Mencari Kebenaran

1158 Kata
“Sekarang harus gimana coba?” isak Albert. “Gerald sama Liora udah tercemar di mata semua orang. Kalau kayak gini, gimana mereka bisa sekolah?” “Guys, di aula ada CCTV nggak sih?” tanya Tevi. “Nggak ada, di aula nggak ada CCTV.” jawab Rival. “Payah banget sih! Katanya sekolah elite, sekolah nomor satu yang paling terbaik, tapi CCTV aja nggak ada. Nyesel gue masuk sekolah ini!” ucap Albert. “Bert lo sabar dulu dong! Jangan kebawa emosi!” “Gimana gue nggak kebawa emosi coba? Sepupu gue udah tercemar di mata semua orang? Terus sekolah ini sama sekali nggak bisa ngebantu nyelesain masalah ini? Sekolah nggak guna!” “Pasti ada cara, supaya kita bisa nemuin siapa dalang dari semua ini?” ucap Elina. “Ya tapi gimana caranya Elina?” isak Albert. “Ya kalian mikir dong! Jangan cuma bisanya ngomong doang dari tadi!” Mereka lalu terdiam, mencoba memikirkan cara untuk bisa mengetahui siapa dalang dari masalah yang telah menimpa Gerald dan Liora. “Guys, tadi kan, Gerald sama Liora sempet ke ruangan locker ya buat ganti baju? Gimana kalau kita ke ruangan locker sekarang, kita cek ke sana! Siapa tahu aja, ada petunjuk di sana?” “Boleh tuh.” balas Rival. “Yaudah yuk! Kita ke ruangan locker cowok dulu.” “Tunggu!” ucap Albert. “Emangnya ruangan locker cowok sama cewek beda ya di sini?” “Iya beda, ruangan locker murid cowok ada di deket ruangan guru, kalau ruangan locker murid cewek ada di deket ruangan basket sekolah.” “Yaudah, ayo!” ajak Alexa. Mereka semua kemudian melangkah pergi menuju ruangan locker murid laki-laki terlebih dahulu, untuk mencari petunjuk yang bisa menyelesaikan masalah yang menimpa Gerald dan Liora. Setibanya di sana, mereka langsung berhenti di depan lockernya Gerald. “Coba deh buka! Siapa tahu nggak dikunci?” ucap Elina. Albert lalu membuka locker tersebut, yang memang tidak dikunci. “Beneran nggak dikunci! Gegabah banget sih si Gerald! Locker sendiri kagak dikunci.” ucap Elina. Mereka semua lalu melihat sebuah kertas di dalam locker tersebut. “Eh! Ada kertas tuh!” ucap Rival. “Coba bawa Bert!” Albert kemudian mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. “Gerald, ini aku Liora. Temuin aku di aula sekolah sekarang juga! Ada yang mau aku omongin ke kamu, penting banget! Tapi sebelum kamu temuin aku, kamu harus minum dulu minuman itu! Supaya kamu nggak bakalan kaget sama apa yang bakal aku omongin. Pokoknya minuman itu harus udah habis pas kamu temuin aku!” “Jadi, Liora nyuruh Gerald buat ke aula?” tanya Rival. “Terus, disuruh minum minuman dulu?” Albert kembali menoleh ke arah locker Gerald, kemudian menemukan sebuah botol minuman yang sudah kosong. “Ini kali nih botol minumannya.” “Bentar deh!” ucap Alexa. “Sini-sini!” Alexa mengambil kertas tersebut dari tangan Albert. “Ini bukan tulisan Liora!” “Eh! Iya, ini bukan tulisannya Liora. Tulisan Liora nggak kayak gini.” ucap Elina. “Kalau itu bukan tulisannya Liora, terus tulisan siapa dong?” tanya Tevi. “Jelas! Ini pasti tulisan orang yang udah ngejebak Gerald sama Liora.” balas Alexa. “Terus di minuman itu, pasti udah dikasih obat bius atau obat tidur. Gue paham sekarang!” “Jelasin Al!” “Orang biadab itu, udah sengaja bikin surat palsu ke Liora sama Gerald, surat yang nyuruh mereka buat ketemu di aula sekolah, tapi sebelum ke aula, mereka harus minum minuman yang udah mereka kasih obat bius atau obat tidur itu, supaya pas nyampe di aula, mereka langsung pingsan. Setelah mereka pingsan, mereka ngubah posisi Gerald sama Liora jadi pelukan, supaya mereka disangka berbuat hal yang nggak senonoh di sekolah ini. Perkiraan gue ini pasti nggak salah!” “Masuk akal Al, perkiraan lo itu bener-bener masuk akal banget!” balas Elina. “Di lockernya Liora, udah pasti ada surat yang kayak gini juga, dan ada botol minuman juga.” ucap Alexa. “Ayo kita cek ke sana!” Mereka lalu langsung pergi menuju ruangan locker murid perempuan, setibanya di sana, mereka langsung berhenti di depan lockernya Liora. “Kayaknya dikunci deh lockernya Liora.” ucap Rival. “Coba cek!” ucap Tevi. Rival kemudian mencoba membuka locker tersebut, yang ternyata tidak dikunci. “Ih! Nggak ceweknya nggak cowoknya, sama-sama gegabah banget sih! Lockernya nggak dikunci, pantesan aja mereka bisa dijebak gitu aja sama orang lain!” ucap Elina. “Nah kan!” Alexa langsung menemukan sebuah surat dan botol minuman yang sama dengan yang mereka temukan di dalam lockernya Gerald. “Bener berarti, emang ada orang yang sengaja ngejebak Gerald sama Liora.” ucap Albert. “Terus, sekarang kita mau ngapain sama petunjuk-petunjuk ini?” tanya Rival. “Di dalem botol minuman ini, masih ada setetes air yang tersisa.” balas Alexa. “Terus?” “Gue sama Elina, bakal minta bantuan ke Kakak kelas, buat ngecek cairan ini di labolatorium sekolah. Kalau nanti ditemuin zat racun, berarti dugaan gue emang bener.” “Terus kita ngapain?” tanya Tevi. “Kalian cek, satu persatu buku murid di sekolah ini, siapa yang tulisannya sama kayak di dua kertas ini, merekalah pelakunya.” balas Alexa. “Hah? Ngecek satu-satu buku tulisan murid di sini? Yang bener aja lo Al!” ucap Tevi terkejut. “Murid di sini kan banyak, ya kalau dicek satu-satu, selesainya bakalan besok kali.” “Gini aja! Kita tentuin aja tersangka yang kira-kira dalang dari masalah ini!” ucap Albert. “Kalian pasti bisa nentuin kan? Kalian pasti tahu, siapa orang yang nggak suka sama Gerald sama Liora? Kalian kan udah kenal lebih lama sama mereka?” “Kita kan baru masuk ke sekolah ini, jadi kita belum tahu siapa aja orang yang nggak suka sama Gerald sama Liora?” balas Elina. “Untuk sekarang, kita jadiin aja, si Devin sama si Clara sebagai tersangka.” ucap Rival. “Loh! Kenapa harus mereka?” tanya Tevi. “Lo nggak lihat tadi mereka kayak gimana? Mereka kayak keterlaluan banget gitu loh, ngehakimin Gerald sama Liora. Jadi bikin gue curiga banget sama mereka!” “Gue setuju sama Rival!” ucap Alexa. “Si Devin sama si Clara itu emang cocok banget kita jadiin tersangka, karena kelakuan mereka bener-bener kayak nunjukin banget kalau mereka itu benci sama Gerald sama Liora.” “Orang-orang yang tadi ya?” tanya Albert. “Iya.” balas Alexa. “Iya, gue juga ngerasa curiga banget sama mereka.” ucap Albert. “Omongan sama kelakuan dua orang gila itu, bener-bener ngelihatin dengan jelas kalau mereka berdua nggak suka sama Gerald sama Liora.” “Yaudah, kalau gitu, ayo kita cek bukunya si Devin sama si Clara!” ajak Rival. “Iya, gue sama Elina bakalan ngecek cairan ini. Semoga aja masalah ini cepet selesai.” ucap Alexa. “Aamiin Ya Allah.” ucap Albert. Mereka semua kemudian langsung pergi untuk mencari petunjuk yang akan bisa menyelesaikan masalah yang menimpa sahabat mereka, Gerald dan Liora.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN