Setelah melewati perjalanan selama tiga puluh menit, tibalah mereka di depan pintu gerbang danau wisata.
“Pah, HPnya Anton nggak aktif dari tadi. Udah Mamah coba teleponin buat ngasih tahu kita udah nyampe, tapi nggak bisa dihubungin dia.” ucap Yulia.
“Kata Liora barusan di WA, Kak Silvia juga nggak bisa dihubungin Mah, HPnya nggak aktif.” ucap Gerald.
“Apa-apaan sih mereka? Kenapa malah matiin HP? Yaudah Gerald, kamu cari Kakak kamu sana! Jemput pulang!”
“Aku ajak Liora dulu ya Pah.”
“Iya.”
Gerald lalu mengajak Liora melalui w******p untuk menjemput Anton dan Silvia, setelah Liora mengiyakan ajakannya, mereka berdua kemudian turun dari mobil. Setelah itu langsung bergegas pergi ke area danau wisata itu.
“Kok aku baru tahu ya? Ada danau wisata di kota kita ini?” ucap Gerald, yang baru mengetahui adanya danau wisata di kotanya.
“Maklum, kamu kan baru bebas, jadi belum tahu wisata-wisata yang asik di kota kita ini.”
Ketika mereka baru berjalan beberapa langkah di area danau wisata itu, tiba-tiba langit mendadak menjadi sangat gelap.
“Ih! Langitnya kok tiba-tiba jadi gelap banget gini sih? Suasananya jadi kayak maghrib, gelap banget.”
“Kayaknya bakalan turun hujan gede nih. Kita harus cepetan jemput Kak Anton sama Kak Silvia!”
“Eh, itu mereka.” Liora melihat keberadaan Anton dan Silvia yang sedang berada di jembatan pelangi, kemudian menunjuk mereka.
“Astaga!” bukannya senang karena telah menemukan Kakak mereka, Gerald malah terkejut saat melihat Kakaknya berada di jembatan yang sangat tinggi di atas danau.
“Kenapa? Kok kamu malah kaget gitu sih?”
“Itu jembatan apaan? Kok tinggi banget sih? Setara sama gedung kantoran di kota-kota gede.”
“Itu jembatan pelangi, jembatan yang khusus didesain tinggi banget, supaya pengunjung bisa ngelihat pemandangan danau dari atas.”
“Nyeremin banget sih! Kalau misalnya nanti jembatan itu ambruk, pasti bakal ngebahayain pengunjung.”
“Ya nggak bakalan lah, semua yang ada di sini, udah dipastiin dulu keamanannya. Udah ah! Ayo kita susul mereka!”
Liora lalu menarik dasi Gerald, kemudian pergi menyusul Kakak mereka ke jembatan pelangi.
“Sayang.”
“Hmm?”
“Kita teriakin aja deh mereka dari sini!”
“Ya nggak bakalan kedenger dong sayang, itu kan tinggi banget. Kamu kenapa sih kamu takut? Ih! Masa kalah sama aku sih? Aku aja cewek berani.”
“Ya, aku kan belum pernah nginjek tempat yang tinggi banget kayak gitu. Seumur hidup aku belum pernah pergi ke ketinggian.”
“Yaudah, jadi ini bakalan jadi moment pertama kamu pergi ke ketinggian. Ayo ah!”
Gerald hanya bisa menahan rasa takut, saat Liora mengajaknya menaiki tangga jembatan yang sangatlah tinggi. Dia terus menatap ke depan, tak mau melihat ke bawah.
Sampai akhirnya, tibalah mereka di atas jembatan tersebut. Sesampainya di sana, ketakutan Gerald mendadak berubah menjadi senyuman, sebab dia langsung terpesona dengan indahnya pemandangan danau tersebut.
“Wow! Indah banget danaunya! Sumpah! Indah banget dilihat dari ketinggian kayak gini!”
“Nah, gitu dong senyum. Masa cowok penakut sih! Haha!”
“Asli yang, indah banget danaunya!”
“Yaudah, yuk susul Kak Anton sama Kak Silvia!”
“Kamu duluan aja, aku masih mau ngelihat pemandangan dari sebelah sini.”
“Oke deh.”
Liora kemudian pergi menyusul Anton dan Silvia, sementara Gerald tetap berdiri di ujung jembatan untuk melihat pemandangan dari sana.
“Hei!” sapa Liora, saat telah tiba di dekat mereka.
“Liora, kok nyusul ke sini sih? Kenapa nggak ngasih tahu aja kalau kalian udah di depan gerbang?” tanya Silvia.
“Ya HP kalian nggak aktif, makanya aku sama Gerald nyusul ke sini.”
“Oh iya, gue lupa tadi volume HP gue kepencet jadi rendah banget, makanya nggak kedengeran ada yang nelepon.” ucap Silvia.
“Kalau HP gue sih low bat, hehe.”
“Terus, Gerald mana?”
“Tuh.” Liora menunjuk Gerald. “Lagi enak ngelihatin pemandangan di ujung jembatan.”
Anton tersenyum melihat Gerald yang cukup jauh dari posisinya berada sekarang. “Kok dia nggak takut ya? Ini kan pertama kalinya dia pergi ke tempat yang tinggi banget?”
“Takut banget dia tuh awalnya Kak, cuman aku paksa. Eh! Pas nyampe atas sini, dia malah terpesona sama keindahan danau ini.” ucap Liora.
“Mantap!” cengir Silvia.
“Yaudah, yuk pulang!” ajak Liora.
“Yuk!”
Saat mereka melangkah untuk pulang, tiba-tiba rintikan hujan kecil turun diiringi dengan tiupan angin dingin, yang lama-kelamaan tiba-tiba berubah menjadi hujan yang sangat deras dan juga angin yang bertiup dengan sangat kencang.
“AAAHHH KAKAK!” Liora yang ketakutan langsung memeluk Silvia.
Anton, Silvia dan Anton langsung menghentikan langkah mereka saat hujan dan angin kencang itu menerpa mereka.
“Astaghfirullah! Apa yang udah terjadi? Kenapa hujan sama anginnya dahsyat banget kayak gini?” ucap Silvia panik.
Angin yang sangat kencang itu membuat pandangan mereka semua tiba-tiba menjadi kabur.
“HAH!” Gerald langsung mendudukan dirinya di jembatan, karena sangat terkejut dengan hujan besar dan angin kencang yang tiba-tiba datang, serta pandangan yang tiba-tiba menjadi kabur.
“Astaghfirullahaladzim! Apa yang terjadi Ya Allah? Kenapa bisa tiba-tiba turun hujan badai kayak gini? Liora, Kak Anton, Kak Silvia?”
Dengan penuh rasa panik, Gerald kemudian melangkah dengan berpegangan kepada pinggir-pinggir jembatan untuk mencari keberadaan mereka.
“LIORA! KAK ANTON! KAK SILVIA!” teriak Gerald, yang langsung terdengar oleh mereka.
“Gerald, itu suaranya Gerald.” ucap Anton, dia kemudian mengambil ponselnya, lalu menyalakan senter ponselnya agar bisa menerangi sekitar jembatan.
“Anton jangan nyalain HP bahaya!” ucap Silvia.
“Nggak Sil! ini nggak apa-apa kok, kan nggak ada petir. Lagian kalau gue nggak pake senter HP, kita nggak bakalan bisa ngelihat jalan pulang.”
“KAK ANTON!”
“GERALD! KAMU TUNGGUIN KAKAK DI SANA! DUDUK DI SANA! JANGAN KE SINI! BIAR KAKAK YANG KE SANA!”
“OKE KAK! AKU TUNGGU DI SINI!”
Saat Gerald akan duduk untuk menunggu mereka, tiba-tiba angin di arah posisinya berhembus semakin kencang, hingga akhirnya membuat dia terpental keluar dari jembatan, namun dia masih bisa berpegangan kepada pagar jembatan itu.
“AAAAAAHHHHHHH!” Gerald menjerit histeris saat dirinya kini sedang bergelantungan di atas ketinggian danau.
“Gerald!” semuanya langsung panik seketika saat mendengar teriakan Gerald barusan.
“GERALD!” teriak Anton, kemudian langsung bergegas untuk berlari menghampiri Gerald.
“ANTON!” teriak Silvia, yang langsung menghentikan langkah lari Anton. “ANTON JANGAN TINGGALIN KITA GITU AJA!”
Karena rasa khawatir kepada Adiknya, membuatnya lupa akan kehadiran Silvia dan Liora.
“Maaf. Yaudah, kalian jalan di depan, gue jagain dari belakang. Ayo!”
“Ayo Liora!” Silvia kemudian memeluk Liora dengan erat, setelah itu mereka mulai berjalan untuk menyusul Gerald.