Di Alun-Alun

1123 Kata
“Sekarang kalian diem! Nggak usah ngomong apa-apa lagi, karena Mamah udah muak sama kalian!” bentak Viona, kemudian langsung melajukan mobil untuk pergi pulang. “Najis!” ucap Devin kesal dalam hati. “Kenapa semuanya malah ketahuan kayak gini sih? Berantakan semuanya!” “Ini semua gara-gara lo Devin!” isak Clara. “Udah gue bilang jangan lakuin itu, lo masih tetep aja nekat ngelakuin itu!” “Diem lo! Lo nggak berhak ya nyalahin gue kayak gitu!” isak Devin. “Gue udah pernah bilang sama lo, kalau lo takut buat ngelakuin ini semua, lo nggak usah ikut, karena gue bisa ngelakuin ini sendirian, tapi lo sendiri yang akhirnya setuju sama rencana gue ini dan mau ikut sama gue buat ngejalanin rencana ini. Jadi lo nggak berhak buat nyalahin gue! Di sini, gue sama lo salah, nggak ada yang bener.” “DIEM!” teriak Viona dengan penuh amarah. “DIBILANG DIEM YA DIEM!” Devin dan Clara langsung terdiam, dan saling menatap dengan penuh tangisan. “Kalau aja sampe terjadi apa-apa, gue nggak akan pernah maafin lo!” isak Clara. “DIEM!” teriak Viona. “KENAPA SIH NGGAK BISA DIEM?” Clara kemudian menangis dengan tersedu-sedu. Dia merasa sangat takut jika dia memang akan segera masuk ke dalam penjara. “Devin! Ngapain sih lo harus nangis kayak gini?” ucap Devin dalam hati. “Lo nggak usah takut! Lo nggak bakalan mungkin bisa dituntut gitu aja dan masuk penjara gitu aja! Lo ini punya Papah yang super kaya, dan lo ini baru aja umur 16 tahun, jadi, lo pasti bakalan selamat dan nggak bakalan bisa dihukum. Lihat aja, Gerald, Liora, sama CS-CS kalian itu, tunggu pembalasan dari gue! Gue bakalan bikin hidup kalian hancur, sehancur-hancurnya!” *** Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya pesanan ayam geprek Anton, Silvia, Gerald dan Anton tiba. “Selamat menikmati.” ucap pelayan dengan sangat ramah. “Makasih, Mba.” balas Silvia dengan penuh senyuman. “Sikat!” ucap Gerald yang sudah bergegas untuk menyantap makanannya itu. “Eh tunggu dulu!” Liora menahan Gerald sejenak. “Kenapa?” “Foto dulu dong, buat bahan story.” cengir Silvia. “Nah.” balas Liora sembari tersenyum. “Hmmmm, dasar cewek.” ucap Devin. “Oh, oke.” balas Gerald. Silvia dan Liora lalu langsung memoto makanan mereka untuk mereka posting di sosial media mereka. “Udah?” tanya Gerald. “Udah.” balas Liora. “Yaudah, gas!” ucap Gerald. “Selamat makan!” ucap Anton. Anton dan Gerald lalu langsung menyantap makanan mereka, sementara Silvia dan Liora malah asik mengurus postingan sosial media mereka. Setelah selesai mengurus postingan, Silvia dan Liora langsung bergegas untuk menyantap makanan, namun mereka mendadak terkejut saat melihat makanan Anton dan Gerald yang sudah habis. “Lah! Makanan kalian udah habis?” ucap Silvia. “Kok kalian cepet banget sih makannya?” ucap Liora. “Kita makan nggak cepet kok, biasa aja.” balas Anton. “Kalian sih, kelamaan main HP, kita sih udah makan dari tadi, makanya udah habis.” ucap Gerald. “Nah.” balas Anton. “Yaudah. Yuk Kak makan!” ajak Liora. “Yuk!” balas Silvia. Silvia dan Liora pun kemudian langsung menyantap makanan mereka. “Ger, beliin Kakak rokok dong!” ucap Anton. “Lah? Kakak suka ngerokok?” Gerald terkejut saat mengetahui bahwa Kakaknya suka merokok. “Emang, dari sejak SMA.” “Kok Kakak berani sih ngerokok? Bukannya Mamah sama Papah sering ngelarang kita buat ngerokok?” “Lah bodo amat! Yang penting ngerokoknya nggak ketahuan sama Mamah Papah. Lagian Papah juga suka ngerokok, masa Anaknya nggak boleh.” “Lah! Kakaknya sering ngerokok, kok kamu nggak tahu Gerald?” tanya Silvia. “Kak Anton nggak pernah nyeritain, Kak. Aku juga nggak pernah lihat dia ngerokok langsung.” “Tapi kalau kamu jangan ya! Mendingan nggak ngerokok, baik buat kesehatan. Baik juga buat bibir kamu, supaya tetep kelihatan ganteng, haha.” ucap Silvia. “Iya, kalau kamu nggak boleh ngerokok ya! Kakak juga nyesel, jadi kecanduan.” ucap Anton. “Yaudah, rokok apaan?” “Marlboro merah yang gede satu bungkus ya! Nih uangnya!” Anton memberikan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Anton. “Oke.” Gerald lalu langsung bergegas pergi ke toko kelontongan terdekat untuk membelikan rokoknya Anton. Saat dia berjalan di pinggir jalan, tiba-tiba seluruh pandangan langsung tertuju kepadanya. Terutama kepada para mahasiswi yang sedang berada di sekitar alun-alun. “Eh, itu kan si Gerald. Anak SMA yang viral karena dituduh sama si Devin sama Clara.” “Eh, iya itu orangnya. Ganteng banget ya?” “Kita samperin yuk! Kita viralin lagi supaya nama baiknya balik lagi!” “Iya ayo!” Empat mahasiswi itu kemudian langsung berlari menghampiri Gerald, untuk membantu Gerald mengembalikan nama baiknya. “Hai Gerald!” sapa mereka. “Hai, Kak.” balas Gerald dengan panik, dia takut jika mereka akan menghujatnya. “Kamu jangan panik gitu! Kita nggak bakalan ngehujat kamu, kok.” “Iya, kita semua udah tahu kok, kalau kamu itu nggak bersalah. Video klarifikasi Devin sama Clara kan udah beredar, jadi semua orang udah tahu kalau kamu sama temen kamu si Liora itu nggak bersalah, justru kalian korban di sini.” “Waktu ngelihat video kamu yang beredar, kita pernah ikut ngehujat kamu, karena berita kamu itu udah bikin malu nama SMA Garuda Bangsa, sekolah kita dulu.” “Iya, maafin kita ya Gerald, kalau kita pernah ngehujat kamu, padahal kamu sama sekali nggak salah.” Gerald langsung tersenyum, setelah mendengar ucapan mereka. “Nggak apa-apa kok, Kak. Aku seneng deh, karena kebenaran yang sesungguhnya udah terbuka sekarang.” “Terus, soal si Devin sama si Clara? Itu mereka beneran ngeprank kamu? Keterlaluan banget sih mereka, ngeprank kok sampe segitunya.” “Mereka emang udah nebus kesalahan mereka dengan ngebuat video klarifikasi, tapi, mereka tetep aja salah Gerald. Kamu jangan sampe maafin mereka gitu aja ya! Mereka harus tetep dapetin hukuman, supaya mereka dapet efek jera.” “Iya Gerald, jangan kayak masalah-masalah yang sering viral lainnya. Buat masalah, bikin klarifikasi minta maaf, selesai deh. Jangan ya jangan gitu! Itu namanya ngasih keenakan buat pelaku.” “Kamu sama orangtua kamu, harus laporin si Devin sama si Clara ke pihak yang berwajib! Karena apa yang udah mereka lakuin ke kamu itu bener-bener jahat banget!” “Iya Gerald. Kamu harus laporin mereka, karena perbuatan mereka nggak bisa dimaafin gitu aja.” “Iya Kak.” balas Gerald dengan penuh senyuman. “Aku sama orangtua aku emang udah setuju, buat ngelaporin mereka ke pihak yang berwajib. Karena jujur, aku sama orangtua aku ngerasa sakit hati banget, sama perbuatan jahat yang udah Devin sama Clara lakuin ke aku.” “Bagus Gerald, itu baru namanya Anak yang bener-bener paham pendidikan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN