Albert, Alexa, dan Elina kini tengah duduk di kursi taman sekolah sembari menangis, karena mengkhawatirkan keadaan Gerald dan Liora. Sementara Rival dan Tevi berdiri di sebelah mereka.
“Kasihan Liora!” isak Elina. “Dia dihakimin sama satu sekolahan! Gue nggak tega banget ngelihatnya!”
“Sebenernya apa sih yang terjadi?” isak Albert. “Kenapa Gerald sama Liora bisa kepergok tiduran sambil pelukan di aula sekolah?”
“Seperti yang udah mereka bilang tadi,” isak Alexa. “mereka nggak tahu apa-apa, karena ada yang ngejebak mereka. Itu artinya, ada seseorang di sekolah ini, yang udah sengaja bikin mereka pingsan di aula sekolah, supaya Gerald sama Liora ngalamin masalah seberat ini.”
“Setuju!” isak Elina. “Gue sepemikiran sama lo Al. Karena, nggak mungkin Gerald sama Liora ngelakuin hal kayak gitu, mereka kan orang yang berpikiran cerdas.”
“Iya! Gue kenal banget sepupu gue kayak gimana? Dia nggak mungkin ngelakuin hal nggak senonoh kayak gitu. Apalagi kita semua tahu kalau Gerald itu gynophobia, nggak mungkin dia bisa ngelakuin hal itu sama Liora, mustahil!” ucap Albert.
“Nah! Iya bener banget!” ucap Alexa.
“Iya, gue juga nggak percaya kalau mereka ngelakuin hal itu. Jelas-jelas si Gerald gynophobia, gimana bisa mereka ngelakuin hal kayak gitu? Mustahil banget!” ucap Elina.
“Semua Guru juga bukannya udah tahu ya kalau Gerald itu gynophobia, tapi kok mereka percaya aja sih kalau Gerald sama Liora ngelakuin hal nggak senonoh kayak gitu?” tanya Tevi.
“Ini semua karena orang yang udah ngejebak mereka, bikin mereka pingsan dalam kondisi pelukan, makanya semua orang jadi percaya kalau Gerald sama Liora ngelakuin hal kayak gitu.” ucap Rival.
“Kira-kira, siapa ya yang udah ngelakuin hal jahat banget kayak gini sama Gerald Liora?” tanya Alexa.
“Hai guys.” sapa Clara, yang datang menghampiri mereka bersama Devin, Vitta dan Dhirga.
“Kok pada nangis sih? Lagi pada nangisin apaan nih?” tanya Dhirga.
“Kalian pasti lagi nangisin si Gerald sama Liora ya?” tanya Vitta.
“Kok bisa sih kalian nangisin mereka? Emang kalian masih mau temenan sama orang yang otaknya gesrek kayak mereka?” ucap Devin.
“HEH!” Albert langsung mendorong Devin dengan penuh amarah, karena dia tidak terima Devin menghina sepupunya. “JAGA OMONGAN LO YA! SEPUPU GUE GERALD DAN TEMEN GUE LIORA, BUKAN ORANG YANG KAYAK GITU!”
“HEH!” bentak Devin. “SEPUPU SAMA TEMEN LO ITU, UDAH KETAHUAN BERBUAT m***m DI SEKOLAH INI. JADI APANYA YANG SALAH SAMA OMONGAN GUE?”
“DIEM LO!” bentak Alexa, yang kemudian menghampiri Devin dengan penuh amarah. “SAHABAT GUE LIORA BUKAN ORANG YANG KAYAK GITU!”
“Heh Albert, Alexa! Kalian apa-apaan sih? Udah jelas-jelas si Gerald sama si Liora itu ketahuan bersalah, ngapain dibelain?” ucap Clara.
“DIEM LO!” Elina mendorong Clara dengan penuh amarah. “SAHABAT GUE LIORA NGGAK MUNGKIN NGELAKUIN ITU!” isaknya. “DIA NGGAK SALAH!”
“Dih! Udah gila kali ya kalian?” ucap Dhirga. “Orang salah kok malah dibela!”
“Mending lo pada jauhin deh si Gerald sama si Liora! Mereka itu tampangnya aja yang good looking, dan sok berprestasi, tapi ternyata kelakuannya bejad.”
“DIEM LO!” bentak Albert dengan penuh amarah, sembari menarik kerah Albert.
“APA LO?” bentak Devin.
“WOY UDAH-UDAH!” Tevi dan Rival langsung melerai Albert yang sangat emosi kepada Devin.
“Dasar gila lo! Orang salah kok malah dibela habis-habisan kayak gitu. Aneh banget!” ucap Devin.
“Heh!” ucap Vitta. “Apa sih istimewanya si Gerald sama si Liora di mata kalian? Sampe-sampe kalian percaya banget kalau mereka nggak bersalah? Buka mata kalian woy! Kalian kan udah lihat sendiri kalau mereka lagi tiduran sambil pelukan di aula tadi. Kurang itu semua hah?”
“DIEM LO!” isak Elina dengan kencang. “LO NGGAK TAHU YA LIORA ITU SIAPA? LO NGGAK KENAL SAMA DIA! GUE SAHABAT LIORA, GUE TAHU KALAU DIA ITU ORANG BAIK, NGGAK MUNGKIN DIA NGELAKUIN HAL BEJAD KAYAK GITU!”
“Dih! Ada ya orang kayak kalian?” ucap Dhirga. “Ngebelain orang yang salah sampe nangis-nangis kayak gitu.”
“Awas!” ucap Clara. “Nanti kalau mereka ngaku, kalian bakalan malu deh, malu banget sampe ke ubun-ubun. Malu! Karena udah ngebela orang yang salah!” ucap Clara.
“Jaga omongan kalian!” isak Alexa. “Dasar kompor meleduk!”
“Dih! Apa lo bilang?”
“KOMPOR MELEDUK!” bentak Alexa. “KURANG? ELO ITU KOMPOR MELEDUK! LO SAMA SEPUPU LO, DAN KEDUA TEMEN LO INI! SEMUANYA KOMPOR MELEDUK! TUKANG NGOMONG SEMBARANGAN TANPA TAHU KEBENARANNYA YANG SEBENERNYA!”
“Ngaca lo! Lo dari tadi ngegas mulu! Justru elo yang kompor meleduk! Ngaca! Punya kaca nggak lo? Atau mau gue beliin? Dasar miskin!” ucap Devin.
“HEH LO!” Albert sangat kesal melihat tingkah Devin yang keterlaluan, namun Tevi dan Rival menahannya untuk menyerang Devin.
“APA LO?”
“SINI LO RIBUT SAMA GUE!”
“Bert tahan Bert! Nggak usah pake emosi!” ucap Tevi.
“Devin, Clara, Dhirga, Vitta. Mending kalian pergi deh sana! Nggak usah bikin keributan di sini!” ucap Rival.
“Dih! Siapa elo ngusir-ngusir kita?” ucap Clara.
“Iya! Siapa elo ngusir-ngusir kita?” ucap Devin. “Lagian siapa juga yang cari ribut? Orang kita cuma ngasih tahu hal yang sebenernya, kalau temen-temen kalian itu orang yang pikirannya bejad. Miris! Baru aja masuk SMA udah berani ngelakuin hal yang kayak gitu. Najis!”
“CUKUP YA GUE BILANG CUKUP!” bentak Rival. “PERGI KALIAN DARI SINI!”
“HEH!” bentak Dhirga. “APA HAK LO NGUSIR-NGUSIR KITA DARI SINI HAH? LO PIKIR INI SEKOLAH MILIK NENEK MOYANG LO? BAPAK LO KEPALA SEKOLAH DI SINI HAH? KITA JUGA SEKOLAH DI SINI, JADI TERSERAH KITA MAU DI MANA AJA.”
“Iya, gue Anak Kepala Sekolah di sini. Bokap gue Kepala Sekolah di SMA Garuda Bangsa ini.” ucap Rival. “Sekali lagi gue minta lo pada pergi dari hadapan gue sama temen-temen gue! Kalau kalian nggak mau pergi, dan terus cari ribut sama gue dan temen-temen gue, gue bakalan laporin kalian ke Papah gue, biar lo pada dihukum, kalau perlu dikeluarin dari sekolah ini. Mending langsung dikeluarin aja deh kalian, biar perjuangan kalian buat masuk sekolah favorite ini terbuang sia-sia!”
Mendengar bahwa Rival adalah Anak dari Kepala Sekolah, dan mengancam akan melaporkan Devin CS agar dikeluarkan dari sekolah, membuat Devin CS langsung terdiam.
“Nggak mau kan lo pada? YAUDAH PERGI SANA! BURUAN PERGI!”
“Udah yuk ah!” ajak Clara, lalu melangkah pergi. Kemudian diikuti oleh Devin, Dhirga, dan Vitta.
“SANA PERGI LO SEMUA! DASAR KOMPOR MELEDUK!” teriak Alexa dengan penuh amarah.
“Udah Al!” Tevi mencoba menenangkan Alexa.