Masuk Dalam Jebakan

1092 Kata
Waktu terus berjalan, hingga hari pun berganti. Bel tanda masuk kelas telah berbunyi di SMA Garuda Bangsa. Semua murid senantiasa langsung masuk ke kelas masing-masing. Khusus untuk murid-murid kelas X IPA 1 dan X IPS 1, mereka langsung berkumpul ke lapangan untuk melaksanakan pelajaran olahraga, karena mereka sudah memakai baju olahraga dari rumah. Terkecuali Liora dan Gerald yang belum memakai baju olahraga, karena baju olahraga mereka disimpan di locker sekolah. Saat semuanya sudah berkumpul di lapangan, Liora dan Gerald baru saja tiba di ruangan locker untuk mengganti pakaian ke pakaian olahraga. Saat Gerald membuka lockernya, dia melihat sebotol minuman serta selembar kertas surat berada di lockernya. “Hah! Apaan nih?” Gerald kemudian langsung mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. “Gerald, ini aku Liora. Temuin aku di aula sekolah sekarang juga! Ada yang mau aku omongin ke kamu, penting banget! Tapi sebelum kamu temuin aku, kamu harus minum dulu minuman itu! Supaya kamu nggak bakalan kaget sama apa yang bakal aku omongin. Pokoknya minuman itu harus udah habis pas kamu temuin aku!” Setelah membaca surat tersebut, Gerald langsung merasakan rasa cemas yang begitu dahsyat. Pikirannya juga mendadak merasakan ketakutan, dia takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. “Duh! Liora kok tiba-tiba ngajak ngomong penting gini ya? Mana pake surat-suratan kayak gini? Jadi takut ada hal yang nggak diinginkan nih.” Gerald lalu langsung meminum minuman tersebut, yang dia ketahui dari Liora. Setelah itu dia mengganti pakaiannya, kemudian bergegas menuju aula sekolah untuk menemui Liora. Sementara itu, Liora juga melihat hal yang sama di lockernya, yaitu sebotol minuman dan selembar kertas surat. “Ih! Apaan nih?” Liora lalu mengambil kertas itu, kemudian membacanya, yang isinya sama persis dengan surat yang Gerald dapatkan. “Liora, ini aku Gerald. Temuin aku di aula sekolah sekarang juga! Ada yang mau aku omongin ke kamu, penting banget! Tapi sebelum kamu temuin aku, kamu harus minum dulu minuman itu! Supaya kamu nggak bakalan kaget sama apa yang bakal aku omongin. Pokoknya minuman itu harus udah habis pas kamu temuin aku!” “Hah?” Liora mendadak cemas, setelah membaca surat tersebut. “Gerald ngapain ngajak ngomong lewat surat kayak gini? Bikin takut aja! Apa udah terjadi sesuatu hal yang nggak diinginkan? Makanya Gerald ngajak ngomongnya rahasia-rahasiaan gini? Duh! Jadi takut!” Liora lalu langsung meminum minuman yang dia ketahui dari Gerald itu, setelah itu mengganti ke pakaian olahraga, kemudian langsung bergegas menuju aula untuk menemui Gerald. Setibanya di aula, Liora melihat Gerald sudah berada terlebih dulu di sana. “Hei, mau ngomong apa?” tanya Liora. “Hah?” Gerald mendadak kebingungan, mendengar pertanyaan Liora barusan. “Kok hah?” “Kok kamu malah nanya aku? Bukannya kamu ya yang mau ngomong penting sama aku?” “Maksudnya?” “Tadi aku dapet surat dari kamu, kamu nyuruh aku ke aula, katanya ada hal penting yang mau kamu omongin.” “Ih! Nggak! Justru aku yang dapet surat dari kamu, di surat itu kamu nyuruh aku buat ke aula, karena kamu mau ngomong penting sama aku!” “Loh? Kok bisa gitu sih? Aku sama sekali nggak ngirim surat loh ke kamu. Justru aku yang dapet surat dari kamu, yang nyuruh aku buat ke aula.” “Sayang kamu jangan bercanda deh! Ngapain kamu nyuruh aku ke au aahh!” ucapan Gerald terpotong karena dia mendadak merasakan pusing dan rasa kantuk yang luar biasa. “Kamu kenapa?” “Kepala aku, kepala aku tiba-tiba pusing banget! Hoamz! Ini kenapa lagi aku tiba-tiba ngantuk banget gini? Aduh! Nggak kuat!” “Sayang, kamu kenapa sih?” Karena tak kuat menahan pusing kepala dan rasa kantuk yang luar biasa, membuat Gerald langsung jatuh pingsan. “Gerald!” Liora langsung panik begitu melihat Gerald jatuh pingsan. Saat dia akan membangunkan Gerald, tiba-tiba dia juga merasakan hal yang Gerald rasakan. “Ah!” mendadak, kepala Liora terasa sangat pusing. “Hoamz!” rasa kantuk yang sangat berlebihan pun menerpanya. “Astaghfirullah! Kenapa ini? Kok aku bisa tiba-tiba pusing kepala kayak gini? Ngantuk banget juga! Hoamzzz! Astaghfirullah!” Hingga akhirnya, Liora pun jatuh pingsan di sebelah Gerald, sebab tak kuat menahan pusing kepala dan rasa kantuk yang luar biasa. Beberapa menit kemudian, Devin dan Clara tiba di hadapan Gerald dan Liora yang terbaring pingsan. “Hahahaha!” mereka tertawa melihat Gerald dan Liora pingsan, lalu tersenyum miring menatap mereka. “Yeah! Rencana gue berhasil! Akhirnya mereka masuk ke jebakan kita!” ucap Devin. “Yaudah, ayo buruan! Keburu ada yang lihat nanti.” “Yoi, ayo!” Devin dan Clara kemudian mengubah posisi Liora menjadi memeluk Gerald. “Mantap!” ucap Clara dengan penuh senyuman miring. “Dengan ini, satu sekolahan bakalan ngira kalau mereka habis gitu-gituan di aula ini!” “Habis itu, mereka bakalan viral dan dihujat satu negara, terus hubungan mereka bakalan ancur karena mereka kena mental.” ucap Devin. “HAHAHAHA!” Devin dan Clara kemudian menertawakan mereka. “Untung aja gue tahu kalau mereka suka nyimpen baju olahraga di locker sekolah, jadi berhasil deh rencana gue.” ucap Devin. “Mantap Vin, haha!” Rupanya, ini semua adalah rencananya Devin dan Clara. Merekalah yang telah mengirimkan surat palsu untuk Gerald dan Liora, serta minuman yang berisi obat tidur untuk menjebak mereka pingsan di aula sekolah. Setelah itu mereka bisa merubah posisi Gerald dan Liora seakan-akan mereka telah melakukan hal yang tak senonoh di sekolah. Dengan begitu, Gerald dan Liora akan langsung viral karena melakukan hal yang sangat tidak terpuji. Hingga hal itu nantinya akan membuat Gerald dan Liora frustasi, lalu hubungan mereka hancur. Itulah rencananya Devin dan Clara, membuat Gerald dan Liora menderita dengan sangat parah. “Yaudah yuk! Keburu ada orang yang lihat kita di sini!” ajak Clara. “Iya, ayo!” Setelah menjebak Gerald dan Liora, Devin dan Clara langsung pergi untuk menghapus jejak jahat mereka. Mereka berlari menuju lapangan sekolah, yang sudah dipenuhi oleh barisan teman-teman kelas mereka dan kelas X IPA 1. Beberapa menit kemudian, Pak Rian datang ke lapangan. Mereka semua lalu langsung berbaris sesuai kelas masing-masing. “Pagi Anak-Anak!” sapa Pak Rian. “Pagi Pak!” balas semua murid dengan ceria. “Siap untuk ngelanjutin pertandingan minggu lalu?” “SIAP!” “Bagus! Semuanya ceria!” “Pak!” Clara mengangkat tangan. “Iya Clara?” “Kalau yang udah tanding, ngapain Pak? Diem aja nonton?” “Yang udah tanding, boleh ngapain ajalah, bebas! Mau main HP juga boleh. Asal jangan ke kantin, tetep di lapangan ya!” “Oh, siap Pak.” “Asik! Bebas nih gue!” ucap Alexa dengan penuh senyuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN