Anton dan Silvia baru saja tiba di area pesisir danau wisata. Terlihat suasana danau di sana sangatlah sejuk. Disertai pemandangan pepohonan asri serta bunga-bunga yang sangat indah, membuat setiap pengunjung merasa sangat betah dan nyaman berada di tempat tersebut.
“Wow! Indah banget pemandangan di sini.” ucap Anton, yang terpesona dengan keindahan danau wisata itu.
“Ton, lo seriusan belum pernah ke sini sebelumnya?”
“Belum, gue aja baru tahu dari lo kalau ada danau wisata di kota kita ini.”
“Kudet ih, kelihatan banget jarang main. Makanya kali-kali keluar main, jangan terlalu ambis belajar terus.” cengir Silvia.
“Ya kalau gue nggak rajin belajar, nanti IPK gue jeblog, nanti gue dimarahin Papah gue. Udah ah jangan ngetawain gue kayak gitu, nggak asik lo.”
“Maaf-maaf. Baperan banget sih.”
“Siapa yang baperan? Orang gue biasa aja kok.”
“Biasa aja gimana? Muka lo dingin banget gitu, baper lo pasti karena gue ledekin barusan.”
“Kok lo ngomong gitu sih? Kita udah semester tiga loh sekarang.”
“Apa hubungannya?”
“Itu berarti, harusnya lo udah kenal gue, kita kan udah sekelas lama. Harusnya lo tahu kalau muka gue emang dingin dari sananya.”
“Iya tahu kok muka lo dingin, tapi kan barusan muka lo dingin banget, makanya gue kira lo baper.”
“Nggak kok, gue nggak baperan orangnya. Udah ah jangan bahas baper-baperan mulu.”
“Oke deh.”
“Eh by the way, ini kok tempatnya sepi banget ya? Mana orang-orang? Kok pengunjungnya cuma sedikit banget?”
“Karena hari ini hari biasa, bukan hari libur, jadi tempat wisatanya sepi. Kalau hari libur, ni tempat pasti rame banget.”
“Ooh.”
“Mau lihat pemandangan dari ketinggian nggak?”
“Mau, tapi gimana caranya?”
“Kita pergi ke jembatan pelangi, jembatan yang tinggi banget di atas danau ini. Nanti di sana kita bisa ngelihat pemandangan dari atas.”
“Wow! Kayaknya asik tuh! Yaudah, ayok ke sana!”
“Yuk! Ikutin gue!”
“Gas!”
Silvia dan Anton lalu langsung pergi menuju jembatan pelangi, tak lama kemudian, tibalah mereka di jembatan tersebut. Sesuai namanya, jembatan pelangi, setiap bagian jembatan itu dihiasi oleh berbagai warna, sehingga terlihat sangatlah indah.
“Wow! Keren banget!” Anton merasa sangat terpesona, saat melihat pemandangan danau dari ketinggian jembatan tersebut.
“Lo nggak takut?”
“Takut kenapa?”
“Nggak takut ngelihat ke bawah? Ini kan ada di jembatan yang tinggi banget?”
“Takut sih, cuman nggak terlalu. Jembatan ini kan kuat, pasti aman buat siapapun yang ada di sini. Lagian, kalaupun jatuh, nggak bakalan kenapa-napa, kan danau bukan tanah.”
“Tapi kan danaunya dalem, bahaya dong buat yang nggak bisa berenang.”
“Tapi gue bisa berenang, jadi nggak takut.”
“Keren!”
“Lo sendiri, nggak takut ada di sini? Nggak takut ketinggian, dan nggak takut jatuh?”
“Nggak, karena gue juga mikirnya, ini jembatan aman, dan kalaupun gue jatuh, gue jatuhnya ke air, dan gue bisa berenang, jadi gue nggak takut.”
“Wih! Cewek pemberani. Mantap!”
Silvia tersenyum. “Bisa aja lo.”
Tiba-tiba, ponsel Anton berbunyi, rupanya, dia mendapat telepon dari Ayahnya.
“Ck!” Anton langsung merasa lesu, karena dia tahu, pasti Ayahnya akan menanyakan keberadaannya dan menyuruhnya untuk segera pulang.
“Kenapa? Kok muka lo mendadak lesu gitu sih?”
“Papah gue nelepon. Dia pasti mau nanyain gue udah nyampe rumah apa belum?”
“Ya tinggal jawab aja lagi di luar dulu.”
“Gue lupa nggak minta izin dulu ke Papah tadi, kalau nggak minta izin dulu pasti gue bakalan disuruh pulang. Ah males gue!”
Anton lalu mengangkat telepon tersebut dengan rasa malas.
“Anton! Lama banget sih angkat teleponnya?” ucap Raffi kesal.
“Maaf Pah. Ada apa?”
“Di mana kamu? Udah nyampe rumah belum?”
“Belum.”
“Belum? Terus kamu lagi di mana sekarang?”
“Aku lagi di danau wisata, sama Silvia.”
“Kok kamu nggak izin dulu sih sama Papah? Papah kan udah bilang, silahkan kalau kalian mau main, tapi izin dulu sama Mamah Papah.”
“Maaf Pah aku lupa nggak izin dulu sama Papah.”
“Karena kamu nggak izin dulu sama Papah, sekarang juga kamu pulang, cepet!”
“Yaah Pah! Aku lagi asik di sini.”
“Pulang!”
“Ck! Yaudah iya-iya. Tapi, itu Papah lagi di mana?”
“Papah lagi di jalan pulang sama Mamah sama Gerald.”
“Masih barengan sama mobilnya keluarganya Silvia?”
“Iya, ada di belakang.”
“Yaudah, kalau gitu jemput aja kita ke danau wisata sini! Biar sekalian kan?”
“Yaudah, kamu tunggu Papah di sana. Papah sama mobilnya Om Ridho bakalan jemput kalian.”
“Iya.”
Telepon kemudian berakhir.
“Anton lagi di mana sekarang, Pah?” tanya Yulia.
“Dia lagi di danau wisata sama Silvia.”
“Jadi, mereka tadi bukan pulang? Tapi malah main ke danau wisata? Kok Anton nggak izin dulu sih sama kita?”
“Lupa katanya. Makanya ini aku mau jemput dia. Salah siapa dia nggak izin dulu.”
“Yaudah, ayo!”
“Gerald.”
“Iya Pah?”
“Kasih tahu Liora, buat ngikutin mobil kita, jemput Kakak kalian.”
“Iya Pah.”
Gerald lalu menelepon Liora. “Halo Ra.”
“Iya, kenapa Ger?”
“Kak Silvia sama Kak Anton sekarang lagi ada di danau wisata, terus sekarang Papah aku mau jemput Kak Anton ke sana. Kamu kasih tahu Papah kamu buat ngikutin mobil aku ya! Sekalian kalian jemput Kak Silvia juga.”
“Oh, oke.”
“Oke.”
Telepon lalu berakhir.
“Pah.”
“Hmm?”
“Ikutin mobil Gerald ya! Mereka mau jemput Kak Anton di danau wisata, kebetulan Kak Anton lagi sama Kak Silvia, jadi kita sekalian jemput Kak Silvia juga.”
“Oh, oke.”
“Anton sama Silvia itu, pacaran apa gimana?” tanya Maya. “Perasaan mereka deket banget?”
“Mamah nanya siapa?” tanya Liora.
“Ya nanya kamu dong.”
“Aku nggak tahu.”
“Kok nggak tahu? Emang Silvia nggak pernah cerita ke kamu kalau Anton itu pacarnya?”
“Nggak pernah, Mah. Kayaknya, Kak Anton sama Kak Silvia itu nggak pacaran deh, mereka cuma temen kampus biasa aja. Tapi nggak tahu sih.”
“Kalau mereka cuma temen kampus biasa, kok bisa sampe keluar berduaan kayak gitu? Mereka pasti pacaran.” ucap Ridho.
“Nggak tahu juga sih Pah. Tapi, kalau misalkan mereka emang beneran pacaran, gimana Pah?”
“Ya nggak apa-apa, justru bagus, Mamah sih setuju. Jadinya nanti Mamah besanan sama Yulia, sahabat Mamah.”
Ridho tersenyum. “Papah juga setuju kok kalau Anak-Anak Papah nantinya jadi sama Anak-Anaknya Om Raffi. Soalnya Papah lihat, dia itu kepribadiannya baik banget, jadi dia pasti bisa ngedidik Anak-Anaknya untuk tumbuh jadi laki-laki yang hebat yang punya rasa tanggung jawab yang besar buat Anak-Anak Papah.”
“Aww si Papah kata-katanya bijak banget!” cengir Maya.
“Haha!” Liora tertawa melihat reaksi Ibunya itu.