Chatting w******p

1166 Kata
“Siang Anak-Anak.” sapa Ibu Melly, yang baru saja tiba di kelas X IPA 1. “Pagi Bu.” balas seluruh murid kelas tersebut. “Ketemu lagi ya sama Ibu. Gimana kabar kalian?” “Alhamdulilah kita semua baik, Bu.” jawab Rival. “Alhamdulillah kalau semuanya baik-baik aja.” “Kalau Ibu sendiri, gimana kabarnya?” tanya Alexa. “Alhamdulillah, kabar Ibu juga baik, baik banget.” Ibu Melly kemudian tersenyum melihat Anak-Anak muridnya itu. “Oh iya, gimana sama struktur kelas? Udah dibuat?” “Udah Bu. Udah dipasang di belakang.” jawab Gerald. “Bagus. Berarti kalian semua udah siap ya buat mulai belajar hari ini? Khususnya belajar pelajaran biologi sama saya. Langsung kita mulai aja ya. Di bab pertama, kita akan mempelajari tentang kerja ilmiah.” Ibu Melly mulai menerangkan bab pertama pelajaran biologi di kelas tersebut. Pelajarannya tersebut berjalan dengan lancar, hingga waktu jam pelajarannya berakhir, ditandai dengan bunyinya bel pergantian jam pelajaran. “Gimana, paham sama materinya?” “Paham Bu.” balas semuanya. “Bagus. Untuk sekarang, Ibu nggak akan dulu ngasih PR. Nanti Ibu kasihnya mulai minggu depan. Bagian siapa sekarang?” “Bagiannya Ibu Rini, pelajaran bahasa inggris, Bu.” jawab Liora. “Yasudah kalau gitu, ditunggu Ibu Rininya ya. Asalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Ibu Melly kemudian melangkah pergi keluar kelas karena jadwal mengajarnya sudah selesai. “Eh guys!” panggil Rival kepada Gerald dan Tevi. “Kalian paham nggak materi biologi tadi?” “Nggak. Tapi pas ditanya paham apa nggak? Ya gue jawab paham aja.” balas Tevi. “Haha!” Rival tercengir. “Gue juga nggak paham.” Gerald tercengir melihat tingkah Rival dan Tevi. Dia kemudian mengambil ponselnya dari dalam tasnya, untuk memainkannya beberapa menit sebelum Ibu Rini datang. Ketika Gerald membuka whatsappnya, dia langsung terkejut karena whatsappnya dipenuhi oleh 500 chatt dari nomor perempuan asing yang tak dia kenali. “Astaga!” “Kenapa lu?” tanya Tevi. “Ada 500 chatt dari nomor cewek yang nggak gue kenal, masuk ke WA gue.” “Dih! Kirain apaan?” ucap Tevi. “Kok lo kaget sih?” tanya Rival. “Elo kan cowok terkenal, ya wajarlah kalau lo dichatt sama banyak cewek.” “Nggak! Sebelumnya gue nggak pernah dapet chatt sebanyak gini. Pasti ada yang nyebarin nomor gue, kalian ya pasti?” “Nggak. Bukan gue.” jawab Tevi. Gerald kemudian menatap Rival, lalu Rival langsung terdiam. “Vaaaalllll.” “Hmmm?” “Jangan bilang kalau elo yang nyebarin nomor gue?” “Ya sorry Ger.” “Vaaaal. Elo kalau mau ngasih nomor gue ke orang lain, izin dulu dong sama gue.” “Gue ngasih nomor lo, bukan karena sengaja, tapi karena terpaksa.” “Maksud lo?” “Setiap kali gue pulang sekolah, gue selalu didatengin sama para fans lo, mereka minta nomor WA lo. Mereka nggak mau pergi sebelum gue kasih nomor WA lo, yaudah deh gue terpaksa ngasih ke mereka.” “Elo kan anak kepala sekolah di sini, kenapa lo nggak ancem mereka aja kalau mereka gangguin lo terus?” ucap Tevi. “Udah, tapi mereka nggak peduli. Mereka terus aja maksa gue buat ngasihin nomor WA lo.” “Jujur sih Ger, ke gue juga banyak cewek yang minta nomor WA lo, tapi mintanya pada lewat IG gue. Tapi lo tenang aja, gue nggak pernah kok ngasih nomor WA lo ke siapa-siapa tanpa izin dari lo.” “Hadehhh! Chatt dari kalian, keluarga gue, sama temen-temen yang lain, pada ketumpuk sama chatt baru. Cape banget scroll ke bawah, 500 chatt gila banyak banget.” “Iya, itu fans lo, banyak banget.” ucap Rival. “Andai aja gue ganteng kayak lo, pasti banyak cewek yang ngejar gue.” ucap Tevi. “Iya, insecure banget gue sama lo Ger.” ucap Rival. “Apaan sih lo berdua? Nggak beryukur banget. Pada punya muka ganteng, anak orang kaya, kok insecure. Merendah untuk meroket apa lo berdua? Atau lo berdua haus? Kalau haus minum sana!” “Ganteng? Muka kek gini dibilang ganteng. Bermasalah kali tuh ya mata lo.” ucap Rival. “Kita tuh kentang, sedangkan lo mutiara. Jadi ya wajarlah kalau kita insecure sama lo.” ucap Tevi. “Terserah lo berdua aja dah! Males gue ngomong sama orang haus. Orang muka pada ganteng-ganteng gitu dibilang kagak ganteng. Hadehhh!” “Kenapa mukanya gitu? Jelek tahu!” ucap Liora melalui chatt w******p kepada Gerald. Gerald langsung membalas chatt Liora, tanpa menoleh dulu ke arahnya. “Kesel aku ngedenger dua orang haus ini.” “Ya tinggal izin ke toilet, tapi perginya ke kantin beli minum, selesai deh hausnya keobatin.” “Bukan haus itu.” “Terus haus apa?” “Haus pujian.” “Maksudnya?” “Mereka kan ganteng, kok mereka bilang insecure sama aku, dan malah ngatain muka mereka jelek. Jijik banget didengernya.” “Haha, yaudah sih, kenapa kamu harus kesel sama tingkah mereka yang kayak gitu? Mungkin mereka cuma bercanda.” “Ah! Tetep aja jijik aku dengernya. Aku tuh paling nggak suka sama orang yang haus pujian.” “Udah ah jangan kesel-kesel kayak gitu. Jelek tahu!” Saat Gerald akan membalas chatt dari Liora, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada Tevi yang mengintip layar ponselnya. “Dih! Deket-deket chattingan.” Rival tercengir. “Suka-suka gue dong!” “Woy Liora! Kalau mau ngobrol sama Gerald, sini! Biar gue ke sana!” ucap Tevi. “Nggak ah, nggak mau. Nanti kalau ada Guru gimana?” “Ya kalau ada Guru, tinggal balik lagi ke bangku lo lah. Sini tukeran, gue mau ngerumpi sama Alexa.” “Dih!” ucap Alexa. “Buruan Liora! Jangan malu-malu kambing.” ucap Rival. “Jangan Ra!” ucap Alexa, sembari menahan tangan Liora. “Masa cewek ngedeketin cowok duluan sih? Jangan!” “Ih! Bucin banget sih lo berdua.” ucap Elina. “Dari tadi gue lihat maunya tuh pacaran mulu. Nikah aja sana biar bisa deket-deket terus.” “Namanya juga pengantin, ya wajarlah kalau pengennya deket-deketan mulu.” balas Alexa. “Penganten apaan maksud lo?” “Pasangan baru, penganten kan? Sama ajalah. Haha.” Alexa tercengir. “Dih! Garing lo!” Elina pun tercengir. “Ngomen mulu lo berdua! Dasar jomblo! Makanya punya cowok sana!” ucap Liora. “Oke, nanti gue bakalan cari cowok, dan gue bakalan buktiin kalau gue bukan b***k cinta.” ucap Elina. “Yakin?” tanya Liora sembari tercengir. “Ya yakin dong.” “Oke, kita lihat nanti. Kalau lo lebih bucin dari gue, lo harus mau double date sama gue sama Gerald, dan traktirin kita makan.” “Nggak masalah, siapa takut? Kalau gue udah punya cowok nanti, ya pasti nanti cowok guelah yang bakalan bayarin. Hahahahaha.” “Dih!” Liora dan Alexa tercengir mendengar ucapan Elina barusan. “Emang tipe cowok lo yang kayak gimana, El?” tanya Liora. “Tipe cowok gue, yang kayak gula.” “Manis maksudnya?” “Yoi. Tipe cowok gue itu yang manis.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN