“Tevi dong.” ucap Liora. “Tevi kan orangnya manis, berarti dia tipe lo.”
“Ya semacam gitulah.” cengir Elina.
“Asyik! Yaudah kalau gitu lo sama Tevi aja, biar nanti kita bisa sering-sering double date.”
“Nggak ah! Gue nggak ada rasa sama dia.”
“Tapi kan dia tipe lo. Cowok manis.” ucap Alexa.
“Tipe gue emang, cuma bukan berarti gue mau.”
“Ah nanti juga pasti lo jadian sama Tevi.” ucap Liora. “Terus lo jadian sama Rival.” lalu menunjuk Alexa.
“Apaan sih Ra? Gue nggak ada rasa apa-apa kali sama si Rival.”
“Oh iya Al, kalau tipe cowok lo kayak gimana?” tanya Elina.
“Tipe cowok gue, yang keren aja sih.”
“Keren doang?” tanya Liora.
“Iya keren. Nggak apa-apa nggak ganteng, asalkan gayanya keren dilihat. Ganteng mah bonus sih kalau buat gue.”
“Wih! Mantep! Nggak mandang fisik nih.” ucap Elina.
“Nggak mandang fisik apaan?” tanya Liora. “Lo pikir keren bukan fisik?”
“Kalau keren bukan fisik kali, keren kan ditentuin sama penampilan. Kayak baju, sepatu, rambut. Kalau fisikmah, kayak muka, badan, itu baru mandang fisik.”
“Nah, bener.” ucap Alexa.
“Ah sama aja fisik.” ucap Liora.
“Serah lo aja deh.” ucap Elina kepada Liora.
“Ra, berarti tipe cowok lo, yang ganteng ya?” tanya Liora.
“Nggak juga.”
“Lah! Gerald kan ganteng, dan lo mau sama dia? Berarti tipe cowok lo yang ganteng dong?”
“Tipe cowok gue itu, yang punya pemikiran cerdas, karena kalau dia punya pemikiran yang cerdas, otomatis pasti dia bakalan berusaha buat ngeraih kesuksesan. Gue suka banget sama cowok yang cerdas. Makanya gue suka banget sama Gerald, dia kan berprestasi, dan kalau gantengnya, itu bonus buat gue, haha.”
“Sama dong, ganteng mah cuma bonus ya? Haha.” ucap Alexa.
Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya jam menunjukan pukul 3 sore. Bel tanda pulang sekolah berbunyi, kemudian semua murid langsung bergegas untuk pulang.
“Liora.” panggil Gerald, lalu menghampiri Liora yang baru saja tiba di luar kelas.
“Iya, kenapa sayang?” tanya Liora dengan penuh senyuman.
“Nanti malem kamu free nggak?”
“Nggak.”
“Mau ngapain emang?”
“Kan ada PR matematika tadi. Jadi nanti malem aku mau ngerjain PR.”
“Kok malem sih ngerjainnya? Pulang sekolah aja langsung kerjain.”
“Emang kenapa? Mau ngajak jalan?”
“Iya.”
“Hah? Bukannya kamu nggak dibolehin keluar ya sama Papah kamu?”
“Itu dulu, sekarang aku udah diizinin buat bebas, dan juga udah diizinin buat pacaran.” jawab Gerald dengan penuh senyuman.
“Hah? Serius?” Liora langsung tersenyum senang mendengar kabar baik dari Gerald barusan.
“Serius dong. Jadi mulai sekarang, kita bisa berduaan jalan keluar, nggak cuma di sekolah aja.”
“Ini serius? Kamu nggak bohong?”
“Serius sayang. Ngapain aku bohong?”
“Aaahhhh aku seneng banget deh dengernya!”
“Hehe.”
Mereka berdua tersenyum dengan perasaan yang sangat bahagia. Karena mereka bisa menjalani hubungan dengan normal seperti remaja pada umumnya.
“Kerjain PRnya langsung ya! Biar nanti malem kita bisa keluar.”
“Oke. Siap!”
“Sekalian, ada yang mau aku omongin ke kamu.”
“Mau ngomong apa?”
“Ya nanti aku ngomongnya.”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Nggak enak kalau ngomong di sini.”
“Ah kamu, bikin aku penasaran aja.”
“Nanti aku jemput jam setengah tujuh ya?”
“Siap, ditunggu ya ganteng.”
“Oke cantik. Kalau gitu aku duluan ya?”
“Tunggu.” Liora menahan tangan Gerald.
Jantung Gerald mendadak berdegup ketakutan saat Liora memegang tangannya. Gerald kemudian dengan cepat menarik tangannya hingga terlepas dari tangan Liora.
“Jangan pegang-pegang!” ucap Gerald dengan napas yang ketakutan.
“Kamu kenapa sih? Kok nggak mau sih aku pegang.”
“Justru ini yang mau aku omongin ke kamu nanti.”
“Kamu kenapa sih?”
“Nanti, aku ceritain semuanya ke kamu.”
Liora terdiam sejenak. “Kamu pulang pake apa?”
“Dijemput. Supir aku udah nunggu di depan.”
“Kamu udah dibolehin bawa kendaraan?”
“Udah.”
“Terus kenapa masih dijemput?”
“Soalnya kendaraannya belum dibeli, makanya aku masih dijemput dulu pake mobilnya Mamah aku.”
“Terus nanti malem gimana? Masa kita jalan pake supir? Nggak asyik dong.”
“Ya nggaklah sayang. Aku juga tahu kali soal itu mah.”
“Ya terus gimana?”
“Lihat aja nanti!” balas Gerald dengan penuh senyuman.
“Yaudah deh. Ayo! Supir aku juga udah nunggu di depan.”
“Iya.”
Mereka berdua lalu berjalan bersama menuju ke depan gerbang untuk pulang dengan mobil jemputan masing-masing.
Dari kejauhan, Devin dan Clara merasa kesal saat melihat Gerald dan Liora yang berjalan bersama dengan penuh senyuman satu sama lain.
“Ih! Nyebelin banget sih!” ketus Clara. “Udah jam terakhir otak jangar karena pelajaran matematika. Eh pas pulang harus ngelihat adegan yang bikin ati panas! Nyebelin banget sih!”
“Lihat aja! Seminggu lagi, mereka nggak bakalan bisa berduaan dengan tenang lagi kayak gitu. Nggak akan!” ucap Devin. “Udahlah ayo!”
Mereka berdua kemudian melangkah pulang.
***
Jam menunjukan pukul setengah 5 sore. Gerald baru saja tiba di rumah setelah selesai menjalani terapi di psikiater.
“Asalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” balas Raffi dan Yulia, yang sedang bersantai di ruangan tengah sembari menonton televisi.
“Gimana sama terapinya? Lancar?” tanya Raffi.
“Alhamdulilah lancar Pah.”
“Alhamdulilah.”
“Terus, kamu dikasih obat nggak?” tanya Yulia.
“Ada.”
“Mana coba Mamah lihat.”
“Nih!” Gerald memberikan obat-obatan yang diberikan oleh Dokter Rendy, kepada Ibunya.
Raffi dan Yulia kemudian terkejut ketika melihat obat yang banyak itu.
“Ya Allah. Banyak banget obatnya.” ucap Yulia.
“Oh iya Gerald, kamu udah tahu kabar soal Albert belum?” tanya Raffi.
“Kabar soal Albert? Nggak Pah. Emang Albert kenapa? Oh aku tahu! Albert pasti ngalamin gangguan gynophobia juga ya kayak aku? Soalnya kan didikan Papah sama Om Gino itu sama.”
Gerald mendadak bisa menebak, jika sepupunya itu juga mengalami gangguan gynophobia sepertinya. Sebab Omnya, selalu mendidik Albert sama seperti Ayahnya.
“Yah, kamu bener sayang. Albert juga ngalamin gejala sama persis kayak yang kamu alamin. Papah baru dapet kabar itu tadi siang dari Om Gino.”
“Terus, Om Gino udah ngizinin Albert buat bebas, dan ngebolehin pacaran?”
“Iya udah, cuman katanya, gejala yang Albert alamin itu parah banget.”
“Maksudnya?”
“Sejak masuk SMA, dia bener-bener anti banget sama perempuan. Kalau kamu mah masih mending, kamu kalau sama Guru perempuan kamu, atau sama perempuan orangtua, kamu biasa-biasa aja, nggak ngalamin gejala apa-apa. Kamu cuma ngalamin gejala gynophobia waktu kamu deket sama perempuan yang seumuran dan nggak beda jauh sama kamu. Beda sama Albert, dia ngalamin gejala itu sama perempuan semua umur, kecuali sama Tante Nindy, Mamahnya.”
“Astaghfirullah. Kasihan banget Albert. Dia pasti kesiksa banget kalau kayak gitu.”
Gerald mendadak terkejut setelah mendengar kabar buruk yang menimpa Albert, sepupunya.
“Iya sayang. Maka dari itu, Tante Nindy sama Om Gino akan pindah ke kota kita ini, dan akan tinggal di komplek perumahan kita juga.” ucap Yulia.
“Pindah? Kenapa pindah?”
“Mereka pindah ke sini, supaya Albert bisa sekolah bareng sama kamu. Supaya kamu sama Albert bisa sama-sama saling menemani untuk menyembuhkan gangguan gynophobia yang kalian alami.”
“Di sekolahnya yang sekarang, Om Gino dapat laporan dari para Gurunya Albert, katanya Albert suka pingsan dan ngalami hal-hal aneh. Yaitu gangguan gynophobianya yang lebih parah dari kamu. Maka dari itu, Om Gino akan pindah ke sini, supaya Albert satu sekolahan sama kamu. Supaya kamu bisa jagain sepupu kamu, dan kamu juga bisa dijagain sama Albert.”
“Intinya, supaya kalian bisa menjaga satu sama lain.” ucap Raffi.