, sebuah mobil hitam sudah berada di depan gerbang rumahnya. Liora tersenyum. “Itu pasti Gerald.” Dengan langsung, Liora mengambil tasnya, kemudian langsung bergegas pergi untuk menemui Gerald. “Mah, Pah. Aku keluar dulu ya.” ucapnya, kepada orangtuanya yang sedang menonton televisi di ruangan tengah, bersama Kakak perempuannya yang bernama Silvia Aretha. “Wih! Cantik banget! Mau ke mana nih?” tanya Silvia. “Kepo.” balas Liora sembari tercengir. “Mau jalan sama ayang beb ya?” “Mau ke mana sayang?” tanya Ridho, Ayahnya Liora. “Mau main dulu keluar Pah.” “Sama siapa?” “Sama itu.” “Itu siapa, pacar ya?” tanya Maya, Ibunya Liora. “Iya, Mah, hehe.” jawab Liora dengan ragu. Ridho, Maya, dan Silvia saling tersenyum setelah mendengar bahwa Liora sudah memiliki pacar. “Mana pacarnya? Ajak ke sini dong ketemu sama Papah.” “Ada di depan. Nanti aja pulangnya ya Pah aku ajak ke rumah.” “Yaudah sana, jangan malem-malem ya pulangnya.” “Iya Pah.” Liora kemudian mencium tangan orangtua dan juga Kakaknya. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Setelah itu Liora langsung melangkah pergi untuk menemui Gerald. Sementara Gerald, kini dia sedang berdiri bersandar di mobil Kakaknya, menunggu kedatangannya Liora. “Duh! Kok gue jadi deg-degan gini ya? Ini wajar apa nggak?” ucap Gerald dalam hati. “Ah! Ini pasti wajar. Gue deg-degan karena mau ketemu sama cewek gue, bukan deg-degan karena gynophobia. Pasti!” Tak lama kemudian, Liora tiba menghampirinya. “Hei.” sapa Liora dengan penuh senyuman. Kedua mata Gerald langsung terfokus begitu saja saat melihat Liora dengan penampilannya yang begitu cantik dan menawan. Pesona kecantikan Liora itu benar-benar membuat Gerald sangat terpesona padanya. “Hei, kok diem?” “I-ini, beneran kamu, Liora?” “Manggilnya Liora mulu ih!” “Ah! Maksud aku, ini beneran kamu sayang?” “Ya iyalah aku. Emangnya siapa lagi?” “Wow! Kamu, bener-bener cantik banget. Gila! Kamu bener-bener cantik banget sumpah! Nggak kuat aku lihatnya!” “Dih!” Liora mendadak terkesipu malu saat mendengar Gerald memujinya seperti itu. “Cantik banget sih kamu! Mamah kamu ngidam apa sih sampe bisa ngelahirin Anak secantik gini?” “Ih gombal mulu. Kapan kita berangkatnya?” “Siapa yang gombal? Aku cuma ngomong secara fakta kok. Kamu itu emang bener-bener cantik banget. Untung aja kamu punya aku.” “Terus kapan kita berangkatnya?” Gerald membukakan pintu mobil. “Silahkan masuk cantik!” Liora tersenyum. “Makasih ganteng.” kemudian melangkah masuk ke dalam mobil. Gerald lalu menutup pintu mobil. Setelah itu menghela napas panjang sejenak. “Gila! Cewek gue bener-bener cantik banget! Nggak ada obat cantiknya!” ucapnya dalam hati. Gerald merasa sangat terpesona dengan kecantikan Liora. Pesona kecantikan kekasihnya itu seakan-akan membuat Gerald seperti terbang ke langit ke-7. Dengan penuh senyuman, Gerald kemudian melangkah memasuki mobil. Setelah itu kembali menatap paras wajah Liora yang begitu cantik. “Kok malah diem? Ayo jalan sayang!” “Kamu aja deh ya yang nyetir!” “Kok aku sih?” “Aku pengennya mandangin kamu terus, soalnya kamu cantik banget!” “Dih!” Liora kembali terkesipu malu karena ucapan Gerald yang tak henti-henti memujinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN