“Oh iya, ini pada hadir semua nggak?” tanya Pak Rian.
“HADIR PAK!” balas semuanya.
“Nggak Pak!” ucap Devin.
“Hah?” sontak, semua murid langsung menatap ke arah Devin. Sebab, setahu mereka semua murid kelas X IPA 1 dan IPS 1 masuk sekolah semuanya.
“Siapa yang nggak masuk, Devin?” tanya Pak Rian.
“Itu saya lihat kelas IPA, Gerald sama Liora nggak ada, Pak.”
Semua orang kemudian langsung menyadari bahwa Gerald dan Liora memang tidak ada di lapangan bersama barisan kelas IPA.
“Liora lagi izin ganti baju dulu, Pak. Di ruangan locker.” ucap Elina.
“Gerald juga Pak, lagi ganti baju.” ucap Tevi.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIM!” suara teriakan Ibu Melly tiba-tiba terdengar, membuat Pak Rian dan semua murid langsung terkejut.
Mendengar Ibu Melly berteriak panik seperti itu, Pak Rian langsung berlari menghampiri Ibu Melly, yang suaranya terdengar dari aula sekolah.
Para murid-murid kemudian mengikuti Pak Rian, karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada Ibu Melly.
Setibanya di aula sekolah, mereka semua melihat Ibu Melly yang sedang terkejut karena melihat Gerald dan Liora yang sedang terbaring tidur dengan posisi berpelukan. Sontak, hal itu juga langsung membuat mereka semua terkejut.
“Astaghfirullahaladzim!” ucap Pak Rian panik.
“Ya Allah astaghfirullah!” Ibu Melly menangis, dia benar-benar merasa tidak menyangka jika anak muridnya berani melakukan hal tidak senonoh di aula sekolah.
“Astaghfirullah!” Alexa, Elina, Albert, Tevi dan Rival merasa sangat tak percaya, saat melihat Gerald dan Liora seperti itu.
Tak lama kemudian, murid-murid dari seluruh kelas datang ke aula, dan mereka langsung terkejut saat melihat Gerald dan Liora yang sedang dalam keadaan seperti itu.
Beberapa menit setelah itu, Gerald dan Liora membuka mata mereka. Setelah mereka sadar dari pingsan, mereka langsung terkejut saat menyadari bahwa mereka sedang dalam keadaan terbaring sembari berpelukan, serta disaksikan oleh banyak orang.
“HAH?” Gerald dan Liora lalu langsung melepas pelukan mereka.
“GERALD LIORA!” teriak Ibu Melly dengan penuh tangisan. “APA YANG KALIAN LAKUIN? KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI DI SEKOLAH? ASTAGHFIRULLAH YA ALLAH!”
“GERALD! LIORA!” bentak Pak Rian. “BENER-BENER KETERLALUAN YA KALIAN! BERANI-BERANINYA KALIAN MENGOTORI AULA SEKOLAH INI DENGAN KELAKUAN BEJAD KALIAN ITU! DI MANA AKAL SEHAT KALIAN? BERANI SEKALI KALIAN MELAKUKAN ITU DI WILAYAH SEKOLAH INI?”
“Pak, Bu! Ini semua salah paham. Saya sama Liora nggak ngelakuin apa-apa, kok.” ucap Gerald.
“Iya Pak, Bu. Tadi ada yang ngejebak saya sama Gerald buat masuk ke aula ini. Kenyataannya kita nggak ngelakuin apa-apa.” ucap Liora.
“Heh Gerald, Liora!” ucap Clara. “Kalian itu udah ketahuan ngelakuin hal bejad kayak gitu, ketahuan banget dengan jelas, masih aja berani ngeles.”
“Sempit banget sih pikiran kalian berdua.” ucap Devin. “Berani banget ngelakuin hal kayak gitu, padahal umur belum 17, baru aja masuk SMA.”
“Bisa-bisanya kalian ngelakuin hal itu di aula sekolah, tempat umum kayak gini. Emangnya kalian nggak mikirin resikonya apa?” ucap Clara.
“Kalian nggak kasihan ya sama orangtua kalian? Orangtua kalian cape-cape kerja buat biayain kalian sekolah, tapi kalian malah ngehancurin masa depan kalian sendiri.” ucap Devin.
“HUUUUU!” semua murid SMA Garuda Bangsa langsung bersurak dan melempari Gerald Liora dengan tumpukan kertas.
Melihat sepupunya diperlakukan seperti itu, Albert langsung berlari melindungi Gerald. Begitupun dengan Alexa dan Elina yang langsung melindungi Liora.
“Dasar nggak punya otak!”
“Malu-maluin SMA Garuda Bangsa aja!”
“Laporin aja mereka ke Polisi! Biar dipenjara! Keterlaluan banget bikin nama sekolah tercemar huuu!”
Gerald dan Liora langsung menangis, karena semua orang telah salah paham dengan apa yang mereka alami. Mereka berdua saja tak tahu apa yang sebenarnya menimpa mereka. Ketika mereka terbangun, mereka sudah dihakimi seperti ini.
“NGGAK!” teriak Albert. “SEPUPU GUE ALBERT, SAMA TEMEN GUE, LIORA, MEREKA ITU NGGAK SEPERTI YANG KALIAN LIHAT! MEREKA ITU ANAK YANG BAIK-BAIK, NGGAK MUNGKIN MEREKA NGELAKUIN INI SEMUA.”
“Nggak mungkin ngelakuin gimana?” ucap Dhirga. “Udah jelas-jelas mereka ketahuan lagi gituan di sini. Terus lo bilang mereka itu Anak baik-baik, yang nggak mungkin ngelakuin ini semua? LAWAK LO!”
“GANTENG DOANG! CANTIK DOANG! TAPI OTAKNYA MENJIJIKAN! HUUU!”
Mereka semua lalu kembali menyuraki dan melempari Gerald dan Liora dengan tumpukan kertas. Albert, Alexa dan Elina terus melindungi Gerald dan Liora dari amukan murid-murid. Sementara Gerald dan Liora hanya bisa diam dan menangis, sebab mereka bingung harus melakukan apa untuk membuat mereka semua percaya jika mereka telah masuk ke dalam sebuah jebakan yang membuat semua orang menjadi salah paham.
Melihat sepupunya dihakimi seperti ini, membuat Albert menangis. Begitupun juga dengan Alexa dan Elina, mereka menangis karena tak tega melihat sahabat mereka yang dihakimi.
“CUKUP!” teriak Albert dengan penuh tangisan. “CUKUP GUE BILANG CUKUP!”
“CUKUP!” jerit Alexa berlinang air mata.
“TOLONG CUKUP! PLEASE STOP!” isak Elina.
“VIRALIN AJA MEREKA! BIAR TAHU RASA UDAH BIKIN NAMA SEKOLAH TERCEMAR KARENA KELAKUAN BIADAB MEREKA!”
“SETUJU! AYOO!”
Mereka semua kemudian langsung merekam dan memotret Gerald dan Liora, lalu langsung menyebarkan berita tentang Gerald dan Liora yang melakukan hal tak senonoh di aula SMA Garuda Bangsa. Sontak, Gerald dan Liora langsung viral dan mendapatkan hujatan dari seluruh daerah Indonesia.
“SINI KALIAN!” Pak Rian menarik tangan Gerald dan Liora dengan penuh amarah. “SEKARANG KALIAN IKUT BAPAK KE RUANGAN GURU! JELASIN SEMUANYA DI SANA!”
“Pak!” isak Gerald. “Saya sama Liora nggak ngelakuin apa-apa. Kita dijebak Pak! Kalian semua salah paham!”
“AYO!” bentak Pak Rian, kemudian menarik Gerald dan Liora menuju ruang Guru untuk dimintai penjelasan.
“HUUUUU!” mereka terus mendapat hujatan dari seluruh murid.
“Gerald!” isak Albert.
“Liora!” isak Alexa dan Elina.
“Guys.” Tevi dan Rival menghampiri Albert, Alexa dan Elina.
“Kita ke taman sekolah dulu yuk! Kita cari solusi buat nolongin Gerald sama Liora!” ajak Tevi.
“Iya. Ayo kita cari solusi buat nolongin mereka! Karena gue yakin, mereka nggak ngelakuin ini.” ucap Rival.
“Iya, mereka emang nggak ngelakuin hal nggak senonoh kayak gini. Kalian denger sendiri kan tadi mereka bilang apa? Mereka itu nggak ngelakuin hal ini, mereka itu dijebak.” isak Albert.
“Maka dari itu, ayo kita bicarain hal ini! Kita harus bantuin Gerald sama Liora secepetnya! Karena gue nggak tega ngelihat sahabat gue dihakimi satu sekolahan kayak gini.” ucap Tevi.
“Liora!” Alexa dan Elina masih menangis karena tak tega melihat Liora yang sedang dalam keadaan difitnah oleh semua orang.
“Al, El, udah dulu nangisnya!” ucap Rival. “Yuk! Kita cari solusi sama-sama di taman sekolah!”
Alexa dan Elina menatap Rival sejenak, kemudian mereka menghentikan tangisan mereka.
“Yaudah, yuk!” ajak Tevi, lalu dia, Rival, Albert, Alexa dan Elina pergi menuju taman sekolah untuk memikirkan cara agar bisa menolong Gerald dan Liora dari kesalah pahaman ini.